Untuk alumni saya
Dari saya, sekolahmu
Pernahkah kamu merasa bahwa aroma, dan suasana, dari sudut sekolah, itu mirip-mirip, bahkan nyaris sama? Jika tidak atau belum pernah, maka lupakan saja, abaikan saja. Jika pernah, beberapa kali, atau sering, atau bahkan hampir setiap hari, maka itu berarti saya tidak sendirian.
Ya, memang saya jarang sendirian, apabila itu berkaitan dengan kamu. Hampir sulit menemukan sesuatu, entah ingatan atau apalah itu, yang hanya saya, orang yang memiliki atau mengalaminya. Kita, maksud saya adalah kamu dan saya, hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama, hanya berdua saja. Kebersamaan kita yang hanya berdua saja, dan itu terekam, sepertinya hanya berjumlah satu saja, saat tiba-tiba muncul inisiatif untuk ambil gambar bersama.
Selain kamu dan saya seringnya menghabiskan waktu dengan teman-teman lainnya, kebersamaan kamu dan saya, bukan dipenuhi oleh kepastian-kepastian dan kejelasan-kejelasan yang sudah terjadwal, melainkan dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan dan kebetulan-kebetulan.
Sekolah, dan peserta didiknya, bersifat akademik, ilmiah atau saintifik, sekaligus sendu, sedu sedan, haru, dan melankolis. Bagaimanapun sulitnya mata pelajaran dan konflik antar individu, tetap akan menyisakan romantisme-romantisme, seromantik narasi heroik prosa atau puitis yang berasal dari sastra Abad Pertengahan dan Romantik, atau revolusioner romantik dengan kegetiran skala besar seperti seratus bunga mekar yang melompat jauh ke depan.
Sekolah adalah tempat terjadinya peristiwa-peristiwa, dimana para pelakunya mengaku rindu, tapi enggan kembali bertemu. Entah kamu atau saya yang lebih mirip sekolah. Tapi, mungkin yang lebih mirip sekolah itu saya, kamu peserta didiknya. Meski begitu, saya lah yang mungkin lebih banyak mendapatkan pelajaran dari kamu. Dan ya, kamu sudah lama lulus, sekarang jadi alumni. Jadi alumni saya, sekolahmu.
Karena saya adalah sekolahmu, bukan rumahmu, saya memang tempat untuk kamu belajar, bukan tempat kamu untuk pulang. Bisa belajar bareng, tapi tidak bisa pulang ke rumah yang sama. Bisa terhubung, tapi tidak bisa terikat dengan perjanjian hidup yang sama. Bisa bertemu, tapi tidak bisa bersatu. Saya bukan rumah, adalah sekolah, yang pernah, untuk singgah.
Terkadang dalam pelepasan, pisah kenang, ada pelajaran-pelajaran perih yang mesti dilakukan untuk jadi dewasa. Kelulusan, mungkin adalah salah satu perpisahan yang dirayakan. Termasuk kelulusanmu, yang berarti saya berpisah dengan kamu, malah saya merayakannya. Barangkali, itulah kedewasaan, kedewasaan adalah bersukacita merayakan perpisahan karena kelulusan. Kamu adalah kata benda, sekaligus kata kerja, juga kata sifat, yang berarti semakin jauh. Selamat, ya, alumni. Setelah ini hanya ada kelanjutan-kelanjutan, dari perjalanan, dari petualangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar