Oleh:
Muhammad Qurrotul Aynan
Suatu organisasi pengkaderan dapat bertahan di tengah arus perubahan disebabkan oleh sejauh mana organisasi tersebut giat melakukan pengkaderan. Tentunya, pengkaderan baik secara jumlah maupun mutu. Untuk menjaga mutu tersebut, diperlukan kegiatan pengkaderan yang paling tidak bersifat formal.
Tidak cukup sampai disitu, kegiatan pengkaderan yang fokus pada intelektualisasi sudah ada sebelumnya. Akan tetapi, tidak ditemui dokumen yang menjelaskan bagaimana dinamikanya terjadi, bagaimana timbul dan tenggelamnya.
Proses intelektualisasi dalam hemat saya dapat terjadi dalam jumlah yang banyak entah berpusat pada "kaum elit" atau "arus bawah". Akan tetapi, sepengamatan saya, tingkat kebertahanan proses itu tinggi ketika berpusat pada kaum elitnya. Baru kemudian diikuti oleh yang di bawah.
Saat intelektualisasi berpusat pada kaum elit, seorang atau beberapa pimpinan umum akan menjadikan lingkaran intinya, bukan hanya dalam tata kelola melainkan juga pusat keilmuan sehingga terbentuk jejaring yang polanya tidak sejajar, kurang terikat, tetapi terjadi pertukaran khusus di antara keduanya dimana pimpinan umum menggunakan pengaruhnya untuk menyediakan perlindungan.
Hubungan atau jejaring ini tidak mengutamakan kulit saja atau isi saja, namun kulit dan isinya sekaligus. Yang utama adalah pimpinan umum berkomitmen untuk menjamin lancarnya proses intelektualisasi meski ia atau mereka masih menjalankan praktik sebatas kulit saja, masih belum terlalu menyentuh isi.
Elit intelektual biasanya mendahulukan isi dulu meski kulit masih perlu menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Proses ini dalam perjalanannya membawa hasil yang padat dan bisa tampak bertahan. Penampakan ini nantinya menjadi semacam tren yang cocok dengan kekinian, tidak terlalu berorientasi masa lalu, juga tidak terlalu berorientasi masa depan.
Jejaring yang telah terbentuk tadi dapat mulai menemukan momentumnya dalam jangka waktu beberapa tahun. Jejaring ini selanjutnya melahirkan penerus yang kosmopolit, berwawasan dan pengetahuan luas, bukan wawasan dan pengetahuan sempit dan juga reaksioner. Selain itu, hubungan antarpribadi dari jejaring ini seperti saudara yang lebih tua dan saudara yang lebih muda. Sehingga terbentuk sanad perjuangan yang apabila dilacak terus tersambung melalui persaudaraan intelektual.
Kerukunan atau pulihnya hubungan antara kulit dan isi, antara struktur dan kultur, menjadi bagian yang erat. Menghindari praktik yang hanya membatasi kulit dan struktur, juga meninggalkan praktik yang hanya menekankan isi dan kultur. Praktik pertama akan menimbulkan sifat kaku dan kasar, sedangkan praktik kedua hanya bisa dipraktikkan oleh segelintir elit, padahal tingkat intelektualitas orang beragam.
Jadi, kerukunan atau pulihnya hubungan ini memastikan isi dan kultur tidak berjalan liar, juga memastikan kulit dan struktur tetap terlibat dan ambil bagian dalam aktivisme keseharian. Praktik ini mampu menyesuaikan dengan tantangan perubahan dengan segala dampaknya.
Renungan di acara PKD 2020
Silo,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar