Kepada yang pernah berjasa
Salam keajaiban
Tadi malam itu, saya kan barengi sahabat saya di lokasi jualan. Saya barengi sampai selesai, sampai pulang lah. Sahabat saya yang saya barengi itu, kalau ikut lomba penataan, kayaknya kandidat kuat juara 1. Gimana ndak gitu, kalau urusan beres-beres, bersih-bersih, rapi-rapi, top banget dah. Saya jadi ingat sama kamu. Itu satu.
Selain itu, kami juga ngobrol-ngobrol, ada beberapa lah. Cuma di tulisan ini, saya mau berbagi soal kisah salah seorang ulama' yang diceritakan oleh sahabat saya itu, namanya Muhammad Ismail al-Bukhari, Ulama Hadits terkenal itu yang nulis kitab Shahih Bukhari, atau di dalam riwayat lain yang saya terima, ulama yang dikisahkan itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Ulama Hadits juga, dikenal sebagai pendiri Madzhab Hanbali juga. Yang inti dari cerita itu adalah, Alim tersebut tiba-tiba ingin sekali pergi ke suatu kota, dan akhirnya diketahui bahwa keinginan yang tiba-tiba muncul itu disebabkan oleh doa yang terus-menerus dipanjatkan oleh seorang penjual Roti yang ingin sekali bertemu dengan beliau. Kata kuncinya di sini salah satunya adalah keajaiban.
Jadi, ada dua kata kunci di surat ini, pertama kamu, kedua keajaiban.
Nah, dalam perjalanan pulang, kan masih ada sisa gerimis tuh. Secara, di atas motor, ada sisa gerimis, di jalan banyak genangan, muncul dong ingatan soal kenangan. Bukan kenangan soal mantan tapi ya. Kamu kan bukan mantan saya. Kamu kan saya anggap "alumni". Ngomong-ngomong, kapan nih kita bisa reuni? Skip dulu ya.
Kita kembali ke dua kata kunci tadi.
Kalau diingat-ingat, lima sampai tiga tahun lalu, mungkin saya termasuk manusia yang paling cuek ya di hidup kamu. Cuek bebek kayak es batu. Eh, tunggu bentar. Bebek kan unggas, kok nyampe ke es batu? Garing ya? Ya intinya itu dah.
Sambil ngingat itu, dan untungnya saya ndak pernah hapus pesan, saya cari tuh pesan-pesanmu di tahun-tahun segitu. Saat kamu sering nanya-nanya, dari nanya tugas sampai remeh-temeh. Kalau dipikir-pikir, kamu lumayan perhatian juga ya ke saya. Cuma ya kok saya dulu kurang peka, atau ndak peka sama sekali. Saya bahkan curiga, jangan-jangan pas dulu kamu sering curhat juga ke saya, entah lewat pesan elektronik atau pas ketemu di warung kopi, respon saya terlalu datar. Jadinya kurang menarik.
Kayaknya dulu itu, selain mungkin karena saya terlihat cerdas nan pintar, ndak ada lagi kelebihan yang tampak. Sudah rambutnya gondrong jarang disisir, kurang peduli juga sama penampilan. Kalau sekarang kan sudah agak beda.
Saya juga, entah buruk sangka atau baik sangka ini, bisa saja pas kamu dapat respons yang datar gitu saja dari saya, kamu sempat berdoa buat saya. Siapa yang tau kan, kalau keajaiban-keajaiban yang saya alami sekarang, sebagiannya berasal dari doa kamu yang dulu, yang baru terkabul sekarang.
Doa penjual roti saja bisa membuat seorang 'Alim tiba-tiba ingin pergi ke suatu kota. Dan, kalau benar kamu sempat berdoa buat saya, dan baru terkabul sekarang, berarti bisa dong saya berdoa sekarang, biar kapan-kapan bisa ketemu sama kamu lagi.
Pokoknya terima kasih banyak atas jasa-jasamu yang dulu. Beruntung sempat ketemu sama kamu. Semoga kita bisa ketemu lagi. Sudah itu dulu sementara sekarang. Besok-besok sambung lagi. Tunggu saja keajaiban datang ke kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar