Oleh: M. Q. Aynan
Tulisan ini adalah tentang saya dan teman-teman saya yang gondrong. Tentunya, tiap perkumpulan punya ciri khas masing-masing. Mungkin tulisan ini bisa digolongkan sebagai antropologi mahasiswa. Saya menulis tentang kami.
Gondronger diidentikkan dengan pelbagai anggapan entah itu yang baik atau malah yang buruk. Yang jelas, akan selalu ada orang yang sinis ketika memandang para gondrongers. Kalau di sekitar saya, berikut adalah hal-hal yang digemari para gondrongers.
Pertama, bacaan. Percaya tidak percaya kami sesungguhnya kami senang membaca. Ini bisa dilihat bahwa dalam setiap kesempatan bertemu, ada saja hal-hal baru yang diobrolkan. Informasi tentang musik, film, politik, agama, termasuk yang diobrolkan. Tentunya, informasi tersebut tidak akan didapat jika tidak membaca artikel, koran, atau buku.
Kedua, musik. Salah satu yang diidentikkan dengan para gondrongers adalah bahwa kami identik dengan anak band. Sebagian dari kami memang anak band. sebagian lainnya hanya menggemari saja. Band seperti The Beatles sudah pasti kami suka.
Ketiga, film. Berbagai genre film juga kami gemari, baik aksi, komedi, percintaan, hingga film-film perlawanan. Film yang kami gemari juga berasal dari berbagai negara, tidak hanya dalam negeri tapi juga Hollywood, Bollywood, Mandarin, Thailand, dll.
Keempat, kartun. Kartun juga masuk daftar yang kami gemari. Yang paling mendominasi tentu saja yang berasal dari Jepang yaitu anime/manga. Anime pendek kami suka. Tapi yang paling membekas tentu saja anime panjang seperti Naruto dan One Piece.
Kelima, kopi. Beberapa orang di sekitar saya menyebutnya "wedang". Kalau kopi itu yang masih biji. Kalau sudah jadi minuman namanya wedang kopi. Kopi jadi semakin populer terutama setelah muncul film yang diangkat dari buku yang judulnya sama, yaitu "Filosofi Kopi". Salah satu karakternya, Ben, memiliki rambut gondrong. Begitu pula orang-orang di sekitar saya.
Keenam, travelling. Ingat ya, travelling, bukan trip atau liburan. Kalau liburan atau trip memiliki tujuan dan rute yang terjadwal, maka travelling tidak terlalu pasti. Bukan hanya tentang mengambil gambar tapi juga bagaimana menikmati setiap langkah ke tempat yang dituju. Seperti sebuah ungkapan, " it's journey, not destination".
Itu semua yang bisa saya catat berdasarkan pengalaman kami. Bisa jadi daftar itu juga berlaku di tempat lain atau sebaliknya.
keenam kayaknya kata2nya rangga di film AADC2
BalasHapusTak diragukan lagi
BalasHapus