(July Snow) Salju di bulan Juli: Antara Lautan dan Pegunungan
Menghadap lautan luas aku menanti
Seperti seorang pelaut yang hendak menyelam
Di mata air biru yang menenangkan
Memandang pegunungan tinggi aku menanti
Seperti seorang pendaki yang hendak menjelajah
Di puncak yang menjulang menenteramkan
Ku temukan penghiburan dalam bait-bait khazanah Masyriqi dan Maghribi
Di wajah seseorang, cahaya mentari terbenam menerangi
Menggambarkan penantian yang kian tumbuh
Seperti Al-Mutanabbi yang menulis dengan semangat
Menggambarkan penantian dengan kata-kata megah
"Aku menulis dengan pena kesabaran, menanti saat-saat kebangkitan, seperti fajar yang menghancurkan kegelapan."
Layaknya Ibn Al-Farid yang merenung dalam kesunyian
Menyampaikan penantian yang hidup seiring waktu
"Penantian adalah api yang membara dalam relung hati, menggelitik dan menyala, menyapu setiap pikiran."
Seperti Ibn Arabi yang memandang alam semesta
Menyelami penantian dengan penuh keagungan
"Penantian adalah kisah cinta di antara hati-hati yang terpisah. Bagi yang mencintai, penantian adalah kehidupan yang abadi."
Lirihnya larik membelai kalbu yang haus
Menyemai harapan dalam setiap rangkaian kata
Biru langit yang luas membentang di mataku
Seperti karya-karya Nazik Al-Malaika yang merdeka
"Penantian adalah kekuatan yang mengalir di alam semesta, membentuk kata-kata menjadi sungai yang tak terbatas."
Penantian mengukir jejak di batu-batu puing
Seperti sajak-sajak Saadi Youssef yang berderai di padang pasir
"Penantian adalah tanah yang tandus, tetapi di dalamnya mekar bunga-bunga sajak yang menggugah jiwa."
Seperti syair Adonis yang menari di angkasa malam
Penantianku melambung tinggi, menjelajahi bintang-bintang
"Penantian adalah kolam yang dalam, yang menjaga cinta tetap hidup, dan membiarkannya berkembang menjadi lautan."
Ku pandangi cahaya bulan yang memancar dengan gemilang
Seperti penyair Mahmoud Darwish yang menerangi jiwa yang kelam
"Aku menanti, dan penantianku adalah cerita panjang tentang ketiadaan, tentang keyakinan yang kuat dalam pertemuan yang akan datang."
Di dalam penantian ini, aku menemukan kekuatan
Seperti Nizar Qabbani yang menulis tentang cinta dan revolusi
"Penantian adalah api yang membakar di dalam, menjadi sinar di tengah kegelapan, memimpin kita pada cinta yang tak terbatas."
Dalam setiap tetes embun yang bergulir di pagi hari
Terpancarlah keindahan penantian yang menyala
"O lautan, sampaikan pesanku kepadanya,"
Bisikku lewat pasir pantai, dalam dekap ombak yang menggoda
"O pegunungan, jadilah saksi penantian sementara ini,"
Bisikku lagi, dengan suara yang bergemuruh dalam keheningan
Dalam suara penyanyi, ada melodi penantian
Seperti Umm Kulthum yang merdu di malam yang hening
"Wahai bunga hari-hari, cinta yang lurus, tubuh dan jiwaku untukmu, dan dalam penantian kita hidup."
Seperti Fayrouz yang menyanyikan rindu di hening senja
"Wahyu penantian yang memancar di langit, membawa kabar tentang cinta yang akan datang, memenuhi hati kita dengan lagu-lagu kebahagiaan."
Bunyikanlah irama lagu yang menembus jiwa
Sejuknya udara pegunungan yang menenangkan
Dalam lautan dan pegunungan yang ada dalam wajahnya
Dalam penantian yang hidup dan tumbuh seiring waktu
Puisi menjadi jendela hati yang terbuka lebar
Menghubungkan dunia dalam kekuatan dan keindahan kata-kata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar