M. Q. Aynan
Peralihan tidak hanya memunculkan perubahan tetapi juga mengikis kearifan lokal (local wisdom). Persoalan peralihan ini dapat mengaburkan batas dan membingungkan identitas lokal. Indentitas lokal menjawab pertanyaan tentang apa yang membedakan sebuah lokal dengan lokal lainnya? Proses peralihan ini memberikan dampak kepada identitas lokal ini.
Diskusi persoalan identitas lokal ini menghasilkan kesimpulan berupa asumsi bahwa identitas lokal dapat tergerus dalam beberapa tahun. Asumsi itu kemudian memunculkan pertanyaan apakah identitas lokal dapat bertahan? jika iya, seberapa lama identitas lokal itu dapat bertahan Persoalannya, apakah identitas lokal tersebut benar-benar ada, benar-benar hidup, atau hanya ada dalam bayangan?
Kenyataan budaya sekitar akhir-akhir ini mengindikasikan adanya retakan budaya yang menantang ketersambungan dan keterhubungan identitas. Retakan budaya ini menyebabkan dilema yang seakan tanpa akhir antara tetap tersambung dan terhubung dengan masa lalu, dengan generasi sebelumnya, atau memulai budaya yang baru, yang berbeda sama sekali dengan generasi sebelumnya.
Sisi beda dari kenyataan budaya di lapangan antara dua masa, dua generasi, paling tidak dalam kuasa dan pengaruh. Kuasa berarti tentang menegakkan aturan tertulis yang berkaitan dengan ketertiban, ganjaran, dan hukuman. Pengaruh lebih identik dengan aturan tidak tertulis seperti etika, norma, dan moral.
Peralihan dapat memisahkan antara kuasa dan pengaruh lama dengan kuasa dan pengaruh baru melalui proses yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Tabir pemisahnya bersifat abstrak seperti pola pikir, konsep, pengetahuan. Ada disparitas sehingga menyebabkan celah komunikasi, pemberian dan penerimaan informasi.
Keterpisahan, perbedaan, dan celah tersebut telah menciptakan pemahaman berbeda tentang kenyataan budaya di lapangan dimana kuasa dan pengaruh lama sudah kehilangan fungsinya. Informasi berubah menjadi misinformasi, komunikasi berubah menjadi miskomunikasi, terbangun oleh dominasi 'tiruan pengganti' yang dibuat-buat.
Pertanyaannya, kuasa dan pengaruh seperti apa, dan siapa yang memfungsikan kuasa dan pengaruh itu? Di tengah penyelundupan, kontaminasi, dan kebocoran budaya, kuasa dan otoritas lama tidak memadai untuk menegakkan aturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Situasi ini mirip dengan dua kesebelasan yang bertanding memperebutkan bola di suatu stadion. Oleh karena itu, alternatif jawaban dari pertanyaan di atas adalah kuasa dan otoritas yang mirip seperti peluit dan kartu. Tentu, yang bisa memfungsikan peluit dan kartu adalah figur seorang wasit. Dengan demikian, fungsi figur seorang wasit mengacu kepada eksistensi kuasa dan otoritas tertinggi non-kesebelasan di dalam suatu arena permainan.
Fungsi ini penting karena permainan tidak lagi dikendalikan oleh struktur yang memiliki hierarki dan peraturan yang berpedoman kepada keputusan kongres, tetap dikendalikan oleh komunitas tertentu yang bersifat cair, yang bukan saling bertukar (pertukaran) melainkan saling berkontestasi (pertarungan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar