---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 04 Januari 2022

Kepada Yang Menggetarkan Jantung

 Kepada Yang Menggetarkan Jantung

Salam Rasa


Terima kasih sudah mengangkat telpon saya. Mohon maaf sebelumnya, apabila kamu kaget, terkejut, heran, atau sejenisnya, dengan ucapan, tindakan, dan sikap saya.


Seperti yang kamu tau, dari awal, saya tidak ada niatan untuk ada urusan pribadi denganmu. Seperti biasa saya lakukan dengan teman-teman saya, saya terbiasa membicarakan tentang akademik dan karier, kadang-kadang membicarakan tentang hal-hal yang sifatnya strategis. Jadi, memang hanya itu niat saya di awal.


Mungkin kamu masih ingat, atau bahkan kemungkinan besar justru lupa ya. Saya pertama kali dengar namamu, dapat nomermu, dan momen-momen pertama lainnya. Nah, setelah itu, saya sempat tanya-tanya, dan pembicaraannya memang murni cuma soal akademik, organisasi, dan hal lainnya selayaknya apa yang ada di kehidupan orang-orang usia dua puluhan. 


Makanya, kalau ditanya, entah olehmu atau orang lain, gimana ceritanya kok sampai seperti sekarang, maka saya mau jawab kalau memang alurnya aneh. Aneh karena memang jarang terjadi, jarang sekali. Pertemuan saya denganmu, juga, saya tidak menyangka apa-apa yang lebih sebelumnya. Kenapa tiba-tiba saat saya bertemu denganmu, mulai dari jabat tangan, duduk berdekatan, sampai kamu pamit pulang, ada 'getaran', beda sekali dari biasanya, dan getaran itu, terakhir kali muncul, sudah agak lama seingat saya.


Seingat saya, getaran itu, sekitar setahun, atau dua tahun, terakhir kali muncul. Dan munculnya itu, sebelum yang sekarang, baru muncul ketika sudah agak lama, di pertemuan ke sekian kalinya. Bukan seperti yang sekarang ketika getaran itu muncul di saat pertemuan pertama. Aneh tapi sekaligus mungkin tidak aneh juga alias wajar saja. Aneh karena peristiwa itu adalah kejadian yang bisa dibilang nyaris langka. Bagaimana tidak, masih pertemuan pertama bisa memunculkan getaran. Padahal biasanya getaran itu baru muncul setelah pertemuan yang ke sekian kali. Sempat terpikirkan bahwa getaran itu pasti berasal dari sesuatu yang istimewa, yang luar biasa. Di situlah yang saya sebut sebagai hal yang tidak aneh atau wajar. Meskipun kamu sendiri, dan beberapa orang, merasa, bahwa biasa saja, tidak ada yang istimewa, tapi sebagian orang lainnya, menuturkan bahwa ada keistimewaan darimu, meski mereka tidak bisa menggambarkan dan menjelaskan persisnya seperti apa. Yang jelas begitu.


Saya tentu pernah merasakan penyesalan dan kehilangan. Salah satunya, dalam hal ini, menyesal kehilangan kesempatan, menyesal karena kurang menghargai kesempatan, untuk mengucapkan, atau melakukan tindakan, menghargai kesempatan karena sudah diberi anugerah bertemu dengan beberapa orang. Oleh karenanya, saya hanya tidak mau kehilangan kesempatan itu untuk ke sekian kalinya, sekarang. Mungkin kamu juga pernah merasa menyesal atas kehilangan kesempatan bersama seseorang atau beberapa orang. Seperti itu kurang lebih, kira-kira. Makanya saya harap kamu bisa memakluminya.


Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih banyak, atas getarannya. Saya tidak tau, entah bagaimana selanjutnya, setelah ini. Yang jelas, untuk sekarang, saat ini, getaran itu sangat berharga, berharga sekali, karena kelangkaannya. Mohon maaf juga, sekali lagi, kalau kamu merasa terganggu dengan ucapan, tindakan, atau sikap saya. Saya tidak bermaksud demikian. Harap dimaklumi.


Januari 2022

M.Q.A.



1 komentar: