5 Peta Perjalanan Ideal (Belajar) (Ber)Filsafat bagi Muslim Menurut Saya
(Muhammad Qurrotul Aynan)
Juni 2023
(Belajar) (Ber)Filsafat merupakan sebuah perjalanan intelektual yang memberikan landasan pemikiran yang mendalam dan refleksi yang kritis terhadap dunia dan eksistensi manusia. Bagi seorang Muslim yang melangkah untuk mempelajari filsafat dan belajar filsafat, terutama pemula, biasanya terdapat momen-momen rasa ingin tahu yang besar, kebingungan, kegelisahan, keragu-raguan. Tak jarang, bahkan setelah sekian lama dan luas dalam perjalanan itu, tetap saja, atau bahkan makin bingung, gelisah, dan ragu. Menimbang, memperhatikan, bahwa ruang dan waktu dalam perjalanan kehidupan secara umum, dan proses belajar secara khusus, maka penting untuk "mengakhiri"nya dengan kemantapan, kepastian, dan keyakinan.
Terdapat beragam peta perjalanan ideal yang dapat membimbing dalam mengeksplorasi dan mengembangkan pemikiran filosofis, baik secara umum maupun yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan lima peta perjalanan yang saya anggap ideal bagi seorang Muslim dalam belajar berfilsafat, di tengah beragamnya medan pemikiran filsafat dan keterbatasan ruang-waktu.
1. Kesatuan, bukan Keterpisahan
Perjalanan filsafat yang ideal bagi seorang Muslim dimulai dengan pemahaman dasar bahwa tidak ada pemisahan antara agama dan filsafat. Islam menawarkan pandangan holistik tentang kehidupan, menggabungkan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial.
Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat apa yang dikenal sebagai "great divide" (pemisahan besar) yang terjadi pada periode Renaissance dan Abad Pencerahan. Pemisahan ini mengacu pada pergeseran pemikiran yang mendasar dari pandangan tradisional ke dunia modern yang lebih sekular dan ilmiah.
Terdapat juga istilah Great Chain of Being (Rantai Kehidupan), konsep yang berasal dari pemikiran Yunani kuno dan berkembang di kalangan teolog dan filsuf abad pertengahan (Eropa). Konsep ini menyatakan bahwa dunia alam semesta adalah hierarkis dan terstruktur dalam urutan yang teratur, dimulai dari Tuhan dan melalui tingkatan-tingkatan yang berbeda, seperti malaikat, manusia, hewan, tumbuhan, dan benda tak hidup. Setiap entitas memiliki tempat yang tetap dan terikat oleh peran dan fungsinya dalam hierarki ini.
Namun, dengan munculnya Renaissance dan kemudian Abad Pencerahan, pandangan ini mulai digoyahkan. Pemikir modern Barat memperkenalkan metode ilmiah baru yang menekankan observasi, pengukuran, dan penalaran rasional sebagai cara untuk memahami dunia. Pemikiran sekular ini menantang konsep hierarkis dalam Great Chain of Being dan menempatkan manusia sebagai pusat pengetahuan dan kekuasaan.
Sekularisasi juga menjadi fenomena penting dalam pemisahan besar ini. Sekularisasi merujuk pada pemisahan agama dari kehidupan publik dan institusi politik. Dalam konteks filsafat Barat, ini berarti bahwa (institusi) agama tidak lagi mendominasi ranah kehidupan intelektual dan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti fisika, biologi, dan politik menjadi mandiri dan terpisah dari dogma agama. Pandangan sekular ini dianggap sebagai landasan rasionalisme dan pandangan dunia modern.
Namun, bagi seorang Muslim, pandangan sekularisasi dan pemisahan besar ini tidak sejalan dengan pandangan Islam yang holistik. Dalam Islam, tidak ada pemisahan yang tegas antara kehidupan agama dan spiritualitas, yang itu sifatnya privat, dengan kehidupan publik, karena agama dianggap sebagai landasan bagi semua aspek kehidupan, dalam berpikir dan bertindak.
Islam menawarkan pandangan menyeluruh tentang realitas yang mencakup dimensi spiritual, intelektual, sosial, dan moral, baik privat maupun publik. Islam juga menawarkan pandangan menyeluruh tentang realitas yang hierarkis dan terstruktur dalam urutan yang teratur, dimulai dari Tuhan dan melalui tingkatan-tingkatan yang berbeda, seperti malaikat, manusia, hewan, tumbuhan, dan benda tak hidup. Setiap entitas memiliki tempat yang tetap dan terikat oleh peran dan fungsinya dalam hierarki ini dan menempatkan Tuhan sebagai pusat pengetahuan dan kekuasaan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami filsafat sebagai alat untuk mendekati dan menemukan kebenaran yang mendalam, sambil mempertahankan kesatuan dengan ajaran agama. Menjalin keseimbangan antara pemikiran filsafat dan kerangka iman Islam sebagai bagian integral adalah prinsip integrasi ilmu.
2. Menemukan Kebenaran dan Kepastian, bukan Mencari Kebenaran yang Belum Pasti
Dalam perjalanan berfilsafat, seorang Muslim idealnya menekankan penemuan kebenaran yang solid dan pasti, bukan hanya terus-menerus mencari. Kebenaran yang pasti dapat ditemukan melalui pemahaman yang mendalam tentang wahyu ilahi yang terkandung dalam Al-Qur'an, Sunnah, dan tradisi Islam.
Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat kecenderungan untuk terus-menerus mencari kebenaran, mencari dan mendekati, tanpa menemukan dan mendapatkan. Pemikir-pemikir Barat sering kali berusaha memahami realitas dan hakikat dunia melalui pemikiran rasional dan metode ilmiah. Mereka meyakini bahwa melalui pengamatan, analisis, dan penalaran, manusia dapat mendekati kebenaran yang lebih baik.
Namun, dalam proses pencarian ini, terkadang muncul paham subjektivisme kebenaran. Subjektivisme kebenaran menyatakan bahwa kebenaran adalah relatif dan tergantung pada pandangan individu atau kelompok. Ini berarti bahwa tidak ada kebenaran objektif yang dapat diakses secara universal, melainkan kebenaran tergantung pada sudut pandang dan interpretasi subjektif setiap individu atau kelompok.
Selanjutnya, ada juga paham relativisme kebenaran yang menganggap bahwa kebenaran itu sepenuhnya relatif dan tidak ada standar absolut yang dapat digunakan untuk menilai kebenaran. Menurut relativisme kebenaran, setiap pandangan atau keyakinan subjektif memiliki nilai yang sama, dan tidak ada kebenaran yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.
Ini dapat bertentangan dengan pandangan struktur realitas yang hierarkis. Pandangan Islami memandang bahwa ada tingkatan-tingkatan yang jelas dalam realitas, dan setiap entitas memiliki tempatnya yang ditentukan dalam hierarki tersebut. Dalam pandangan ini, ada kebenaran yang objektif dan absolut yang sesuai dengan posisi dan fungsi masing-masing entitas dalam hierarki.
Islam mengajarkan adanya kebenaran yang objektif dan absolut yang diturunkan oleh Allah. Al-Quran dianggap sebagai wahyu ilahi yang memuat petunjuk hidup yang universal. Sebagai seorang Muslim, penting untuk menemukan kebenaran yang nyata dan pasti melalui pemahaman ajaran Islam yang kokoh, yang menggabungkan wahyu dengan pemikiran filosofis yang mendalam.
Oleh karena itu, dalam belajar filsafat, penting untuk menyelaraskan pemikiran filosofis dengan ajaran agama, menggunakan pengetahuan filosofis sebagai sarana, sebagai jembatan, sebagai seperangkat peralatan, untuk memperkuat keyakinan dan pemahaman tentang kebenaran yang diberikan oleh Allah melalui ayat-ayat-Nya.
3. Menuju Arah Jelas dan Tujuan Akhir, bukan Tanpa Arah dan Tanpa Tujuan
Perjalanan filsafat bagi seorang Muslim idealnya mengarah pada pengetahuan yang bermanfaat dan mengarahkan pada tujuan akhir yang diberikan oleh Islam. Sebab, dalam sejarah filsafat Barat, terdapat kecenderungan anti-esensialisme dan ateleologis yang dapat berpengaruh pada pandangan tentang hakikat dan tujuan kehidupan. Anti-esensialisme menolak ide bahwa ada esensi atau hakikat yang melekat pada suatu entitas atau konsep tertentu. Sebaliknya, pandangan ini cenderung melihat entitas sebagai konstruksi sosial atau produk dari interaksi dan penafsiran subjektif.
Selanjutnya, ateleologis merujuk pada penolakan terhadap ide tujuan atau finalitas dalam alam semesta. Pandangan ini menekankan bahwa tidak ada tujuan atau arah yang ditetapkan secara inheren dalam alam semesta atau kehidupan manusia. Sebagai hasilnya, kehidupan dan eksistensi manusia sering kali dipandang sebagai kebetulan atau keadaan yang tidak memiliki arah atau tujuan yang baku.
Pandangan bahwa kehidupan dan eksistensi manusia sering kali dipandang sebagai kebetulan atau keadaan yang tidak memiliki arah atau tujuan yang baku dapat dikaitkan dengan faktisitas. Faktisitas merujuk pada pandangan bahwa realitas hanya dapat dipahami dalam konteks faktual atau empiris, tanpa memperhatikan dimensi tujuan atau makna yang lebih dalam.
Dalam perspektif faktisitas, keberadaan manusia dan dunia secara keseluruhan dianggap sebagai hasil kebetulan atau proses alam semata, tanpa adanya tujuan atau arah yang inheren. Pandangan ini cenderung mengabaikan dimensi spiritual atau transendental dalam pemahaman tentang manusia dan eksistensinya.
Dalam pemikiran filsafat Barat, terutama dalam beberapa aliran seperti eksistensialisme dan nihilisme, faktisitas sering kali menekankan keadaan manusia yang terbatas dalam konteks dunia materi, di mana kehidupan dianggap sebagai hasil kebetulan semata.
Dalam pemikiran filsafat seorang Muslim, sudah seharusnya dihindari kecenderungan anti-esensialisme dan ateleologis. Islam mengajarkan bahwa ada hakikat atau esensi yang melekat pada setiap entitas yang diciptakan oleh Allah. Setiap makhluk memiliki tujuan atau tujuan tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah. Pandangan ini mencerminkan keyakinan dalam adanya tujuan dan arah dalam kehidupan manusia yang ditentukan oleh penciptaannya.
Dalam konteks ini, pemikiran filsafat seorang Muslim harus mempertimbangkan esensi yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk Allah, serta tujuan dan tanggung jawabnya dalam mencapai kehidupan yang baik dan bermanfaat. Esensi manusia sebagai khalifah Allah di bumi menempatkan manusia dalam posisi yang unik dan memberikan arti dan tujuan dalam kehidupannya.
Pemikiran filsafat seorang Muslim juga harus memperhatikan pandangan bahwa Allah adalah pencipta yang bijaksana dan adil. Allah menciptakan alam semesta dengan tujuan dan arah yang terarah. Manusia diposisikan sebagai bagian integral dalam rencana-Nya dan memiliki tanggung jawab moral untuk hidup sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan-Nya.
Dalam pemikiran filsafat seorang Muslim, keberadaan tujuan atau finalitas tidak mengurangi nilai pentingnya penelitian, penalaran, dan pemikiran rasional. Sebaliknya, pemikiran filsafat dapat membantu dalam memahami tujuan dan hakikat eksistensi, serta menggali makna dan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dalam belajar filsafat, perlu menetapkan arah jelas yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, agar pengetahuan filsafat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki tujuan akhir yang terdefinisi, seperti meningkatkan pemahaman tentang ajaran agama atau mengembangkan pemikiran etis yang kokoh, memungkinkan seorang Muslim untuk memanfaatkan kekayaan filsafat untuk membentuk kepribadian Muslim yang lebih baik.
4. Keterhubungan dan Keberlanjutan, bukan Keterputusan dan Ketercerabutan
Penting untuk mengembangkan pemahaman filosofis yang terhubung dengan tradisi Islam dan pemikiran intelektual Muslim sebelumnya. Perjalanan filsafat yang ideal bagi seorang Muslim melibatkan mempelajari karya-karya filosofis terdahulu yang telah mempengaruhi pemikiran Islam, seperti pemikiran-pemikiran Sokrates, Platon, dan Aristoteles, sampai Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazzali, Ibnu Rusyd, dan seterusnya. Dengan memahami warisan intelektual ini, seorang Muslim dapat mengintegrasikan dan melakukan apropriasi pemikiran filosofis dengan konsep-konsep Islam yang telah ada sejak lama, sehingga tercipta kontinuitas dalam pemahaman filosofis.
Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat kecenderungan untuk mengalami discontinuity (keterputusan) dan alienation (ketercerabutan) dari tradisi. Hal ini dapat terlihat dalam upaya filsuf-filsuf Barat untuk membangun pemikiran mereka dengan mengabaikan atau menolak warisan filosofis dan budaya yang telah ada sebelumnya. Mereka cenderung ingin memulai dari awal dan mencari pemahaman yang murni melalui rasionalitas dan pengamatan mandiri.
Pandangan ini menunjukkan kecenderungan untuk memisahkan diri dari akar tradisional dan menciptakan pemikiran yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan warisan budaya atau filosofis yang telah ada sebelumnya. Filsuf Barat sering kali merasa terasing (alienated) dari tradisi dan mencoba untuk menciptakan pemahaman yang radikal baru, seringkali tanpa mempertimbangkan kearifan yang telah dikembangkan sebelumnya.
Namun, dalam pemikiran filsafat seorang Muslim, kecenderungan discontinuity dan alienation seperti itu seharusnya tidak terjadi. Islam mengajarkan pentingnya menghargai dan mempelajari warisan intelektual, budaya, dan filosofis yang telah ada sebelumnya. Seorang Muslim diharapkan untuk menyadari dan mengakui keterkaitan antara pemikiran masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dalam pemikiran filsafat seorang Muslim, tradisi dianggap sebagai sumber pengetahuan yang berharga dan sebagai fondasi yang memungkinkan pemikiran lebih lanjut berkembang. Pemikiran filsafat tidak terisolasi dari tradisi, tetapi terintegrasi dengan pemahaman yang telah ada sebelumnya, termasuk pemikiran filosofis, teologis, dan etis dalam konteks Islam.
Dalam Islam, terdapat konsep "ijtihad" yang mendorong para sarjana Muslim untuk berpikir kritis, mengembangkan pemikiran baru, dan menyesuaikan pemahaman dengan zaman yang berubah. Namun, ijtihad ini harus dilakukan dengan berpegang pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Islam. Ini memastikan bahwa pemikiran filsafat seorang Muslim tidak terputus dari tradisi, tetapi berlanjut dalam kerangka yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.
Dalam konteks ini, pemikiran filsafat seorang Muslim tidak mencoba menciptakan pemahaman yang radikal baru secara terisolasi, tetapi menggunakan warisan filosofis dan budaya yang ada sebagai titik tolak untuk memperdalam pemahaman dan mencapai penemuan kebenaran yang lebih luas dan komprehensif. Dengan memahami konteks tradisional, seorang Muslim dapat menghindari discontinuity dan alienation dari tradisi, dan mengembangkan pemikiran filsafat yang lebih berkelanjutan dan terhubung dengan akar-akar intelektual yang lebih luas.
Selain itu, perjalanan filsafat yang ideal juga melibatkan berinteraksi dengan pemikiran filosofis kontemporer. Namun, dalam berinteraksi dengan pemikiran tersebut, seorang Muslim harus menjaga keberlanjutan dengan tradisi Islam. Hal ini dapat dicapai dengan mengevaluasi pemikiran filosofis kontemporer secara kritis, memfilternya melalui lensa ajaran Islam, dan mengadopsi ide-ide yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang kokoh.
5. Permainan Serius Praksis, bukan Main-main Candaan Spekulatif
Perjalanan filsafat yang ideal bagi seorang Muslim melibatkan serius dalam praksis dan tindakan, bukan hanya sekedar bermain-main dalam spekulasi intelektual. Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat kecenderungan untuk mereduksi filsafat menjadi permainan wacana spekulatif, abstrak, dan teoretik yang sering kali saling membatalkan diri terus-menerus. Hal ini terjadi ketika filsafat hanya berfokus pada aspek intelektual dan teoretis tanpa disertai dengan implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan ini sering kali menghasilkan pembahasan filsafat yang rumit dan kompleks, terpisah dari realitas praktis dan konteks kehidupan manusia yang konkret. Pemikiran filsafat menjadi terjebak dalam spekulasi intelektual yang tidak berdampak langsung pada perubahan nyata atau pemecahan masalah dalam kehidupan manusia.
Namun, dalam pemikiran filsafat seorang Muslim, kecenderungan ini tidak seharusnya terjadi. Sejak Sokrates sampai para cendekiawan Muslim pemikiran filsafat harus dihubungkan dengan amal nyata, konkret, dan praksis dalam kehidupan sehari-hari. Konsep "tekhne tou biou" sebagaimana istilah Sokrates, dalam pemikiran filsafat seorang Muslim menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran teoretis dengan aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang Muslim tidak hanya perlu memahami konsep dan teori filsafat secara abstrak, tetapi juga diharapkan untuk menerapkannya dalam tindakan nyata yang memperbaiki kehidupan pribadi, sosial, dan masyarakat secara keseluruhan. Pemikiran filsafat seorang Muslim harus mendorong untuk bertindak dan berbuat kebaikan dalam praksis sehari-hari.
Penerapan pemikiran filsafat dalam praksis sehari-hari juga melibatkan pengabdian kepada masyarakat dan berpartisipasi dalam memperbaiki kondisi sosial. Sebagai contoh, seorang Muslim yang memahami konsep keadilan sosial dalam filsafat harus bekerja untuk menghilangkan ketimpangan sosial, memperjuangkan hak-hak manusia, dan berkontribusi dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Selain itu, pemikiran filsafat seorang Muslim harus mengarah pada praktik spiritual yang mendalam. Studi filsafat dapat membantu mereka dalam memahami hakikat eksistensi dan pencarian kebenaran. Namun, pemahaman semacam itu harus mendorong mereka untuk menjalankan ibadah yang kuat, meningkatkan hubungan mereka dengan Allah, dan mencapai kemajuan spiritual yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain.
Dengan demikian, pemikiran filsafat seorang Muslim yang diikuti oleh praksis nyata, konkret, dan praksis yang mencerminkan nilai-nilai Islam akan menghindarkan mereka dari jebakan permainan wacana spekulatif yang saling membatalkan diri. Filsafat tidak hanya harus menjadi teori intelektual yang dipahami secara abstrak, tetapi juga harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman filosofis harus mendorong seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai etis dan moral yang diberikan oleh Islam, serta berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Dalam perjalanan belajar berfilsafat bagi seorang Muslim, penting untuk menjaga kesatuan antara pemikiran filosofis dan nilai-nilai Islam. Menemukan kebenaran yang pasti, memiliki arah dan tujuan yang jelas, menjalin keterhubungan dengan tradisi Islam, dan menerjemahkan pemikiran filosofis menjadi tindakan nyata adalah aspek-aspek penting dalam perjalanan ini. Dengan demikian, seorang Muslim dapat mengembangkan pemahaman filosofis yang mendalam dan relevan dengan nilai-nilai Islam, sambil terus berkontribusi dalam mewujudkan kebermafaatan bagi diri sendiri dan dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar