Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan
"Sampean pernah ikut lomba selama mahasiswa sampe tingkat nasional cak?"
"Kalo ikut lombanya pernah tapi ndak tingkat nasional. Kenapa tanya gitu?"
"Yakan sampean beda, sampean kan pinter. Harusnya sering ikut lomba. Bisa dapat banyak sertifikat sama piala. Bisa mengharumkan nama kampus juga kan."
"Saya dulu juga sempat mikir kayak gitu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya berproses, saya lalu mikir bahwa prestasi ndak selalu ukurannya begitu."
"Dulu ikut lomba apa juara berapa?"
"Lomba nulis. Tapi cuma bisa juara 3. Ini lagi. Saya juga waktu itu sempat kurang puas kok ndak sampe juara 1. Ya, kurangnya di teknis penulisannya. Nyusun kalimat efektif, memperhatikan tanda baca, ejaan, dan pemilihan kata atau diksi."
"Balik lagi ke yang tadi. Terus, menurut sampean, prestasi apa yang sudah sampean capai sampai hari ini selama kuliah?"
"Saya pikir, ada 4. Yang tampak lho ya. Kalau ndak tampak kan banyak. Yang tampak itu: pencapaian reputasi ilmu; duduk dan dipercaya; ndak sering pinjam uang kayak dulu, malah sekarang ada lebihnya; dan ya, kalau bisa dibilang, ada kader sudah yang siap gantikan posisi dan fungsi saya."
"Hmm. Iya sih Cak. Tiap orang punya pencapaiannya masing-masing. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar