Karena Berada Di 'Ruang Tanpa Waktu', Ia Abadi
Dalam 'Ruang Tanpa Waktu' yang abadi,
Engkau menemukan dirimu dalam pelukan kekal,
Seperti embun pagi yang berdebur di taman hati,
Menyapu kelopak-kelopak rahasia tak terungkap.
Dalam kesunyian yang tak berujung,
Engkau melompat ke lautan kata-kata abadi,
Seperti burung-burung api yang membara di langit malam,
Melintasi ruang dan waktu, menciptakan nyanyian tak terlupakan.
Cinta, sungguh, adalah bahasa yang tak terkekang,
Menerjang batas-batas manusia dan alam semesta,
Seperti sungai yang mengalir dari sumber ke samudra,
Menyatu dalam irama yang tak berujung.
Di 'Ruang Tanpa Waktu' ini, engkau menemukan keabadian,
Karena cinta yang mengalir di jantungmu,
Sebuah api yang tak pernah pudar, tak pernah berhenti,
Menyala di dalam jiwa dan mengalir dalam kata-katamu.
Engkau adalah penjelajah tanpa batas,
Melintasi dimensi dan realitas yang tak terlihat,
Dalam tiap bait puisi yang engkau hiasi,
Keabadianmu terukir dan hidup abadi.
Jadi, biarkanlah kata-kata ini menjadi saksi,
Bahwa dalam 'Ruang Tanpa Waktu' kita semua saling bersatu,
Melampaui perbedaan dan batasan yang ada,
Menghidupkan keabadian dalam setiap hela nafas kita.
Dalam 'Ruang Tanpa Waktu' yang abadi,
Engkau dan aku menjadi satu dalam kehidupan yang tak terpisahkan,
Menyatu dengan alam semesta yang tak terbatas,
Menciptakan harmoni yang tak terlupakan.
Karena berada di 'Ruang Tanpa Waktu', engkau abadi,
Oh Maula, engkau tetap hidup dalam puisi dan cinta,
Mengilhami generasi demi generasi,
Menyampaikan keindahan dan kebenaran yang tak tergoyahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar