Sanad Keilmuan: Akademik, Strategis, dan Kebatinan
Salah satu yang perlu diingat adalah bahwa ilmu itu harus ada gurunya. Baik itu ilmu akademik, strategis, apalagi kebatinan.
Jika suatu ilmu tidak dibimbing oleh guru, maka bisa sangat berbahaya sekali. Kalau kemudian ilmu itu lepas kendali, ia bisa menyakiti orang yang memfungsikannya, dan juga bisa menyakiti orang lain, entah keluarga, teman, atau masyarakat yang lebih luas.
Suatu ilmu, baik akademik, strategis, apalagi kebatinan, tidak sembarangan dibangun, disusun, dan diciptakan. Tentunya ilmu akademik, ilmu strategis, apalagi ilmu kebatinan, dibangun, disusun, dan diciptakan, dengan segenap upaya olah pikir, olah rasa, olah cipta, olah karsa.
Ilmu akademik, ilmu strategis, ilmu kebatinan, tentu ditemukan atau diciptakan oleh orang yang punya otoritas yang diakui, pengalaman yang kaya, latihan yang panjang. Hal itu juga dibarengi dengan pikiran yang jernih, analisis yang matang, dan hati atau perasaan yang tulus.
Selain itu, sebuah ilmu, sepengamatan dan sepengalaman saya, tidak akan turun secara sempurna dari guru kepada murid, apabila murid tersebut, entah satu orang atau banyak orang, merupakan sembarang orang. Hanya murid pilihan, yang terpilih saja, yang akan dituruni ilmu-ilmu tersebut, karena si murid betul-betul layak, patut, pantas, menerimanya.
Di situlah pentingnya untuk terhubung, terkoneksi, antara murid dengan guru yang membangun, menyusun, menciptakan sebuah ilmu, atau guru yang membawa, memiliki, menyimpan, ilmu tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar