---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 20 Juni 2023

KEABADIAN SEBAGAI KUTUKAN: ULASAN DRAMA KOREA "GOBLIN" MELALUI LENSA HEIDEGGER DAN RUMI



KEABADIAN SEBAGAI KUTUKAN: ULASAN DRAMA KOREA "GOBLIN" MELALUI LENSA HEIDEGGER DAN RUMI


Drama Korea "Goblin" atau "Guardian: The Lonely and Great God" adalah drama pertama yang saya tonton sampai tamat. Yang paling membuat saya tertarik di awal, penasaran sampai akhir cerita, adalah tema yang terkandung di dalamnya yang setahu saya jarang sekali muncul, tetapi di saat yang sama terasa paralel dengan intrik dan romansa. 


Selain tentang kematian dan keabadian, takdir merupakan tema yang membuat saya tertarik untuk menonton sampai akhir. Dramanya sudah lama tayang dan tamat. Setelah sekian lama, akhirnya saya teringat kembali saat mendengar ada yang memutar soundtrack-nya, dan saya baru sempat menuliskan ulasannya.


"Drama Korea 'Goblin' atau 'Guardian: The Lonely and Great God' adalah sebuah cerita yang mengisahkan tentang Kim Shin, seorang jenderal perang yang hebat di zaman kuno. Namun, ia dibunuh oleh seorang raja muda yang merasa cemburu pada kehebatannya.


Setelah kematiannya, Kim Shin tidak meninggalkan dunia ini, melainkan berubah menjadi Goblin, makhluk abadi yang hidup di dunia manusia namun dipenuhi dengan kesepian dan beban. Meskipun memiliki keabadian, kehidupan abadi yang dihadapi oleh Kim Shin sebenarnya adalah kutukan yang ia rasakan.


Selama hidup abadinya, Kim Shin bertemu dengan Ji Eun-Tak, seorang gadis muda yang dapat melihat makhluk roh dan memiliki takdir yang terhubung dengan Goblin. Ji Eun-Tak percaya bahwa dirinya adalah pengantin Goblin yang ditakdirkan untuk membantu Kim Shin mengakhiri kutukan hidup abadinya.


Namun, perjalanan Ji Eun-Tak tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tantangan dan rintangan yang datang dari berbagai arah, termasuk takdir, kesulitan emosional, dan kekuatan jahat yang ingin menghancurkan Goblin.


Dalam perjalanan ini, cerita 'Goblin' menggambarkan ikatan emosional yang kuat antara Ji Eun-Tak dan Kim Shin, yang tumbuh menjadi hubungan yang rumit dan beragam. Mereka berdua mengalami pertumbuhan pribadi dan perubahan sikap seiring dengan perjuangan yang mereka hadapi bersama-sama.


Selain itu, drama ini juga mengeksplorasi konsep kematian dan keabadian dalam pandangan yang unik. Kim Shin, sebagai Goblin, merasakan beban hidup abadi yang berkepanjangan. Ini menghadirkan pertanyaan tentang makna kehidupan, penerimaan takdir, dan pentingnya menemukan makna dan kekhususan dalam setiap momen yang diberikan.


Melalui cerita yang penuh dengan intrik, pertemuan tak terduga, dan pertempuran emosional, 'Goblin' menghadirkan pesan tentang cinta, pengorbanan, dan pentingnya menemukan keberanian dalam menghadapi tantangan hidup.


Drama ini menawarkan kombinasi cerita yang menarik, akting yang memukau, dan pesan filosofis yang dalam. 'Goblin' menjadi salah satu drama yang menghipnotis penonton dengan menyajikan kisah yang penuh dengan emosi, kehidupan abadi, dan makna keberadaan manusia. Jika Anda belum menontonnya, 'Goblin' adalah drama yang layak untuk ditonton dan mengalami petualangan yang menghantarkan penonton pada refleksi tentang hidup dan kematian.


LENSA HEIDEGGER DAN RUMI


Drama ini menawarkan pesan filosofis yang dalam. Akan tetapi, salah satu penyebab saya baru sempat menuliskan ulasannya adalah, saya agak kesulitan dalam menemukan "lensa" sebagai "alat bantu pandang" sekaligus perangkat untuk membantu saya menjelaskan atau menceritakannya. Karena mendalamnya citarasa filosofis yang ditawarkan, sehingga baru beberapa waktu, saya terpikirkan untuk menggunakan lensa Heidegger dan Rumi. Meskipun mungkin tidak cukup mewakili, tapi dalam beberapa aspek ada titik-titik yang bisa berjumpa satu sama lain.


Drama Korea "Goblin" atau "Guardian: The Lonely and Great God" saya rasa dapat dilihat melalui penggabungan antara konsep dan makna kematian serta keabadian dalam pandangan dua pemikir besar, yaitu Martin Heidegger dan Jalaluddin Rumi. Drama ini menggambarkan kehidupan abadi seorang Goblin yang awalnya diberikan sebagai anugerah, tetapi kemudian berubah menjadi sebuah kutukan.


Dalam pandangan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, kematian adalah elemen yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ia berpendapat bahwa kesadaran akan kematian adalah yang mendasari eksistensi manusia. Kim Shin, tokoh utama dalam drama ini, menjadi Dokkaebi atau Goblin setelah dibunuh oleh raja muda yang cemburu. Kehidupan abadi yang dimiliki Kim Shin menjadi sebuah kutukan karena ia harus hidup tanpa akhir dan melihat orang-orang yang dicintainya pergi satu per satu. Ini mencerminkan konsep Heidegger bahwa kematian memberikan makna dan konteks bagi kehidupan manusia, karena kehidupan yang tak terbatas akan kehilangan arti dan kepentingan.


Dalam ajaran Jalaluddin Rumi, seorang penyair dan sufi Persia terkenal, keabadian juga menjadi tema yang menarik. Rumi percaya bahwa manusia adalah tamu sementara di dunia ini dan kematian adalah saat ketika kita berpindah ke alam keabadian. Ji Eun-Tak, karakter pendukung dalam drama ini, memiliki kemampuan untuk melihat makhluk roh dan mendengar bisikan tentang "pengantin Goblin". Dalam drama ini, Ji Eun-Tak digambarkan sebagai figur yang memiliki hubungan khusus dengan dunia roh dan keabadian. Hal ini menggambarkan pandangan Rumi bahwa manusia memiliki potensi untuk mengalami kehidupan yang abadi setelah meninggal dunia fisik.


Meskipun konsep kematian dan keabadian dalam drama ini tidak secara langsung mengacu pada pemikiran Heidegger dan Rumi, tetapi penggambaran kehidupan abadi dan perjalanan karakter utama memberikan nuansa yang relevan dengan pandangan mereka. Drama "Goblin" menggabungkan elemen-elemen mitologi Korea dengan pertanyaan filosofis tentang arti hidup dan keberadaan manusia. Dalam perjalanannya, drama ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang kematian sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan menggali makna keabadian dalam konteks perjalanan spiritual.


Dengan menghadirkan cerita yang kompleks dan menarik, drama "Goblin" memberikan kesempatan bagi penonton untuk merenungkan makna kematian dan keabadian dalam konteks yang unik. Melalui perpaduan konsep dan makna dari Heidegger dan Rumi, drama ini menawarkan perspektif yang dalam tentang kehidupan, kematian, dan keberadaan manusia.


MAKNA YANG LEBIH DALAM DAN TAJAM


Setelah dalam beberapa waktu saya mempelajari literatur-literatur filsafat, perjalanan hidup menuntun saya untuk bertemu dengan amat sebagian kecil orang yang mendapat anugerah langka seperti Ji Eun-Tak yang dapat melihat, mendengar, dan berkomunikasi dengan makhluk roh dan orang yang sudah meninggal dunia. Kenyataan itu semakin memicu saya untuk kembali menengok drama ini sambil mengeksplorasi "kematian tertentu" (definite death) dan "kekhususan" (authenticity) ala Heidegger, "fanā" dan "baqa" ala Rumi.


Dalam pandangan Martin Heidegger, konsep "kematian tertentu" (definite death) dan "kekhususan" (authenticity) menjadi elemen penting dalam pemahamannya tentang kehidupan manusia. Heidegger berargumen bahwa kesadaran akan kematian yang pasti dan tak terhindarkan adalah apa yang memberikan arti dan kekhususan sejati pada kehidupan manusia.


Dalam drama "Goblin", kematian tertentu diwakili oleh karakter-karakter yang mengalami kematian konvensional. Kim Shin, meskipun memiliki kehidupan abadi sebagai Goblin, menyaksikan orang-orang yang ia cintai meninggal dunia secara pasti. Keberadaan mereka dalam kehidupan Kim Shin memiliki akhir yang tegas dan tidak dapat diubah. Ini mencerminkan konsep kematian tertentu Heidegger, di mana kematian menjadi bagian integral dari kehidupan manusia dan memberikan konteks dan kekhususan pada pengalaman manusia.


Selain itu, Heidegger juga menekankan pentingnya "kekhususan" (authenticity) dalam menjalani kehidupan. Ia berpendapat bahwa manusia cenderung hidup dalam keadaan takautentik, terjebak dalam rutinitas dan tuntutan sosial yang mengaburkan keaslian diri. Dalam drama ini, karakter Ji Eun-Tak menghadapi tantangan dalam mencari jati dirinya dan menemukan kekhususan dalam kehidupannya. Ia memiliki kemampuan khusus untuk melihat hantu dan mendengar bisikan tentang "pengantin Goblin", yang membawanya pada perjalanan yang menguji keautentikannya. Melalui perjuangannya, Ji Eun-Tak belajar untuk menjadi dirinya yang sejati dan menemukan kekhususan dalam hubungannya dengan Kim Shin.


Sementara itu, dalam ajaran Jalaluddin Rumi, sufi Persia terkenal, terdapat konsep "fanā" dan "baqa" yang berhubungan dengan kehidupan dan keabadian. "Fanā" mengacu pada penyerapan diri yang lengkap dan menyatu dengan Tuhan, di mana individu mengalami pemusnahan ego dan menjadi satu dengan yang Maha Esa. Dalam drama ini, Ji Eun-Tak, dengan kemampuannya untuk melihat dunia roh dan menjadi pengantin Goblin, mengalami pengalaman yang mendekati konsep "fanā". Ia memiliki ikatan khusus dengan alam gaib dan mengalami transformasi spiritual yang membawanya lebih dekat dengan keabadian.


Di sisi lain, konsep "baqa" merujuk pada keabadian dan kelangsungan eksistensi setelah melepaskan fisik. Dalam drama ini, Kim Shin sebagai Goblin hidup dengan kehidupan abadi, tetapi pengalaman-pengalaman yang ia alami membawa rasa hampa dan kehilangan makna. Dalam konteks ini, keabadian tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang positif atau diinginkan, tetapi juga dapat menjadi beban yang menghilangkan makna dari kehidupan manusia.


Dengan menggabungkan konsep-konsep dari Heidegger dan Rumi, drama "Goblin" secara tidak langsung mengajak penonton untuk merenungkan tentang kompleksitas kematian, keabadian, dan kekhususan dalam kehidupan manusia. Dalam pandangan Heidegger, kesadaran akan kematian yang pasti memberikan makna dan kekhususan pada kehidupan manusia. Kematian tertentu, yang diwakili oleh karakter-karakter yang mengalami kematian konvensional dalam drama ini, mengingatkan kita bahwa kehidupan memiliki batas yang jelas dan penting untuk dihargai.


Namun, dalam perjalanan Ji Eun-Tak dan Kim Shin, terdapat juga elemen-elemen dari ajaran Rumi yang menghadirkan dimensi spiritual dan transendental. Konsep "fanā" dalam ajaran Rumi menggambarkan proses pemusnahan ego dan penyatuan dengan Tuhan. Ji Eun-Tak mengalami transformasi spiritual melalui kemampuannya untuk berinteraksi dengan dunia roh, yang membawanya pada pemahaman yang mendekati konsep "fanā". Melalui pengalaman tersebut, ia menemukan kedalaman dan makna yang lebih dalam dalam hidupnya.


Selain itu, drama ini juga mempertimbangkan konsep "baqa" dari Rumi, yang merujuk pada keabadian dan kelangsungan eksistensi setelah melepaskan dunia fisik. Kim Shin sebagai Goblin hidup dalam keabadian, namun pengalaman-pengalaman yang ia hadapi membawa rasa hampa dan kehilangan. Ini menggambarkan bahwa keabadian itu sendiri tidak cukup untuk memberikan makna dan kepuasan yang sejati. Drama ini mengajak penonton untuk mempertimbangkan bahwa kehidupan yang penuh makna tidak hanya terletak pada keabadian, tetapi juga dalam kekhususan dan pengalaman hidup yang autentik.


Dalam keseluruhan drama "Goblin", konsep-konsep kematian tertentu, kekhususan, fanā, dan baqa diintegrasikan dengan cerita yang menarik, menghadirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan spiritual yang mendorong penonton untuk merenungkan tentang arti sejati kehidupan. Drama ini menunjukkan bahwa kematian dan keabadian tidak dapat dipahami secara terpisah, melainkan saling terkait dan mempengaruhi pengalaman hidup manusia. Dengan melihat melampaui kehidupan fisik dan menjelajahi dimensi spiritual, penonton diingatkan untuk hidup dengan kesadaran akan kematian, menghargai setiap momen yang diberikan, dan menemukan kekhususan serta makna yang autentik dalam kehidupan mereka.


PADA AKHIRNYA, TAKDIR


Dalam drama "Goblin" atau "Guardian: The Lonely and Great God", tema takdir memainkan peran penting dalam menggerakkan alur cerita dan perkembangan karakter. Drama ini mengeksplorasi bagaimana takdir dapat mempengaruhi kehidupan manusia dan memainkan peran kunci dalam pertemuan dan hubungan antara karakter utama.


Takdir terungkap melalui takdir Ji Eun-Tak yang ditakdirkan sebagai pengantin Goblin dan memiliki peran penting dalam mengakhiri kutukan hidup abadi Kim Shin. Meskipun ia awalnya tidak menyadari peran dan takdirnya, Ji Eun-Tak secara bertahap menyadari dan menerima tanggung jawabnya sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia supernatural.


Selain itu, takdir juga mempengaruhi hubungan antara karakter-karakter lain dalam drama ini. Ada takdir yang menghubungkan Ji Eun-Tak dengan Grim Reaper, seorang malaikat maut yang menjadi karakter sentral dalam cerita. Pertemuan mereka dan perjuangan mereka dengan takdir membawa perubahan mendalam pada kehidupan masing-masing.


Drama ini juga menunjukkan bahwa takdir tidak selalu tetap dan dapat berubah. Karakter-karakter dalam "Goblin" harus menghadapi pilihan-pilihan sulit dan mengambil tindakan yang akan membentuk takdir mereka sendiri. Mereka belajar bahwa takdir bukanlah sesuatu yang mutlak, tetapi dapat dipengaruhi oleh kehendak dan tindakan individu.


Melalui tema takdir, "Goblin" mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tentang nasib, pilihan, dan kekuatan manusia untuk mengubah arah hidup mereka. Drama ini mengajak penonton untuk merenungkan tentang kekuatan takdir dalam membentuk hidup seseorang, tetapi juga menginspirasi mereka untuk mengambil kendali atas takdir mereka sendiri dan membuat pilihan yang berani.


Dengan menggabungkan tema kematian, keabadian, dan takdir, "Goblin" menyajikan cerita yang penuh dengan intrik, emosi, dan refleksi tentang kehidupan manusia. Drama ini mengajarkan bahwa meskipun takdir dapat mempengaruhi perjalanan hidup seseorang, kekuatan individu untuk mengambil keputusan dan menghadapi tantangan memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk takdir mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar