---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 24 Januari 2021

Pembelajaran Sejarah: Sebagai Kumpulan Fakta dan Kausalitas


Pada tanggal 23 Januari 2021 saya dipercaya sebagai narasumber dengan topik pembahasan keindonesiaan. Sepengetahuan saya sejak saya masih menjadi peserta masa penerimaan anggota baru di tahun 2016, panitia organizing committee di tahun 2017, panitia steering committee di tahun 2018, sampai fasilitator di tahun 2019, biasanya pembahasan ini fokus pada sejarahnya. Jadi, yang dikehendaki dengan keindonesiaan adalah sejarah Indonesia.


Untuk pelaksanaannya, saya sengaja merencanakan pembahasannya tidak langsung kepada pembahasan inti. Menurut saya, belajar topik apapun itu, perlu dimulai dari pembahasan yang paling mendasar. Karena ini bisa dibilang pembelajaran sejarah, maka saya dengan pengalaman pribadi yang telah saya sebutkan tadi, merancang pembelajaran sejarah Indonesia sebagai kumpulan fakta sekaligus kausalitas.


Dua kecenderungan ini dapat diterapkan semua dalam satu kali pertemuan. Yang dimaksud pembelajaran sejarah Indonesia sebagai kumpulan fakta adalah melihat keseluruhan pembahasan tersebut sebagai kumpulan fakta-fakta sepertinya tanggal pertempuran, nama-nama tokoh dan kota, dan seterusnya. Sementara sebagai kausalitas atau hubungan sebab-akibat melihatnya lebih umum seperti penyebab yang mendasari peristiwa, kesamaan antara peristiwa-peristiwa historis, dan hal-hal semacamnya. 


Perbedaan tersebut juga tampak dalam evaluasinya. Kecenderungan pertama menjawab pertanyaan-pertanyaan obyektif, yang berfokus pada ingatan terhadap informasi baik nama maupun angka, sementara kecenderungan kedua lebih kepada menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa. Jika hendak singkat, maka kecenderungan pertama dapat lebih ditekankan, apalagi jika post test hanya sebentar waktu yang tersedia. Kecenderungan kedua dapat lebih ditekankan nanti setelah kegiatan berakhirnya dan akan ditindaklanjuti.


Jika waktunya lama dan kesempatannya memungkinkan, saya yakin siapapun narasumber atau yang terlibat di dalam pembahasan ini akan menikmati kedua kecenderungan tadi. Hanya saja, sebagian besar jumlah narasumber tidak punya waktu yang cukup untuk merencanakan, melaksanakan, dan menilai masing-masing individu dalam cara yang betul-betul sesuai dengan gaya mereka bahkan jika mereka adalah pengajar yang cukup andal untuk melakukannya.


Demikianlah sedikit catatan yang saya hadapi di balik pengalaman tersebut. Terlepas dari segala keterbatasan, tiap peserta belajar dengan caranya masing-masing. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar