---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 13 September 2022

Pertimbangkan 3 Hal Ini Jika Mau Lanjut Studi S2

 Pertimbangkan 3 Hal Ini Jika Mau Lanjut Studi S2


PEMBUKA

Tulisan ini sebetulnya sudah lama ingin saya tulis dan publikasikan di blog pribadi saya, tapi baru sempat sekarang.


Sebagian mahasiswa S1 tentu ada yang punya rencana untuk lanjut studi S2. Entah alasannya apa, entah pertimbangannya apa, tiap orang berbeda-beda.


Yang pasti, "medan"nya beda. Seperti antara sekolah menengah yang berbeda dengan jenjang strata satu, "medan" S1 dengan S2 jelas berbeda. Karena mereka yang masih kuliah S1 atau yang mau kuliah S2 belum kenal dengan medannya, maka saya merasa perlu membagikan wawasan dan saran, supaya paling tidak, lebih punya persiapan untuk lanjut S2.



PEMBAHASAN UTAMA

Banyak sebetulnya yang bisa dipertimbangkan jika mau lanjut S2, tetapi bagi saya yang paling utama adalah mempertimbangkan 3 hal ini:


1. RENCANA KARIER 

Kita perlu mengetahui tentang profil lulusan sebuah proses pendidikan apabila hendak menempuhnya. Hal ini perlu menjadi orientasi yang tepat. Apabila orientasinya tidak tepat, maka akan terjadi disorientasi dan itu amat sangat fatal menurut saya. Jika seseorang disorientasi sejak dari sebelum menempuh proses pendidikan sampai saat menempuhnya, maka ia akan kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidupnya, mulai dari kesempatan, waktu, tenaga, uang, dan seterusnya. Mungkin bisa hal itu menjadi pelajaran berharga baginya. Hanya saja, menurut saya, masih lebih baik ketika kita terlebih dahulu belajar dari kegagalan dan kesuksesan orang lain, daripada ketika kita belajar dari mengalaminya sendiri. Entah kalau ada orang lain yang berkebalikan dari itu ya silakan saja.


Profil lulusan S2 bisa dibilang tidak ada yang memuat praktisi atau teknisi. S2 Pendidikan, misalnya, tidak menghasilkan atau mencetak guru, atau praktisi pendidikan di sekolah atau madrasah. Kalau ada lulusan S1 fakultas pendidikan dan keguruan lanjut S2 pendidikan karena ingin menjadi guru, ini menurut saya orientasinya kurang tepat. Jika ingin menjadi guru yang lebih profesional, bukan S2 pendidikan, tetapi PPG. Profil lulusan S2 Pendidikan, antara lain: Akademisi Pendidikan, Peneliti Pendidikan, Konsultan Pendidikan. Kalau ada lulusan S1 Pendidikan lanjut studi S2 Pendidikan karena ingin meningkatkan kompetensi penelitian pendidikan, punya rencana karier menjadi peneliti pendidikan, maka inilah orientasi yang tepat. 


Sebetulnya, untuk orientasi itu ada program saat seseorang baru masuk kuliah, yaitu program orientasi dan matrikulasi. Dan penyelenggara yaitu pihak kampus, membuka kesempatan bagi mahasiswa baru itu untuk bertanya. Hanya saja, namanya mahasiswa baru, belum tentu tidak mau bertanya, bukannya tidak punya pertanyaan, tapi seringkali tidak tau mau bertanya apa dan bagaimana bertanyanya. Sehingga tidak sedikit mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa S2, berdasarkan pengamatan saya, mengalami disorientasi.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi tidak punya rencana karier salah satu dari ketika profil lulusan yang saya sebut itu, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


2. MENTAL

Urusan mental ini bagi saya di dalam proses pendidikan S2 punya porsi yang cukup besar. Mungkin sebagian orang hanya memandang bahwa kuliah S2 tidak seperti kuliah S1. Masuknya rata-rata hanya 2 hari dalam sepekan, tidak seperti S1 yang bisa 5 hari dalam sepekan, mata kuliahnya tidak sebanyak S1, tidak perlu ada PPL dan KKN.


Akan tetapi, di sisi lain, jelas beban atau bobotnya tentu lebih berat daripada S1. Tugas mata kuliah lebih sedikit yang berkelompok, hampir semuanya dikerjakan secara individu. Tuntutan penguasaan bahasa internasional seperti Inggris (dan Arab jika di PTKIN) tentu lebih daripada S1. Serta beban dan bobot lainnya.


Selain itu, berdasarkan pengamatan saya, faktor usia juga berpengaruh kaitannya terhadap mental ini. Sepengamatan saya, mahasiswa S2 yang usianya lebih tua, pokoknya bukan baru lulus atau fresh graduate, atau bahkan yang usianya lebih dari 30 tahun, cenderung tampak lebih siap secara mental daripada yang baru lulus S1 langsung lanjut studi S2.


Masih terkait dengan soal mental ini, saya ingin berbagi bayangan. Coba bayangkan, meskipun kuliahnya hanya hari Jumat (siang) dan Sabtu saja, tetapi dari Hari Senin (pagi-sore) sampai Jumat (pagi) kerja, berada di sekolah (guru), malamnya mengoreksi tugas peserta didik atau memasukkan nilai rapor, apalagi sudah berkeluarga dan punya anak (bahkan mungkin anaknya lebih dari satu), maka kapan waktu untuk mengerjakan tugas kuliah S2? Jelas waktunya makin terbatas. Dan ini tentu berpengaruh terhadap kaitannya soal mental.


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara mental, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


3. FINANSIAL

Urusan biaya, tentu kuliah S2 lebih mahal daripada kuliah S1. Apalagi, sistemnya biasanya berbeda. Kalau S1 itu UKT, kalau S2 itu SPP. Kalau sistem UKT, nyaris semua biaya sudah termasuk di dalamnya. Kalau SPP, berarti masih ada biaya yang tidak termasuk di dalamnya. Orientasi dan matrikulasi bayar lagi, Sempro bayar lagi, ujian atau sidang bayar lagi. Kalau ditaksir bisa lah dikatakan bahwa kuliah S2 itu biayanya 2 kali lipat dibandingkan dengan biaya kuliah S1.


Kalau tidak betul-betul siap secara finansial, bukannya hanya pusing urusan pengerjaan tugas kuliah, malah juga pusing soal pembayaran biayanya. Mahasiswa S1 saja ada yang sampai bingung cari pinjaman untuk bayar UKT, entah dia sendiri atau orang tuanya, apalagi jika ia menghadapi persoalan biaya kuliah S2. 


Jadi, kalau pembaca adalah mahasiswa S1 atau lulus dari S1, tapi merasa kurang siap secara finansial, sebaiknya pikir-pikir lagi saja.


PENUTUP

Mungkin saja ada di antara pembaca yang kemudian muncul kesan bahwa saya menakut-nakuti pembaca. Pada dasarnya, saya bukannya mau membuat pembaca "takut", melainkan mau membuat pembaca "waspada" atau betul-betul siap apabila sudah berada di medan kuliah S2.


Saya pada dasarnya cenderung realistis saja sih. Saya bukan seperti "motivator" yang cenderung mendorong orang lain untuk melakukan atau melanjutkan sesuatu, tanpa peduli dengan posisi, situasi, dan kondisi orang lain tersebut. 


Sebab, ada sebagian orang yang sekedar mendorong secara verbal saja, tidak disertai dengan bantuan konkret. Kalau misalnya ada kakak tingkat, senior, dosen, atau siapapun yang mendorong seseorang untuk lanjut studi S2, memangnya mereka juga akan mendampingi secara mental, akan terus mengarahkan, akan membantu bayar biaya kuliah S2? Kan belum tentu. Kecuali dorongan tersebut datang dari orang tua, atau pihak siapapun yang juga siap membantu urusan bayar biaya kuliah S2, mendampingi secara mental, membantu mengarahkan, oke saja. Intinya, keputusan soal apapun, termasuk untuk lanjut studi S2, kenali medannya terlebih dahulu, pertimbangkan baik-baik.

1 komentar: