---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 26 Desember 2020

Revolusi Mental (Terpelanting; Terpental; Terlempar Kembali)

 

Revolusi Mental (Terpelanting; Terpental; Terlempar Kembali)

Oleh: Tapi Bukan Saya Yang Tidak Nyata dan Tidak Pernah Ada Seperti Susu Sebelanga


Pendahuluan

Izinkan saya melalui tulisan singkat ini menyampaikan pandangan saya menguraikan permasalahan sekitar ini dan menawarkan paradigma baru untuk bersama mengatasinya. Saya bukan ahli politik atau ahli tata kelola pemerintahan. Untuk itu, pandangan ini banyak berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang cukup lama. Oleh karena itu, keterbatasan dalam pandangan ini mohon dihakimi.


Revolusi mental, bukan mental yang huruf e nya seperti kata ekonomi, melainkan dibaca seperti e pada kata selalu. Revolusi mental dalam tulisan ini bukan berarti revolusi watak atau pikiran, melainkan revolusi terpelanting atau terpental, terlempar kembali atau berbalik arah. 


Sebatas Watak


Upaya yang dilaksanakan di lingkungan sekitar saya sebatas melakukan perombakan yang menyentuh paradigma, mentalitas, pikiran, watak. la belum menyentuh budaya politik dan kebiasaan sehari-hari dalam rangka pembenahan agar perubahan benar-benar sia-sia dan tidak bermakna. Kita perlu melakukan revolusi yang mementalkan, melempar kembali mindset yang sudah susah payah disusun.


Aturan-aturan sudah dilaksanakan. Pemilihan umum tiap periode diselenggarakan secara berkala dalam rangka pengelolaan yang demokratis dan akuntabel. Ditambah, kebiasaan atau budaya yang tumbuh subur dan berkembang di alam kondusif sebelumnya masih berlangsung sampai sekarang mulai dari donasi, toleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerelaan. Saya ingin membalik arah sampai menuju sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan verbal dalam memecahkan masalah, pelecehan simbolik, dan sifat oportunis. Kesemuanya ini perlu dimentalkan supaya lebih revolusioner.


Perlu Revolusi yang Terpental


Penggunaan kata revolusi disebabkan kita memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas tuntas-tuntas segala praktik kebiasaan lama. 


Berikut adalah beberapa pilar revolusi yang terpental, di antaranya:


1. Mengonsumsi Kebingungan

Saya sedang menjadi konsumen kebingungan yang serius. Saya akan melahapnya setiap kali saya merasa tidak bahagia, stres, kecewa, cemas. Konsumsi saya tidak ada hubungannya dengan lapar dan haus, tetapi berkaitan dengan mengisi kekosongan emosional saya.


Meskipun konsumsi itu akan menghibur saya, perasaan ini hanya sesaat dan akan hilang segera setelah saya selesai kebingungan. Sebaliknya, yang tersisa adalah kekosongan emosional yang sama yang memicu saya untuk bingung atau stres, setara dengan ribuan kalori dan lemak berlebih dari apa yang seharusnya saya makan dan minum dan kemarahan pada diri sendiri karena mengonsumsi kebingungan.


2. Bergaul dengan penentang

Bukan waktunya baperan, waktunya berperan. Berperan sebagai pendukung celah untuk setiap ide yang orang lain miliki dan setiap tujuan yang ingin orang lain kejar. Saya sudah menjadi salah satu pengkritik yang terbesar, jadi itu tidak membantu ketika ada seseorang di samping saya, saya selalu siap menerkam apa yang orang lain katakan dan menghancurkannya.


Lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang menentang ini dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang tidak mendukung yang berbagi umpan balik kontraproduktif. Anda akan jauh lebih kebingungan dengan cara ini.


3. Tidak menghargai orang lain

Alami situasi ini. Cobalah untuk tidak menyenangkan orang lain. Buat mereka terusik. Mendongak ke depan untuk berada di sana untuk orang-orang. Tarik garis dengan orang-orang yang berbeda.


4. Minum kopi dalam jumlah yang banyak

Penelitian menunjukkan bahwa minum kopi sekitar 6 gelas besar per hari dapat memicu insomnia, lekas marah, gelisah, gugup, atau lemah otot. Minum kopi berlebihan dapat menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Apalagi jika diminum pada waktu yang salah, seperti sore atau malam hari. Akibatnya, seseorang bisa jadi sulit tidur dan bangun dengan tubuh kelelahan. Biasanya hal ini akan menimbulkan sakit kepala, mood jelek, dan perasaan seperti bingung.


5. Banyak menonton, sedikit membaca

Saya berhenti serius membaca buku dan beralih menonton tayangan sejak beberapa waktu lalu dan saya tidak pernah menyesalinya. Seringkali saya akan menyalakan smartphone untuk download atau live streaming untuk melihat apa yang sedang diputar.


Menonton tayangan, terutama drama yang ditulis dengan baik, bisa menjadi cara yang baik untuk melepas lelah. Seakan-akan drama itu sudah seperti hidup saya sendiri. Menghabiskan tiga jam setiap malam untuk menonton tidak akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Berhenti gunakan waktu itu untuk membaca buku, merefleksikan hidup, memperhitungkan, dan mengambil tindakan atas tujuan, dalam rangka terpental, berbalik arah.


6. Berada di dalam hubungan beracun

Teruslah berhubungan dengan lingkaran pertemanan yang berbisa, menghabiskan waktu dengan mereka, atau bahkan menjalin hubungan dengan mereka.


Saya biasa membunuh waktu saya ini untuk tidak mengalami apa-apa selain dikompori berulang kali, saya menyadari bahwa mereka benar-benar membuang-buang waktu saya dan saya pantas mendapatkan yang terbaik, yaitu waktu yang terbuang dan terbunuh.


7. Menunda melaksanakan kewajiban, mengawali menuntut hak

Tuntutlah hak terlebih dahulu, bukan melaksanakan kewajiban lebih dulu, maka hidup ini menjadi sengsara

dikucilkan orang sekitar. Hidup ini menjadi tidak tenang, segala apa pun yang dikerjakan akan menjadi rumit, tambah kompleks. Berorientasi pada hasil yang segera, tanpa proses yang berkala. Buka mulut untuk hak pribadi, tutup mata dan telinga dari hak orang lain.


8. Fokus pada kekurangan

Dalam setiap situasi, ada dua cara untuk bereaksi: perbesar ke area masalah dan bacakan tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan, atau rayakan area yang berjalan baik dan perbaiki semuanya.


Banyak dari kita melihat pentingnya melakukan yang terakhir tetapi dalam praktiknya, kita melakukan yang pertama. Kenapa sih? Mengkritik dan berfokus pada hal-hal negatif itu mudah tetapi tidak memberdayakan atau menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik.


9. Tidur pagi, bangun siang

Tidurlah setelah subuh, bangunlah setelah zhuhur atau ashar. Lakukan tiap hari. Tidak perlu bekerja, tetaplah bermimpi. Orang yang sering tidur pagi atau kurang tidur akan lebih sulit untuk fokus bekerja dan memusatkan perhatian. Hal ini sudah pasti akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas karya. Selain itu, mood atau suasana hati akan mudah berubah. Kurang tidur di malam hari dalam jangka panjang dipercaya dapat menyebabkan perubahan mood, bahkan depresi. Selain itu, bahaya tidur pagi juga bisa membuat emosi seseorang menjadi kurang stabil lantaran kelelahan. Jadi, tak perlu produktif berkarya, jadilah tempramental.


Penutupan

Itu tadi tawaran saya mengenai revolusi mental yang terpental dan terpelanting. Kabar baiknya adalah kita dapat tetap terpental dan terpelanting. Tetaplah melakukannya. Kita akan menemukan hidup yang jauh lebih bingung, gelisah, dan cemas. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar