Selamat Nataru, Dear
Natal dan tahun baru memang bukanlah momen khas kita. Tapi, ada suasana tersendiri saat sebagian orang lain merayakannya. Saya sendiri membayangkan bahwa momen Natal dan tahun baru mewakili musim dingin, suasana sepi, kadang salju, kadang juga hujan deras disertai angin. Kadang ia juga mewakili ketidaksengajaan dan ketidakpastian. Yang jelas, itu semua, dominan bukan karena natal atau tahun barunya, melainkan karena ia terletak di akhir tahun. Hanya menghitung hari sampai tahun berganti.
Tahun Maymun memang biasanya penuh dengan pasang surut dan liku-liku. Namun melalui itu semua, kamu bisa tetap kuat, ulet, dan berani. Kamu sudah menghadapi setiap tantangan secara langsung dan tidak pernah goyah dalam tekadmu untuk mengatasinya.
Dear, percayalah, atau terserah kamu juga mau percaya atau tidak, bahwa, menulis, berkomunikasi dengan tulisan, terkadang mudah, juga seringkali sulit.
Sungguh.
Terkadang, menulis sesuatu, untuk seseorang, bukan karena agar ia membacanya, melainkan, ...... supaya ada beberapa bagian, sebagian potongan, dari dalam diri ini, yang lepas. Layaknya meditasi yang dapat melepas kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, juga keraguan.
Bahkan, ada mungkin yang tidak bisa hanya dilepas dengan diamnya meditasi, tetapi bisa dilepas dengan menulis. Ya, menulis dalam taraf tertentu, merupakan meditasi aktif.
Mungkin, kamu, dulu, atau sekarang masih tetapi hanya di saat-saat tertentu, adalah seseorang yang penuh gairah, bersemangat, periang, hangat, tapi, ah ...... sudahlah ...... saya pun bahkan tidak sanggup melanjutkan tulisan ini.
Menulis kadang sesulit ini, bukan, Dear?
Hanya saja, entah kenapa, saya percaya, tidak lama lagi, saat-saat itu akan tiba. Kamu mungkin saja terkejut dengan kenyataannya. Itu saja.
Tetap jadi batu karang, Dear?
Batu karang yang tak pernah lelah
Menjadi saksi sejarah panjang
Melihat perubahan yang terjadi
Di sekitar tempat ia berdiri
Bersandar di atas tanah yang keras
Ia tak pernah tergoyah
Meski angin bertiup kencang
Dan hujan turun dengan deras
Ia tetap teguh di tempatnya
Menjadi penghubung antara langit dan bumi
Menjadi tempat berteduh bagi yang lelah
Dan menjadi penyemangat bagi yang merindukan kebebasan
Batu karang, kau abadi dalam waktu
Tak pernah merasa lelah atau jemu
Terus bertahan di sini, menjadi saksi
Sejarah yang tak pernah berakhir
Semoga kau selalu terjaga
Dan terus menjadi pelindung bagi kita semua
Batu karang, abadi dalam segala waktu
Hingga keabadian yang tak terbatas.
Tetap jadi batu karang, Dear?
Di hadapan batu karang
Duduk ku seorang
Mengaguminya dan indahnya laut
Yang bergelora di depan mata
Tatkala mentari terbenam
Di ufuk barat yang jauh
Suasana sunyi menderu
Buat kali pertama ku lihat deru campur debu
Dari batu karang keluar tetesan air
Berpeganglah pada hakikat
Tetap jadi batu karang, Dear?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar