M. Q. Aynan
Sebagian kader organisasi mahasiswa ekstra kampus merasa bahwa akhir-akhir ini organisasi mereka kurang mendapat perhatian, baik oleh masyarakat luas, bahkan oleh alumninya sendiri. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi?
Di luar organisasi baik kader maupun alumninya, sebagian mahasiswa justru lebih berminat untuk bergabung dengan komunitas atau bahkan perkumpulan tanpa bentuk.
Ada beberapa faktor disini. Pertama, dari segi busana dan penampilan sebagian kader masih berpenampilan kurang menarik. Untuk rambut, sependek pengetahuan saya rambut panjang bagi laki-laki tidak terlalu membuat calon anggota kehilangan selera. Akan tetapi, setelan baju yang itu-itu saja dan bawahan bolong-bolong yang seringkali membuat mahasiswa lain kurang tertarik untuk bergabung atau bertahan.
Sementara, mahasiswa lain sukanya rambut yang dipotong pendek dengan memakai minyak rambut, atau kalau memang rambut panjang, ya rutin keramas, bukan seminggu tidak keramas. Sebelum tau tentang sejarah organisasi dan yang lainnya, kesan pertama yang dilihat oleh mahasiswa lain adalah bagaimana menampilkan diri.
Selain itu, figur yang ditampilkan sebagai kader yang intelek justru terkesan sok pinter dengan bicara panjang lebar tanpa menyebutkan sumber rujukan. Hal itu justru cenderung berdampak buruk dalam strategi "pemasaran diri sendiri’.
Ketika organ ekstra kampus tidak mampu ‘memasarkan dirinya sendiri’ entah dalam intelektual atau yang lainnya, anak-anak komunitas atau perkumpulan lainnya justru lebih mampu menunjukkan intelektualitas dirinya atau hal lain yang bisa "dipasarkan". Contohnya, tema-tema kajian konvensional yang menurut mahasiswa lain tidak relevan dengan bidang ilmunya.
Untuk mengembalikan pamor itu, sebagian kader sudah sadar akan pentingnya beradaptasi dengan lingkungan. Akan tetapi, kesadaran itu masih sebagian, belum kolektif. Pertanyaannya, seriuskah organisasi ekstra kampus mengembalikan pamornya secara kolektif?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar