Oleh : Septian Eka Dewanto
Mata adalah salah satu indera yang paling sering kita gunakan untuk mengamati suatu objek, hal ini berlaku saat kita menilai seseorang untuk pertama kali. Objek, baik benda maupun makhluk hidup seperti manusia, pertama kali yang bisa diamati adalah bagian yang bisa dilihat yaitu fisiknya. Untuk lebih jauh mengetahui tentang seseorang, gambaran awal pribadi seseorang pastilah tercermin dari tampak luar fisiknya.
Lain dari pada itu, ada sebuah pepatah yang menyebutkan "don't judge a book by its cover" yang berarti janganlah menilai sebuah buku hanya dari sampulnya. Mungkin pepatah inilah yang sesuai untuk menggambarkan sosok manusia, termasuk sosok manusia anomali yang saya tulis. Namanya Muhammad Qurrotul Aynan, sering ditulis M. Q. Aynan, dan biasa dipanggil Aynan. Orang yang baru saya kenal beberapa bulan yang lalu.
Pertama kali saya bertemu dengannya dalam sesi screening sebuah acara pelatihan sebelum pelaksanaan. Saat itu di sebuah ruangan hanya ada dia karena dialah pertama kali menyeleksi karya tulis saya sebagai salah satu persyaratan untuk bisa mengikuti pelatihan. Sesi tersebut bahkan tidak sampai lima menit, dia hanya mengomentari kutipan saya yang kurang referensinya di paragraf kedua dan kelima dalam artikel terkait tersebut.
Saat pertama melihatnya, saya yakin akan banyak orang yang akan terkecoh dengan penampilan luarnya, sifatnya yang pendiam dan jarang sekali memulai percakapan dengan orang baru membuat pribadinya memiliki kesan misterius. Sama seperti dengan orang baru, dia jarang sekali mulai percakapan, bahkan dengan orang yang sudah dikenal.
Bukan hanya itu, pola pikirnya yang unik membuat ia menjadi pribadi yang sulit ditebak. Jika orang lain pola pikirnya kebanyakan mengikuti siapa dan bagaimana lingkungan sekitarnya, maka dia, saya rasa lebih suka mengamati dulu sebelum bertindak dan bersikap. Oleh karenanya, dia lebih banyak diam dan kadang hanya mengutarakan pendapat di akhir saja
Deskripsi saya yang demikian tentu akan membuat orang lain memiliki persepsi yang bermacam-macam terhadap sosok manusia satu ini, karena sejatinya manusia satu dengan yang lain selalu memandang satu hal dengan gambaran yang berbeda-beda dalam dirinya. Mungkin ada sekolompok orang menganggap sosok Aynan ini pribadi yang biasa-biasa namun bagi sekelompok lainnya ia bisa dianggap sebagai sosok yang inspiratif.
Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, mengapa saya mau menulis hal yang demikian dan seolah menggambarkan karakternya yang demikian secara hiperbolis. Alasannya sederhana, ia pandai menghargai bakat orang lain. Dia berusaha menempatkan orang yang tepat untuk tempat, posisi, atau job description yang tepat sehingga orang tadi merasa bermanfaat dan berguna.
Tulisan ini adalah bentuk penghargaan balik saya kepada pribadinya. Pesan tersuratnya adalah tempatkanlah sesuatu pada tempatnya, bertemanlah dengan orang yang ingin berteman denganmu dan hargailah orang lain yang sudah menghargai dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar