---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 03 Juni 2023

"Kurikulum Tradisional" dan "Kurikulum Klasikal": Sebuah "Teori" Sistem dan Pendekatan Pembelajaran Esoteris

"Kurikulum Tradisional" dan "Kurikulum Klasikal": Sebuah "Teori" Sistem dan Pendekatan Pembelajaran Esoteris


Dalam dunia esoteris, magis, metafisik, mistik, dan supranatural, pembelajaran dan pemahaman yang mendalam terhadap pengetahuan alam gaib dan keberadaan yang tak kasat mata merupakan hal yang sangat penting. Bagi praktisi-praktisi di bidang ini, pembelajaran mencakup baik pengetahuan teoritis maupun pengalaman langsung dan pengembangan spiritual yang mendalam. Dalam konteks ini, menurut saya, penting bagi praktisi esoteris untuk mempertimbangkan perbedaan antara apa yang saya sebut sebagai "kurikulum tradisional" dan "kurikulum klasikal" dalam sistem dan pendekatan pembelajaran mereka.


Perbedaan secara umum antara "kurikulum tradisional" dan "kurikulum klasikal" adalah, dalam "kurikulum tradisional", pembelajaran berpusat pada guru atau mujiz, keputusan dan otoritas berada di tangan mereka. Proses pembelajaran menjadi sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalaman mereka, serta hubungan dengan garis keturunan, hubungan personal, dan tradisi tertentu. Hal ini dapat memakan waktu yang lama bagi seorang murid untuk mencapai tingkat keilmuan yang lebih tinggi, terutama jika proses tersebut melibatkan persyaratan dan persetujuan dari guru atau mujiz.


Di sisi lain, dalam "kurikulum klasikal", terdapat kebebasan yang lebih besar bagi murid untuk memilih jalur dan menempuh jenjang pembelajaran yang diminati. Murid dapat memilih berbagai keilmuan yang ingin dipelajari dan dapat mengambil ijazah tingkat guru/mujiz dalam waktu yang lebih efisien. Dalam sistem dan pendekatan ini, guru atau mujiz lebih berfungsi sebagai pembimbing dan penyedia pengetahuan, sedangkan pilihan dan keputusan akhir berada pada murid.


Selain itu, "kurikulum klasikal" cenderung menyediakan penjelasan yang terarah, terstruktur, dan sistematis dalam pemahaman esoteris. Ini memungkinkan pembelajaran yang lebih massal, di mana banyak orang dapat mengakses dan memperoleh pemahaman yang sama tentang konsep-konsep dan praktik-praktik esoteris yang diajarkan. Pendekatan ini dapat membantu aksesibilitas dalam arti menyebarkan pengetahuan dan keterampilan esoteris secara lebih luas dan memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam bagi mereka yang tertarik.


Apabila lebih dirinci, maka berikut ini adalah beberapa perbedaan lain antara "kurikulum tradisional" dan "kurikulum klasikal" dalam pembelajaran esoteris, antara lain:


Landasan dan Pendekatan Filosofis: Dalam kurikulum tradisional, pendekatan filosofis yang melandasi pembelajaran esoteris sering kali mengedepankan tradisi, garis keturunan, dan ajaran-ajaran yang telah ada sejak lama secara turun temurun. Fokusnya lebih pada mempertahankan dan melanjutkan warisan keilmuan dari para leluhur atau tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh dalam bidang esoteris. Pendekatan ini seringkali berakar pada aspek historis dan budaya (juga subkultur) dari suatu tradisi tertentu. Sedangkan kurikulum klasikal, pendekatan filosofis yang melandasi pembelajaran esoteris cenderung lebih terbuka dan inklusif. Ini dapat mencakup elemen dari berbagai tradisi esoteris (Arab, Barat, Timur, Nusantara) dan mencoba mengintegrasikan berbagai perspektif filosofis. Pendekatan ini lebih berorientasi pada pemahaman universal, prinsip-prinsip yang melintasi batasan budaya dan tradisi tertentu. Secara filosofis, fokusnya bisa lebih pada eksplorasi yang lebih luas, pemikiran kritis, dan pengembangan pemahaman konseptual.


Sumber Pengetahuan: Kurikulum Tradisional cenderung terbatas pada otoritas guru atau mujiz. Guru dianggap sebagai penjaga pengetahuan dan pemegang keilmuan yang memiliki wewenang untuk mentransmisikan pengetahuan esoteris kepada murid-muridnya. Sumber pengetahuan utama adalah ajaran dan tradisi yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Murid-murid mengandalkan guru sebagai sumber tunggal untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan esoteris. Di sisi lain, "kurikulum klasikal" dalam pembelajaran esoteris lebih terbuka terhadap berbagai sumber pengetahuan yang valid. Meskipun guru atau mujiz tetap memiliki peran penting sebagai panduan dan penasihat, murid juga diizinkan untuk menggali pengetahuan esoteris dari sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam "kurikulum klasikal", penting untuk memastikan bahwa sumber pengetahuan yang digunakan memiliki validitas dan kualitas yang baik. Murid didorong untuk melakukan penelitian, evaluasi, dan kritis terhadap berbagai sumber pengetahuan yang mereka akses. Mereka diajarkan untuk membedakan antara informasi yang dapat diandalkan dan yang tidak, serta untuk mengembangkan kemampuan pemikiran mandiri dalam mencari pemahaman yang mendalam.


Sumber Belajar: "Kurikulum tradisional" cenderung mengandalkan teks-teks klasik, naskah kuno, atau ajaran tradisional yang telah ada selama berabad-abad. Pengetahuan dan pemahaman esoteris sering kali diturunkan dari generasi ke generasi melalui garis keturunan atau tradisi tertentu. Di "kurikulum klasikal", sumber pengetahuan dapat mencakup teks-teks klasik, naskah kuno, atau ajaran tradisional yang telah ada selama berabad-abad, tetapi juga dapat mencakup teks-teks modern dan kontemporer, serta inovasi dan kreativitas yang dikembangkan oleh para praktisi yang kompeten, dan sumber-sumber mutakhir lainnya.


Pusat Orientasi Pembelajaran : Dalam "kurikulum tradisional", pengetahuan dan keahlian sering kali dimiliki dan dikendalikan oleh guru atau mujiz sebagai pusat utama pembelajaran. Murid harus bergantung pada mereka untuk memperoleh pengetahuan dan mencapai tingkat keilmuan yang lebih tinggi. Di "kurikulum klasikal", murid memiliki porsi yang lebih besar dalam memilih dan mengakses pengetahuan. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih jalur pembelajaran dan dapat mengambil peran aktif dalam pengembangan keilmuan mereka.


Waktu dan Proses Pembelajaran: Dalam "kurikulum tradisional", proses pembelajaran sering kali membutuhkan waktu yang lama, bahkan bertahun-tahun, untuk mencapai tingkat keilmuan yang lebih tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh persyaratan, persetujuan, dan ketergantungan pada otoritas guru atau tradisi tertentu. Di sisi lain, dalam "kurikulum klasikal", waktu pembelajaran dapat lebih efisien. Murid dapat mengambil ijazah tingkat guru/mujiz untuk beberapa keilmuan dalam waktu yang relatif singkat.


Skala dan Aksesibilitas: "Kurikulum tradisional" dalam pembelajaran esoteris sering kali cenderung bersifat individual atau berorientasi pada segmen tertentu yang lebih sempit. Ini dapat membuatnya sulit diakses oleh banyak orang dan membatasi jumlah individu yang bisa mendapatkan ijazah keilmuan. Di sisi lain, "kurikulum klasikal" cenderung memiliki sifat yang lebih massal dan dapat diakses oleh sejumlah besar orang. Hal ini dapat memungkinkan penyebaran pengetahuan esoteris yang lebih luas dan meningkatkan aksesibilitas bagi mereka yang tertarik.


Tujuan Pembelajaran: "Kurikulum tradisional" sering kali memiliki tujuan afektif seperti menjaga tradisi, dan tujuan psikomotorik seperti mempraktikkan teknik atau praktik yang sudah ada sebelumnya. Di sisi lain, "kurikulum klasikal" dapat memiliki tujuan untuk mencapai pemahaman mendalam tentang konsep-konsep esoteris, pengembangan keilmuan dan kemampuan praktis, serta penciptaan atau penemuan teknik yang baru atau belum ada sebelumnya. Ini dapat melibatkan serangkaian langkah-langkah tertentu, seperti tingkatan atau jenjang keilmuan yang harus dicapai.


Struktur Pembelajaran: "Kurikulum tradisional" dalam pembelajaran esoteris cenderung memiliki struktur yang lebih fleksibel dan terbuka. Pembelajaran biasanya terjadi secara informal melalui hubungan antara guru dan murid, seringkali dalam konteks kelompok kecil atau individu. Tidak ada runtutan evaluasi pembelajaran, tetapi lebih bersifat insidental. Di sisi lain, "kurikulum klasikal" dapat memiliki struktur pembelajaran yang lebih terstruktur, dengan runtutan pembelajaran tertentu, materi pelajaran tertentu, dan evaluasi seperti "formatif" dan "sumatif".


Transmisi Ijazah dan Sanad: Dalam "kurikulum tradisional", transmisi ijazah dan sanad keilmuan cenderung berdasarkan kehendak dari guru atau mujiz. Ini melibatkan ijazah atau sanad keilmuan yang diberikan sekehendaknya oleh guru kepada murid. Di "kurikulum klasikal", transmisi ijazah dan sanad keilmuan lebih terstandar. Ada serangkaian kriteria yang harus dipenuhi oleh murid untuk mendapatkan ijazah dan sanad keilmuan, seringkali melalui pemaharan, riyadloh atau tirakat tertentu, atau prosedur lain yang standar.


Berdasarkan "teori" yang saya "bangun" ini, dapat disimpulkan bahwa dalam kurikulum pembelajaran esoteris, terdapat perbedaan antara "kurikulum tradisional" dan "kurikulum klasikal". Kurikulum tradisional menekankan otoritas guru atau mujiz, sementara kurikulum klasikal memberi kebebasan kepada murid untuk memilih jalur pembelajaran. Kurikulum klasikal cenderung menyediakan penjelasan yang terarah dan sistematis, memfasilitasi pemahaman yang lebih luas bagi mereka yang tertarik. Selain itu, terdapat perbedaan dalam landasan filosofis, sumber pengetahuan, sumber belajar, pusat orientasi pembelajaran, waktu dan proses pembelajaran, skala dan aksesibilitas, tujuan pembelajaran, struktur pembelajaran, dan transmisi ijazah dan sanad.


Jika menghendaki pembelajaran esoteris yang lebih efektif dan efisien, penting untuk mengintegrasikan berbagai pendekatan untuk memperkaya pembelajaran esoteris, mengadopsi pendekatan filosofis dalam sistem pembelajaran yang maju dalam memahami esoteris. Penting juga menggabungkan fleksibilitas dan struktur dalam pembelajaran esoteris, meningkatkan aksesibilitas dan penyebaran pengetahuan esoteris, serta menetapkan standar transmisi ijazah dan sanad keilmuan. Sedangkan bagi murid, terutama pemula, penting mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam memvalidasi sumber pengetahuan dan sumber belajar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar