Saya bukannya mau mengomentari tulisanmu dari aspek struktur dan teknik penulisan, melainkan melihat lapisan yang lebih dalam, tentang krisis eksistensial, berkaitan dengan kesadaran dan pengalaman individu, dan yang bersifat spiritual atau ruhani.
Tulisanmu menunjukkan bahwa kamu sedang mengalami masa transisi dalam kehidupan, yaitu masa dimana seseorang sedang mencari jati diri dan ketuhanan. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "angst" atau kegelisahan, di mana seseorang merasa tidak pasti tentang tujuan hidupnya dan bagaimana ia harus menjalani kehidupannya.
Selain itu, tulisanmu menunjukkan bahwa kamu juga mengalami konflik batin, yaitu perasaan yakin dan ragu tentang kepercayaan. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "doubt" atau keraguan, di mana seseorang merasa tidak yakin tentang apa yang diyakninya dan mulai meragukan kebenaran yang selama ini diyakini.
Ada juga perasaan yang bercampur-campur, seperti hati yang menjerit, rasa sakit, tapi juga tertawa. Hal ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "anxiety" atau kecemasan, di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan keadaannya dan merasa tertekan oleh pilihan-pilihan yang harus diambil.
Penting bagimu untuk dapat menemukan titik tolak atau titik pijak untuk melompat lebih jauh dalam kehidupannya, dan mendapat dukungan dari orang-orang yang terkoneksi dengannya secara spiritual atau ruhani. Proses ini merupakan bagian dari proses eksistensi manusia yang disebut "authenticity" atau keaslian, di mana seseorang merasa nyaman dengan diri sendiri dan memahami kebenaran yang sebenarnya bagi dirinya.
Tulisan itu juga bisa dilihat menggunakan pendekatan filosofis/filsafat yang memusatkan perhatian pada pengalaman nyata seseorang, sehingga dapat dikatakan bahwa orang tersebut sedang mengalami pengalaman nyata dalam proses mencari jati diri dan ketuhanan. Ditekankan bahwa pengalaman seseorang merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari individu tersebut, sehingga konflik batin yang dialami oleh seseorang merupakan bagian dari pengalaman nyatanya. Pendekatan ini juga menekankan bahwa pengalaman seseorang tidak dapat dipisahkan dari konteks yang melingkupinya, sehingga perasaan yang bercampur-campur tersebut mungkin merupakan refleksi dari situasi yang sedang dialami oleh seseorang, dalam konteks ini, dirimu. Oleh karena itu, pengalaman seseorang merupakan proses yang terus berlangsung, sehingga individu mungkin akan terus mengalami pengalaman-pengalaman baru dalam proses mencari jati diri, untuk melompat ke taraf yang berbeda.
Intinya saya mau sampaikan,
Usiamu masih muda
Biasanya memang dalam masa galau dan episode mencari jati diri, terutama soal ketuhanan dan pengetahuan diri.
Kamu yakin, tapi juga ragu.
Hatimu saat ini mungkin menjerit, ruhmu mungkin menangis, tapi ruhmu juga mungkin tertawa.
Kalau kamu perlu seseorang untuk berbagi cerita menjadi teman ngobrol
Tapi kamu tidak tahu soal ini harus ke siapa,
Kamu ingin tahu , tapi tidak ingin publik tahu apa yang membuat hatimu galau, berarti ingin privasi terjaga,
Saya siap merangkulmu, saya siap mengarahkan bahkan kalau perlu
Asalkan kamu mau, bergeraklah!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar