Tulisan ini adalah catatan saya, Muhammad Qurrotul Aynan, dengan Ketua Bidang Eksternal PK PMII IAIN Jember, Riko Arifan.
Muhammad Qurrotul Aynan: Jika konsep bidang eksternal adalah 'pengawalan', maka pengawalan seperti apa gambarannya, dan contohnya apa saja?
Riko Arifan: Pengawalan pada ketimpangan sistem atau peraturan, ataupun keputusan yang dibuat oleh orang yg bertugas, yang mana itu bisa merugikan salah satu pihak (mahasiswa/masyarakat) , atau mengambil keuntungan pribadi.
Muhammad Qurrotul Aynan: Cakupan pengawalannya apa saja? Isu apa saja yang menjadi perhatian?
Riko Arifan: Yang pasti cakupan kampus dulu mulai dari tingkatan prodi, fakultas, sampai ke akademik, di situ bisa berupa pengawalan (kurikulum, fasilitas, UKT, dll termasuk pelanggaran yg dibuat mahasiswa, dosen, sampai tataran rektor). Baru setelah itu bisa ke cakupan luar kampus, bisa dimulai dari lingkungan terdekat maupun isu yg cakupan kecamatan dan kabupaten.
Muhammad Qurrotul Aynan: Apa beda 'pengawalan' di bidang eksternal dan 'pengawalan' di bidang lainnya?
Riko Arifan: Pengawalan di bidang external itu kondisional dan tidak di agendakan ataupun di jadwal,karna kita gak tau kapan akan ada masalah untuk di kawal
Muhammad Qurrotul Aynan: Pernahkah, atau mungkin bahkan sering, ditemukan pemahaman yang keliru atau kurang tepat mengenai bidang eksternal ini?
Riko Arifan: Pernah iya, sering juga banyak.
Muhammad Qurrotul Aynan: Berdasarkan pengalaman, ketimpangan sistem atau peraturan itu, bagaimana bisa terjadi dari segi sumberdaya manusia baik dari pengambil keputusan maupun dari mahasiswa, maupun dari segi sarana atau anggaran?
Riko Arifan: Orangnya tidak mau dibuat ruwet, yang penting, tidak ruwet bagi dirinya sendiri. Mahasiswanya juga tidak ada usulan sebelumnya, baru ketika terjadi masalah, mempermasalahkan. Jadi, kesadarannya masih kurang. Seharusnya seperti sebelum perkuliahan terjadi. Mengapa setelah pembelajaran terjadi, baru mempersoalkan. Mungkin, yang mengusulkan sekarang, baru bisa dinikmati setelahnya.
Muhammad Qurrotul Aynan: Juga, bagaimana menemukan celah adanya indikasi yang cenderung mengarah kepada mengambil keuntungan pribadi?
Riko Arifan: Menemukan celah, ini berkaitan dengan transparansi. Memang ada, tapi transparansi tidak ke mahasiswa, tetapi cukup ke pimpinan saja. Semisal, anggaran bangunan 4 M. Bisa dilihat, jika tidak sesuai, bangunannya sederhana tetapi menelan biaya besar, disitu bisa saja ada celah.
Muhammad Qurrotul Aynan: Adakah kesenjangan antara persepsi yang ada di benak mahasiswa yang biasanya mengandaikan kondisi yang linier dan ideal, dengan kondisi di lapangan?
Riko Arifan: Pasti ada lah kalau mengandaikan seperti itu. Tapi kita tidak bisa, karena kita terikat oleh sistem. Kita ada tuntutan, mengerjakan tugas lah, ini lah, itu lah. Tidak semua yang kita andaikan sesuai dengan harapan. Kalau kita mengandaikan, pasti yang enak buat kita. Sekali lagi, kita terikat dengan aturan-aturan, dengan beban mahasiswa baik tugas maupun lainnya.
Muhammad Qurrotul Aynan: Berdasarkan pengamatan saya, kerja-kerja bidang eksternal lebih merupakan kerja yang bersandar pada suatu seni, daripada bersandar pada konsep atau teori tertentu dalam ilmu pengetahuan. Yang jadi pertanyaan, bagaimana gambaran pemikiran strategis dan gambaran langkah taktis, baik saat pertama kali diberi kepercayaan di bidang eksternal maupun setelah cukup lama sampai di akhir periode?
Riko Arifan: Pemikirannya adalah bahwa kita harus mengetahui medan. Kalau belum tau, ya cari tau dulu. Selan itu, tau dan menyiapkan pasukan kita sendiri ataupun diri kita sendiri gitu. Setelah kita mengetahui ya ataupun belum mengetahui pastinya yang pertama kali harus kita persiapkan diri kita sendiri harus siap secara pribadi baik fisik maupun mentalnya, baru siap secara kelembagaan ataupun secara pasukan. Karena kalau kita tidak siap secara pribadi otomatis ya kita istilahnya lah menyerah. Menyerah di awal kita setelah siap secara pribadi baru secara kelembagaan karena kita tidak tahu kapan akan adanya masalah karena masalah itu kan datangnya secara tiba-tiba. Pastinya kalau kita tidak siap secara kelembagaan maupun keseluruhan, ketika ada masalah secara tiba-tiba kita juga kocar-kacir. Pemikirannya, jangankan untuk melakukan sesuatu, memikirkannya saja sudah kocar-kacir. Makanya harus siap secara kelembagaan atau secara pribadi. Saya ketika sudah lama di bidang eksternal ini ataupun di akhir periode ini, ya sudah banyak kan permasalahan yang kita hadapi, permasalahan-permasalahan yang sudah kita kawal, pastinya lebih mudah untuk memprediksi semisal terjadi apa permasalahan di kampus tanyakan. Karena kita udah beberapa kali melakukan penawaran pastinya lebih mudah untuk menebaknya. Kita sudah bisa memprediksi apa yang akan dilakukan pimpinan, apa yang akan dilakukan oleh kita sendiri gitu kan karena sebelumnya hal-hal yang sudah kita lakukan sebelumnya itu, kita bisa melakukan evaluasi disana semisal dulu kita gagalnya disini, kita bisa memperbaikinya
Muhammad Qurrotul Aynan: Bagaimana insting dapat bekerja dalam pelaksanaan langkah yang diambil?
Riko Arifan: Secara pribadi dan pasukan itu dapat bekerja dalam pelaksanaan langkah yang diambil, biasanya ketika dalam keadaan terdesak. Kebanyakan insting terjadi itu dalam keadaan terdesak. Semisal planning yang kita rencanakan planning A ataupun planning B itu gagal pasti insting bisa bekerja karena kita dalam keadaan terdesak itu akan lebih bekerja di situ. Walaupun bisa jadi insting itu tadi bekerja sebelumnya, semacam firasat. Tapi lebih banyak insting untuk bekerja itu ketika dalam keadaan terdesak itu. Maklum kalau terjadi dalam keadaan terdesak bagi orang-orang yang bekerja di lapangan. Karena kita ya juga memikirkan sebelumnya ya prediksi sebelumnya. Tapi tidak bisa untuk percaya seratus persen prediksi kita. Jadi harus melihat di lapangan.
Muhammad Qurrotul Aynan: Risiko apa saja yang dihadapi di bidang eksternal ini?
Riko Arifan: Risiko entah mungkin diserang isu atau ada opini yang mungkin menyesatkan atau bahkan bisa jadi risiko itu terjadi mungkin ada secara fisik lah. Kita tidak pernah tahu soalnya ketika kita gagal dalam melakukan pengawalan pastilah ada semacam isu-isu miring ketika kita berhasil. Kadang kita bisa dianggap mengambil keuntungan ataupun ada dengan pihak-pihak tertentu secara kelembagaan risikonya ya sama pasti ada isu-isu baik itu ketika kita berhasil ataupun tidak. Kalau resiko secara fisik ketika melakukan pengawalan pasti ada ancaman-ancaman ataupun pemukulan. Kita harus siap namanya juga kita orang-orang lapangan yang melakukan pengawalan. Ancaman-ancaman seperti itu pasti ada ataupun ancaman-ancaman dari pihak aparat itu ada karena orang-orang yang kita hadapi itu orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita lebih punya finansial dari kita dan kita hanya bisa mengandalkan massa. Jadi mereka pasti menghadapinya, istilahnya kalau kita definisikan itu, kalau kita ambil sopirnya pastinya penumpangnya tidak bisa jalan. Kepalanya yang pasti punya risiko lebih besar. Kalau kita tidak dihargai dalam melakukan perjuangan ya kita harus siap menerima lah. Tergantung kita sendiri kan kita maunya kita berjuang secara ikhlas apa kita cuma mau mendapatkan pujian ataupun kita mau mendapatkan keuntungan. Bisa jadi kita secara pribadi ngomong kita melakukan ini ikhlas. Cuma orang lain belum tentu tahu apa yang kita lakukan. Bisa jadi seseorang mengambil keuntungan dari hal yang dilakukan itu.
Muhammad Qurrotul Aynan: Kembali ke soal pengawalan. Seperti dikatakan tadi, dapat dikatakan bahwa pengawalan berfungsi utamanya sebagai pengawasan. Sebagai pengawasan, paling tidak, sepemahaman saya, memiliki tujuan untuk: Pertama, pengawasan transparansi dan akuntabilitas untuk meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa; Kedua, pengawasan untuk meningkatkan sinergi antara sivitas akademika baik antara tenaga pendidik, tenaga administrasi di masing-masing bagian dan sub-bagian, dengan mahasiswa; Ketiga, pengawasan untuk kinerja agar tetap di dalam jalurnya. Menurut Anda?
Riko Arifan: Menurut saya sama, cuma beda bahasa.
Muhammad Qurrotul Aynan: Sedangkan sasaran yang saya pahami, paling tidak: Pertama, menurunnya ketimpangan sistem dan aturan dalam pengambilan keputusan; Kedua, bersama menjaga dan merawat sarana dan fasilitas yang dapat mendukung pelayanan; Ketiga, sumberdaya manusia yang ada dapat betul-betul profesional; Keempat, ada tindak lanjut dari upaya penyelesaian persoalan yang ada; Kelima, sinergi antar pihak dapat meningkat; Keenam, terkendalinya setiap fungsi dan tidak terjadi penyimpanan wewenang. Menurut Anda? Seperti apa saja indikator dari kesemuanya?
Riko Arifan: Menurut saya untuk yang pertama itu lebih pada tidak adanya sosialisasi ataupun meminta pendapat kepada mahasiswa karena yang merasakan fasilitas ataupun perkuliahan mahasiswa. Walaupun iya, dosen juga merasakan. Paling tidak kan ada lah saran gitu kan. Saran yang dibuka secara umum untuk pimpinan itu dalam pengambilan keputusan apa-apa saja yang diperlukan oleh mahasiswa. Apa saja yang masih kurang dalam perkuliahan ataupun fasilitas secara umum. Untuk yang kedua bisa menjaga dan merawat sarana kalau ini masih bisa. Jadi lebih banyak pada mahasiswanya karena kesadaran untuk menjaga fasilitas itu masih kurang. Dikatakan masih kurang khususnya terjadi di kampus sendiri lah karena kebanyakan fasilitas-fasilitas yang dirusak itu kan mahasiswa sendiri yang merusaknya baik itu yang disengaja ataupun tidak tapi lebih banyak yang saya rasa itu disengaja. Untuk yang ketiga, untuk masalah profesional itu ya kembali tadi seperti yang saya sampaikan ya siapa sih manusia yang mau ribet kan gitu. Kebanyakan tidak mau ribet lah senangnya dan juga kalau bisa malah menguntungkan kepada secara pribadi tidak mau ribet dan maunya diuntungkan. Itu yang mempengaruhi sumber daya manusianya itu kurang profesional. Untuk yang keempat ada tindak lanjut dari upaya penyelesaian persoalan yang ada, tindak lanjut untuk menyelesaikan masalah ini cara untuk akhir-akhir ini masih ada lah. Kalau sebelumnya, bukannya mau meremehkan, tindak lanjut itu lebih tertutup, kurang terbuka. Juga kadang hasilnya tiba-tiba sudah ini kan. Sedangkan orang-orang luar itu tidak tahu tidak lanjutnya, prosesnya seperti apa. Itu kalau akhir-akhir ini banyak kan lebih terbuka tindak lanjutnya. Sebelumnya komunikasi dan informasi itu macet. Sekarang mungkin bisa jadi karena kemajuan teknologi, kalau sekarang lebih mudah dan juga sumber daya mahasiswanya sudah sekarang kan orang-orang yang yang berminat di bidang menulis lebih banyak. Kita melakukan wawancara kepada orang-orang yang melakukan pengawalan lebih banyak. Kalau dulu kan mungkin kita hanya mengandalkan media-media berita yang dari luar itu kan kalau sekarang kan kita sendiri. Kita sendiri yang sudah banyak yang menulis jadi ya informasi itu lebih mudah. Makanya ketika kita melakukan pengawalan pasti kita juga melakukan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan itu kan. Pasti mendapatkan kritik dari kita sendiri disana. Jadi kita jangan sampai kalau ada orang-orang melakukan pengawalan itu, jangan baper ataupun apa ketika mendapatkan kritikan dari orang lain kalau demi kebaikan. Untuk yang kelima, ketika melakukan koordinasi dan komunikasi ataupun menginformasikan itu, kepada orangnya langsung. Jadi tidak termakan isu-isu miring ataupun isu dari luar. Kalau kita menitipkan pembicara kepada orang ya itu akan bertambah, bisa jadi bertambah bisa jadi berkurang dan substansinya bisa berubah. Kalau kita melakukan komunikasi ataupun koordinasi itu langsung kepada pihak yang berkaitan. Kalau terkendalinya setiap fungsi itu pertama harus kembali pada pribadi ataupun orang-orang yang bertanggung jawab di setiap tupoksi nya ataupun tanggung jawabnya. Kalau kita melakukan sesuai tupoksi ataupun tanggung jawab atas pribadi pastinya penyimpangan itu tidak akan terjadi. Semisal saya contohkan kepada saya sendiri gitu kan. Kalau saya selaku bidang eksternal itu sok-sokan dalam melakukan agenda, semisal agendanya bidang satu lah. Semisal ada agenda kajian gitu, walaupun saya bisa tapi kan belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh bidang satu. Jadi bisa belum tentu sesuai. Walaupun kita bisa belum tentu sesuai dengan apa yang kita rencanakan ataupun yang kita harapkan. Terjadinya penyimpangan wewenang pastinya ya itu tadi. Ketika saya melakukan hal seperti itu sedangkan tidak adanya komunikasi terlebih dahulu itu ya terjadi penyimpangan lah itu sudah menjadi terjadi penyimpangan.
Muhammad Qurrotul Aynan: Pencapaiannya apa saja? Yang sudah diketahui mungkin efektivitas pengajuan keringanan UKT. Selain itu mungkin ada lagi?
Riko Arifan: Pencapaian yang sudah kita dapatkanlah istilahnya, ya lebih cepat ya. Kita udah lebih cepat dan juga lebih banyak kuota yang kita terima. Kalau dulu kita masih di luar kan dengan ini ya. Karena dengan persyaratan, karena waktu pengajuan sampai batas akhir pengajuan itu dari awal itu terlalu mepet. Sedangkan mahasiswa itu kan rumahnya jauh. Yang dekat bisa menyiapkan itu secara instan ataupun tidak terlalu lama ya 12 hari mungkin bisa. Kalau orang orang-orang yang rumahnya jauh bisa jadi luar kota ataupun luar provinsi. Kalau cuma luar kota mungkin bisa diusahakan. Kalau sudah daerah barat apalagi luar provinsi untuk mempersiapkan persyaratan tersebut itu membutuhkan waktu. Okelah orang tua kita, tapi orang lain yang contohnya kemarin itu ada orang Lampung adik tingkat saya sendiri itu pengiriman persyaratan 7 hari, nyampe ke sini masih 7 hari. Sedangkan pengajuan itunya berapa hari atau 7 hari juga kalau gak salah, 7 hari juga, cuma pastinya akan terjadi keterlambatan. 7 hari itu kan dari awal surat pemberitahuan itu diturunkan, hari pertama itu sudah masuk hitungan hari pertama sampai hari ketujuh. Sedangkan untuk pengirimannya saja, untuk menginformasikan saja itu kan juga membutuhkan waktu mengurusnya, ditentukan waktu pengirimannya 7 hari. Kalau mengurusnya 1 hari mungkin terlambat 1 hari, kalau mengurusnya 2 hari mungkin ya lebih pada perpanjangan waktu pengajuan itu yang masih kita kurang maksimal. Coba dari turunnya SK ataupun pengumuman yang dari pimpinan itu waktunya lebih efektif, lebih apa ya, dipermudah pada mahasiswa karena melihat kondisi jarak rumah gitu kan. Belum lagi kita dibuat ruwet di mengurus administrasi nya itu. Kan Kepala Desa tidak semua orang sama. Kadang ada yang harus bayar kan. Jadi kalau waktunya bisa paling tidak satu bulan ini ya. Tapi untuk pencapaian itu sudah kuota lebih banyak daripada sebelumnya. Mungkin juga karena faktor covid lah kampus juga memperbanyak kuota gitu kan karena yang terdampak covid itu secara umum itu berdampak semua baik secara ekonomi ataupun yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar