M. Q. Aynan
Secara bahasa, evolusi berarti “perubahan”. Berasal dari kata evolve yang atinya “berkembang secara perlahan-lahan”. Karena perkembangannya perlahan, maka perubahannya tidak dapat diamati dalam 1 atau 2 tahun saja, tetapi 3, 4 tahun, dan seterusnya. Baru ketika pengamatan dilakukan dalam waktu yang cukup lama, perubahan tersebut bisa terlihat.
Jika dunia pengkaderan diamati dengan segala peralihannya, pola pikir individu dan budaya kelompok dalam pengkaderan mengalami evolusi. Evolusi tersebut dapat menyebabkan proses seleksi yang pada akhirnya menghasilkan para kader yang benar-benar terpilih.
Jika ada suatu proposisi yang dapat diajukan, maka proposisi tersebut kurang lebih berbunyi, yang bisa bertahan dan terpilih dalam gelombang peralihan bukan mereka yang perkasa atau punya kuasa, tapi mereka yang mampu beradaptasi. Orang-orang yang secara jumlah kecil yang tidak memiliki kuasa dan membawa massa justru yang paling mudah beradaptasi karena mereka yang tidak punya pertaruhan kuasa.
Pernyataan tersebut saya pikir masih perlu banyak dikaji ulang. Akan tetapi, paling tidak kita dapat memiliki sedikit gambaran mengenai perubahan spesies mahasiswa dan kader serta keterkaitan genealogis antara satu individu dengan individu lain, antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Secara individu, evolusi dialami spesies mahasiswa dan kader yang hidup dan aktif sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa sebelumnya. Selanjutnya, evolusi terjadi melalui seleksi peralihan. Di masa sebelumnya, terdapat banyak kader yang menempuh jalan intelektual. Lama-kelamaan para jumlah intelektual itu tetap namun jumlah wadah aktualisasi semakin sedikit. Situasi tersebut membuat para kader intelektual ini bersaing untuk mendapatkan wadah aktualisasi. Individu yang beradaptasi pada peralihan dengan baik akan mewariskan genealogi unggul kepada generasi selanjutnya. Lebih jauh lagi, sifat unggul ini lama-kelamaan dapat mengubah bentuk dan gaya asli dari spesies sebelumnya, sehingga berevolusi menjadi spesies yang sama sekali berbeda secara mengejutkan.
Secara kelompok, lingkungan mempunyai pengaruh pada ciri dan sifat yang dihasilkan melalui adaptasi lingkungan baru yang mengalami peralihan. Ciri dan sifat yang terbentuk akan diwariskan kepada generasi penerus, secara genealogis. Individu yang sering bergerak akan berkembang dan membesar secara jumlah dan mutu, sementara individu yang jarang bergerak dan aktif akan mengalami penyusutan secara jumlah, atau bahkan menghilang, dan mutunya sulit terjamin.
Ketika suatu kelompok mengalami kegelisahan, mereka cenderung akan mendatangi generasi di masa sebelumnya, seakan-akan sedang terjadi penemuan 'fosil' yang memperlihatkan bahwa spesies mahasiswa dan kader zaman dulu berbeda dengan masa sekarang. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa spesies mahasiswa dan kader yang memiliki adaptasi yang baik terhadap lingkungan masih bertahan dan masih belum punah.
Dengan gambaran semacam itu, maka yang mendesak untuk ditindaklanjuti adalah adaptasi organik secara individu dalam diri sendiri dan usaha adaptasi organik terhadap peralihan lingkungan.
Mantab mas aynan
BalasHapus