M. Q. Aynan
Saya belum nonton serial drama The World of The Married. Akan tetapi, saya hanya baru saja membaca salah satu ulasan drama itu. Ulasannya dari sudut pandang jebakan kembali ke mantan yang abusif. Ulasan tersebut memaparkan lima poin jebakan.
Pertama, gaslighting. Istilah ini merujuk pada jenis manipulasi. Jadi, korban dibuat merasa bersalah karena memilih untuk berpisah. Kedua, Stockholm Syndrome yaitu fenomena respons psikologis dimana korban penculikan justru menunjukkan rasa setia dan kelekatan emosional terhadap penculiknya. Ketiga, sering kali mantan kembali dengan perilaku yang terkesan jauh lebih baik, lebih perhatian. Keempat, masih satu lingkungan. Kelima, kisah lama yaitu beberapa orang memutuskan untuk kembali pada kisah lama yang bisa jadi sudah benar-benar rusak.
Penulis ulasan yang saya sebut di atas bertanya, "Kalian pernah nggak punya teman yang setiap hari curhat tentang kisah asmaranya? Bukan kisah kasih penuh cinta yang membahagiakan, melainkan keluhan dan tangisan karena menjalani relasi beracun (toxic relationship) yang sangat abusif. Bahkan, sering kali curahan hati itu dipenuhi dengan makian terhadap pasangannya.
Kami yang mendengarkan jadi ikut bersimpati. Tak tega sekadar mendengar akhirnya kepikiran ikut membantu cari jalan keluar. Eh tapi… sehari setelah curhat, esoknya kawan kami itu malah update Instastory: makan malam romantis yang tampak penuh kebahagiaan. Lengkap, dengan kalimat rasa syukur karena telah diberikan pasangan terbaik.
Apa nggak kesal sampai ke tulang?"
Saya, baik secara pribadi maupun orang di sekitar saya, punya pengalaman menghadapi orang, khususnya perempuan yang berada dalam jebakan pasangan, entah pacaran maupun pernikahan, yang abusif. Untungnya sebagian besar dari mereka sudah selesai, dalam arti sudah jadi mantan si abusif.
Selanjutnya, penulis ulasan merekomendasikan, ""Maka, bantulah mereka secara perlahan dengan dialog yang rasional. Seseorang yang hidup dalam kekerasan harus diselamatkan. Lagi pula, itu cinta atau prahara?"
Saya melakukan itu, dan prosesnya lama. Bahkan lebih dari setahun. Saya sampai heran kurang rasional bagaimana, dan kurang logis apa saran yang saya berikan. Tetap saja bertahan.
Padahal si laki-laki seperti kucing: Senang keluyuran; susah sekali menuruti permintaan; Jika mereka pergi dari rumah, pulangnya kadang larut malam atau pagi hari, semaunya sendiri; Dan saat ada di rumah, m biasanya minta makan, atau diam-diam mengambil makanan, lalu menyendiri dan tidur lama sekali; dan jika tidak tidur, hanya bermalas malasan saja.
Setelah berusaha untuk memberi saran dengan dialog rasional, dan tidak kunjung diterima, akhirnya diputuskan untuk dilakukan penyelidikan. Karena buntu, maka guru spiritual didatangi. Ternyata, ditemukan bahwa ada faktor yang luput yaitu si laki-laki menggunakan bacaan, entah ia sendiri atau minta bantuan orang lain. Untuk lebih meyakinkan, diperiksa ciri-cirinya, ada yang sakit kepala pada saat-saat tertentu, ada yang sesak pada saat tertentu.
Akhirnya, para korban melakukan apa yang boleh saya sebut "kontra-bacaan". Membaca kalimat thoyyibah. Para korban pun terbebas dari jebakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar