Bagi orang-orang (umumnya mahasiswa, termasuk saya), hampir bisa dipastikan, ketika membaca buku pengantar filsafat, atau (pernah/sedang) aktif dalam kegiatan forum kajian filsafat, atau (pernah/sedang) aktif dalam study club filsafat, akan bertemu dengan pembahasan tentang awal mula kemunculan gerakan filsafat Yunani Kuno. Awal kemunculan tersebut diistilahkan dengan demitologisasi, yaitu jalan yang mengarah dari mitos menuju ilmu, melalui sastra dan filsafat.
Disebutkan oleh K. Bertens, setidaknya ada tiga faktor yang mendahului lahirnya filsafat: 1. Berkembangnya mite-mite atau mitologi yang cukup luas di kalangan bangsa Yunani; 2. Kesusasteraan Yunani, seperti karya puisi Homerus yang berjudul Ilias dan Odyssea mempunyai kedudukan yang istimewa dalam karya sastra Yunani; 3. Pengaruh Timur Kuno seperti Mesir dan Babylonia yang sudah mengenal ilmu hitung dan ilmu ukur. Tiga faktor tersebut ada penjelasannya, namun karena saya hanya akan menulis sekadarnya saja, saya akan cukup menyebutkannya saja.
Yang jadi persoalan dan menimbulkan kegelisahan bagi saya pribadi adalah, para pembelajar pemula, sebagian, atau malah sebagian besar, sangat terpengaruh dengan kecenderungan pemikiran modern, yang cenderung menganggap bahwa dalam pengertian modern, mitos adalah kepercayaan yang keliru. Atau dengan kata lain, mitos sama dengan tidak benar, sama dengan salah. Logika yang terbangun lebih lanjut kemudian dapat menjadi, mitos pasti salah. Akhirnya, berarti, mitos tidak dapat dipercaya sama sekali.
Apa iya seperti itu?
Apa betul mitos tidak dapat dipercaya sama sekali?
Apa mitos pasti tidak benar?
Apa mitos pasti tidak nyata?
Menurut saya pribadi, tidak seperti itu
Jika tertarik mendiskusikannya, silakan hubungi saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar