---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 15 Desember 2020

Kompleksitas Kaderisasi: Pandemi, Pendadakan Organisasional, dan Kesehatan Mental Kader


Muhammad Qurrotul Aynan

Munculnya pandemi tentu mengejutkan semua orang. Virus Corona menyerang sistem pernafasan manusia, sehingga meningkatkan kemungkinan orang yang tertular mengalami gangguan pernafasan yang secara tidak terduga dapat menyebabkan kematian. Keberadaan Virus Corona telah membuat banyak perubahan, terutama terhadap kelangsungan kaderisasi. Dampak pandemi akan mempengaruhi keadaan psikologis dan perubahan perilaku dalam jangka yang lebih luas dan lebih panjang. Perubahan perilaku meliputi pola hidup sehat, penggunaan teknologi, sistem pendidikan, penggunaan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial beragama.

Persoalan kaderisasi adalah persoalan yang kompleks. Persoalannya akan lebih kompleks jika dihadapkan pada situasi pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak terprediksi. Keadaan seperti itu memberikan pengaruh terhadap organisasi yang dapat disebut sebagai pendadakan organisasional. Tidak ada ahli atau rujukan mengenai istilah ini, hanya pendapat pribadi.

Disebut pendadakan organisasional karena keadaan tersebut menyerang sistem imun dalam tubuh organisasi secara mendadak. Serangannya bersifat cepat, tidak terduga, dan dapat berakibat fatal terhadap imunitas internal. Akibatnya, administrasi dan manajemen bisa saja dijadikan sasaran utama dan bersifat signifikan. Untuk menangani pendadakan tersebut, para fungsionaris tidak bisa tidak, mampu memikirkan berbagai kemungkinan serta segera ambil langkah untuk peristiwa yang akan terjadi di masa sekarang dan masa depan.

Jika diamati, ada kecenderungan melemahnya imun internal organisasi dan gerakan yang disusun secara sporadis. Maka, potensi pendadakan tersebut di tengah situasi pandemi sangat memungkinkan. Berbagai ancaman mungkin saja terjadi seperti konflik, kerusuhan, dan vandalisme. Jika ada provokasi massa untuk melakukan aksi, maka hal itu dapat menjadi indikasi bahwa situasi pandemi rentan terjadi pendadakan.

Tuntutan administrasi dan manajemen bisa dibuat kesempatan untuk mendorong terjadinya konflik horizontal yang diawali dari konflik antar kelompok. Maka dari itu, perlu ada kepastian dari fungsionaris dengan langkah yang serius dan terukur. Bicara kaderisasi adalah bicara sumberdaya manusia. Manusia di situasi pandemi tidak hanya fisiknya yang dapat melemah, tetapi juga dapat terserang dan terganggu kesehatan mentalnya. Sebelum manusianya mengalami gangguan kesehatan mental, perlu ada upaya terapi pencegahan. Jika kesehatan mentalnya sudah terganggu, perlu penanganan yang tepat. 

Ego sektoral hanya akan mempersempit peluang ketahanan internal dan memperlemah imunitas, yang ujungnya adalah tumpulnya otak yang berisi pikiran dan fisik yang menyampul mental yang sehat untuk pemulihan bersama. Jika ego sektoral tersebut masih dipelihara, maka tidak perlu heran apabila nanti terjadi perlepasan pengawalan. Kekompakan antar tingkat lembaga perlu dijamin dan dimusyawarahkan secara mufakat, mengingat situasi ini perlu pemecahan masalah secara bersama-sama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar