Oleh: M. Q. Aynan
Ada yang menganggap bahwa kampus bukanlah lembaga politik,
melainkan lembaga pendidikan tinggi. Oleh karena itu, kalangan ini berpendapat
bahwa tidak perlu ada kegiatan yang bersifat politik, yang ada hanyalah “mencerdaskan
kehidupan bangsa”. Menurut saya, jika memang masyarakat kampus adalah
masyarakat yang cerdas, justru masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang
tidak abai dengan kegiatan yang bersifat politik, tetapi terlibat aktif dalam
setiap kegiatan yang bersifat politik.
Civitas Akademika Sekaligus Civitas Politika
Kegiatan akademik dan kegiatan politik hampir tidak dapat
dipisahkan. Kegiatan politik adalah kegiatan mendapatkan, merebut,
mempertahankan, membagi dan menjalankan kekuasaan, sedangkan kegiatan akademik
merupakan kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,
yang dapat diarahkan untuk kegiatan politik.
Itu berarti bahwa masyarakat yang ada di dalam kampus adalah
masyarakat akademik (civitas akademika) sekaligus masyarakat politik (civitas
politika). Masyarakat kampus adalah masyarakat terpilih, dan karenanya dapat
dianggap sebagai masyarakat cerdas. Dalam masyarakat kampus, orang-orang yang
menjadi pelaku akademik sekaligus pelaku politik adalah masyarakat yang cerdas.
Sebaliknya, apabila ada seseorang di kampus yang hanya menjadi masyarakat
akademik tanpa masyarakat politik, ia hanya akan menjadi korban.
Persaingan Civitas Politika
Dalam tulisan ini saya hanya akan menyinggung dari sisi mahasiswa
saja. Persaingan dalam dunia mahasiswa tidak hanya untuk mengejar nilai di
kelas saja tetapi lebih dari itu. Jika hanya bersaing untuk mengejar nilai
bagus, akan banyak yang absen dan menjadi kegiatan rutinan saja. Di sisi lain,
dunia politik mahasiswa merupakan dunia yang cukup rumit dan menguras banyak
tenaga dan pikiran. Produk politik yang di kemudian hari dirasakan oleh sebagian
besar mahasiswa tidak luput dari kegiatan politik seperti rapat kerja, rapat
pertanggungjawaban, pemilihan umum, dan lainnya.
Pendekatan Cerdas dalam Civitas Politika Kampus
Dalam masyarakat politik kampus, khususnya mahasiswa, pendekatan cerdas
dapat menjadi sebuah tawaran alternatif agar tidak melakukan upaya sembarangan
yang rawan menggunakan cara-cara “otot”, bukan cara “otak”. Pendekatan cerdas
dapat dilakukan sejak rekrutmen anggota baru, proses kaderisasi, mobilisasi
massa sampai penggalangan suara. Oleh karena itu, hal pertama yang ditawarkan
adalah nilai-nilai dan menentukan kawan dan lawan. Pendekatan tidak cerdas yang
menggunakan kebohongan dan penipuan hanya akan menjerumuskan mahasiswa sebagai
masyarakat politik kampus menjadi pragmatis, memicu korupsi, penggelapan dana, jika terus dipelihara akan menjadi penyakit.
Jadi, jika ada mahasiswa yang mengeluh karena anggotanya menjadi pragmatis dan
korup, lihat saja siapa seniornya. Dikhawatirkan ia yang berpikir pragmatis
salah memilih senior.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar