AKTIF BERPIKIR, TIDAK HANYA PASIF MENDENGARKAN
Muhammad Fahmi Arrojabi
Sekitar dua setengah tahun silam, aku melakukan percakapan dengan salah satu senior. Aku lupa siapa persisnya seniorku itu dan dimana percakapan itu terjadi. Yang pasti, percakapan itu terjadi melalui tatap muka, bukan melalui aplikasi pesan singkat.
Kami membahas banyak topik dalam percakapan tersebut. Sampai tibalah, entah bagaimana ceritanya, pembahasannya adalah tentang seniorku yang lain, namanya Aynan. Nama lengkapnya Muhammad Qurrotul Aynan, selanjutnya aku tulis inisialnya saja, MQA. Senior yang bercakap-cakap mengatakan padaku bahwa MQA adalah orang pintar, namun dia sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan orang lain akan suatu hal.
Menyikapi itu, aku tidak langsung percaya pada saat itu. Aku ingin membuktikannya sendiri sebab yang aku pahami, Tuhan menciptakan kedua mata di depan dan kedua telinga di samping kanan dan kiri menunjukkan bahwa seorang manusia harus mendahulukan penglihatan akan kebenaran (membuktikannya sendiri) dari pada mendengarkannya dari orang lain.
Sebetulnya, aku sudah lama mendengar nama MQA dan beberapa kali bertemu, baik di jalan maupun di acara-acara organisasi. Akan tetapi, baru selama setahun belakangan ini aku akrab dengannya. Sampai akhirnya pada acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) perdana Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (R-FTIK) Komisariat IAIN JEMBER beberapa waktu lalu aku sudah mendapatkan kebenaran berdasarkan pengamatanku sendiri.
MQA tidak seperti apa yang seniorku, atau mungkin orang lain juga, katakan. Aku akui bahwa menurut standarku, ia sangat idealis meskipun di sisi lain, idealisme tidak betul-betul ada di dunia. Setidaknya, MQA sangat dekat dengan idealisme, hampir layak disebut idealis sejati. Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa dalam suatu forum apapun itu bentuknya, ia sangat tidak suka sama sekali akan forum diskusi yang beraroma pengajian yang di dalamnya terdapat pemateri atau pembicara dan pendengar.
Di dalam forum tersebut, menurut MQA, pendengar yang hanya bisa mendengarkan apa yang pembicara sampaikan sehingga komunikasi cenderung terjadi satu arah atau dengan kata lain, kurang interaktif . Dia pada dasarnya bukannya tidak bisa atau sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan kepada orang lain akan suatu hal (pengetahuan). Ia hanya ingin mengajak lawan bicaranya untuk juga berpikir, bukan hanya sebagai penerima saja. Tak jarang ia menjelaskan istilah yang sulit dipahami para pemula sambil dicari padanan kata populernya, sehingga menurutku itu merupakan ajakan kepada si lawan bicara agar juga berpikir aktif, tidak hanya pendengar pasif.
Setelah aku tanya kepada yang bersangkutan bagaimana sikap tersebut terbentuk, ia menjawab bahwa jika dirunut, salah satunya mugkin adalah bentukan sejak kecil. MQA kecil ketika bertanya tentang suatu istilah yang ia tidak pahami kepada bapaknya, bapaknya tidak memberitahunya tetapi memberikan kamus yang isinya terjemah kata, persamaan kata, dan tesaurus, agar MQA kecil dapat mencarinya sendiri.
Selain melatih kemandirian belajar, menurutnya mencari istilah di kamus tidak hanya akan membawa pembaca kepada istilah yang dicarinya tetapi juga paling tidak kepada istilah yang beradadi halaman yang sama di kamus. Aku menarik kesimpulan bahwa sikapnya yang sedemikian rupa merupakan pantulan dari bagaimana cara bapaknya mendidiknya.
Benar kata pepatah, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, kecuali jatuhnya ke sungai, hahaha. Kesimpulan lainnya adalah, dia bukannya sulit untuk memahamkan orang lain akan suatu hal, hanya saja menurut hematku si lawan bicaranya lah yang kurang asupan ilmu hingga sulit untuk memahaminya padahal tujuannya untuk mengajak lawan bicaranya agar ikut aktif berpikir dan banyak membaca, bukan hanya pasif mendengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar