PANGERAN MISTERI BERDARAH CAMPURAN
M. Masyfu’ Zuhdi
Pertemuanku dengannya terbilang unik. Adzan Subuh terdengar dimana-mana, sedang orang-orang di sekitarku masih saja terlena. Terhipnotis ayam berkokok, terbuai janji-janji surga bahkan tenggelam dalam mimpi indah yang entah apa. Pemuda yang sedari tadi duduk di depan pintu tiba-tiba menyapaku dan menanyakan tentang makanan yang tadi ku lahap tanpa tahu siapa pemiliknya. “Punya siapa, apakah masih layak untuk dimakan” tanyanya padaku, awal kalimat secara langsung yang ditujukan padaku, dan ceritaku dimulai dari situ.
Namanya Muhammad Qurrotul Aynan, remaja pendiam dari Bondowoso. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Meskipun lahir di Bondowoso, pendidikan memaksanya untuk hidup lama di luar kota, 6 tahun di Probolinggo dan sudah 4 tahun di Jember. Probolinggo tempat ia nyantri, perkuliahan di Jember tempat dia mengekspresikan hasil pelatihannya selama 6 tahun di Probolinggo.
Penjelasan tentang pengetahuan yang belum diketahui, pelurusan pemahaman yang masih bengkok, atau pengembalian jalan pembahasan yang sudah tak terarah, mungkin itu fungsi dari keberadaannya di antara lingkaran yang tak benar-benar berbentuk lingkaran. Salah satu contohnya dari lingkaran pembahasan pra komisi paradigma yang dia luruskan sendiri, modul PKD yang tebal dan pertanyaan-pertanyaan rapi dan sistematis yang selalu dia lontarkan kepada semua orang.
Mungkin sering berbeda pendapat denganku yang cenderung terlalu _karepe dewe_ di forum, dia lebih memberikan ruang terhadap semua orang untuk berpendapat, dengan catatan waktu yang tidak terlalu mepet dan pendapat yang diajukan tidak terlalu kopong. Aku masih ingat pendapatnya tentang kehidupan yang seharusnya serba realistis, pencarian jodoh yang memper, ketua yang seharusnya pintar, dan kepentingan uang yang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, akhir-akhir ini diketahui anggapannya tidak semua bersangkutan dengan apa yang dilihat dengan mata. Seperti, _amalan_, _hizib_ dan warisan metafisik dari leluhur sebelumnya. Mungkin anggapan yang akhir ini dipengaruhi dari budaya darah, atau pendidikan pesantren sebelumnya.
Ada satu peristiwa menarik. Sekitar satu tahun yang lalu, aku melihatnya memainkan HP di tengah riuhnya diskusi yang tak menemukan tepi, tiba-tiba kata-kata si pendiam itu mendiamkan seluruh anggota yang mengikuti diskusi, dari yang paling populer pengetahuannya sampai yang populer sok tahu segalanya. Aku tercengang dan penasaran, kader seperti dia masih saja dirawat Tuhan di tengah-tengah organisasi yang kian hari semakin rapuh, katanya.
Lebih anehnya, dengan ungkapannya waktu rapat komisi kemarin, “sepertinya saya mulai kurang punya hasrat terhadap lawan jenis”, disini aku mengingat film “imitation game” yang menceritakan penemu mesin Turing atau yang lebih dikenal dengan komputer. Film tersebut menceritakan tentang kepribadian A. Turing yang jenius tetapi cenderung aneh di tengah perkumpulan, ditambah lagi dengan orientasi hasratnya yang cenderung berbeda dengan orang lain. Hal itulah yang menjadi penyebab dia dihukum dengan hukuman yang berbeda pula, melepas semua jasa yang pernah ia lakukan di waktu perang dunia kedua.
Kejeniusan dan kepribadian sahabat saya yang hampir serupa dengan A. Turing ini menyebabkan kecurigaan dalam diri saya, sehingga kemarin saya menemukan jawabannya. Setelah saya amati beberapa bulan ini saya melihat ada perbedaan yang cukup signifikan dari ritual ibadah yang ia lakukan, sehingga saya menyimpulkan keanehan hasrat yang dia alami merupakan efek dari anomali muatan Jasmani dan Rohani yang seharusnya normal. Meskipun saya belum tau jawaban saya benar-benar menjawab atau tidak, akan tetapi sampai saat ini hanya itu yang saya dapatkan dari penyebab keanehan yang dia alami, terlepas dari kelebihan yang dia punya.
Selain teringat pada Alan Turing, yang pernah benar-benar hidup, saya juga teringat pada tokoh fiksi di serial Harry Potter, Severus Snape. Sahabat saya, seperti Snape, adalah seseorang yang serba-ingin-tahu, seringkali bersikap ilmiah, bersikap menguji pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh kebanyakan orang. Tak jarang juga, ia memberikan tips dan rekomendasi berbeda dari yang pernah diberikan oleh orang lain dari “kultur” sebelumnya. Mirip seperti buku ramuan pinjaman bertuliskan “milik Half-Blood Prince” yang ditemukan Harry Potter di kelas ramuan NEWT.
Karakternya adalah karakter yang penuh twist layaknya Snape, susah untuk ditebak. Meski demikian, ia adalah orang yang kesetiaannya tegak lurus. Tidak perlu diragukan lagi, kesetiaannya sudah teruji dengan rekam jejaknya. Bahkan, kendati kenyataan seringkali tidak sesuai dengan harapan.
Selain itu, tanpa orang lain ketahui, ia seringkali yang diam-diam selalu menjadi penyelamat situasi krisis dan buntu. Tak ketinggalan, ia berbakat menjadi pemegang rahasia dengan kemampuannya untuk meraih kepercayaan dari dua pihak yang saling bertentangan, dan menjaganya agar tidak bocor.
Teringat kata-kata Tawakkal dalam cerpen Gus Mus, setiap orang yang mempunyai kelebihan tinggi maka akan menerima peluang cobaan yang tinggi pula, kurang lebihnya seperti itu. Dari sini saya menganggap wajar apa yang dialami sahabat saya, yang menyuruh menuliskan tulisan ini sebagai hadiah di akhir tahun 2020. Beberapa kelebihan yang dianugerahkan padanya dan kelemahan yang menyertainya, membuat saya takut dengan kelebihan yang ada pada diri saya dan kelemahan yang seharusnya saya sadari saat ini.
Keseriusan meliputi hidupnya, dari serba hal yang dia anggap sebagai pelatihan, bahkan guyonan pun dia anggap sebagai keseriusan yang terkadang tidak disadari seseorang. Cara guyonnya mungkin lain dari pada orang umumnya, tapi karena jarang yang mengetahui, aku sebagai teman sering mengamati dari hal-hal yang pernah ia guyonkan pada siapapun ketika aku melihatnya. Guyonan aneh dengan kemanjaan yang menyamaratakan semua orang yang dia kenal, membuatku bisa menyimpulkan dan menguatkan anggapanku selama ini. Orang dengan kebiasaan berfikir serius cenderung lebih memuaskan hasratnya untuk menghibur diri dibandingkan dengan hiburan-hiburan lainnya yang kurang memuaskan.
mantav cak
BalasHapus