Di alam dunia yang serba-serbi ini, saya sendiri, mungkin juga pembaca, sering dihadapkan pada sejumlah pilihan yang membuat bimbang untuk menentukan pilihan. Apalagi, jika antara pilihan tersebut bertentangan, padahal inginnya dipilih semua. Pertentangan itupun terkadang menimbulkan konflik batin, manakah di antara pilihan tersebut yang merupakan pilihan terbaik.
Apa dan siapa yang akan dipilih menjadi prioritas utama, saya yakin jawabannya adalah keluarga. Persoalannya, istilah keluarga tidak hanya merujuk kepada anggota keluarga yang memiliki hubungan darah. Lebih dari itu, orang-orang yang dianggap sebagai anggota keluarga itu juga termasuk orang-orang yang baru dipilih dan dianggap sebagai keluarga.
Keluarga sebagai prioritas utama, paling tidak, dapat dibicarakan dengan dua persoalan. Pertama, persoalan keluarga antara personalitas dan identitas. Kedua, keluarga sebagai aset terbesar yang dimiliki.
Antara personalitas dan identitas, saya teringat akan acara Kenduri Cinta yang pernah saya tonton. Dikatakan bahwa personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature, alami. Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, buatan.
Personalitas sifatnya given, terberi, tidak dapat dipilih. Sifatnya tak ada tawar menawar, tanpa negosiasi, langsung ke diri. Sementara identitas adalah bentuk, rupa, yang diciptakan, dibuat, diwujudkan, berdasarkan personalitas. Identitas terbentuk dari pergulatan dengan lingkungan dan juga dihasilkan dari pilihan-pilihan seseorang dalam menjalani kehidupan. Ini berkaitan dengan menentukan pilihan tentang apa saja dan siapa saja.
Menurut hemat saya, ketika seseorang dihadapkan pilihan sulit antara cenderung memilih personalitas atau identitas, dan ia lebih memilih identitas, berarti ia lebih dibentuk oleh pergulatan dengan lingkungannya. Dalam pengamatan saya, biasanya orang seperti ini menentukan pilihan berdasarkan kemauan, keinginan, ketertarikan, dan sejenisnya. Sedangkan seseorang yang cenderung lebih memilih personalitas, biasanya ia menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan, keperluan, kepentingan, panggilan nurani, dan semacamnya.
Dan saya, termasuk orang yang lebih cenderung ke personalitas daripada identitas, sebab bagi saya identitas hanya fenomena. Argumentasi saya, salah satunya, adalah bahwa ketika seseorang menentu pilihan berdasarkan identitas, ia cenderung mudah untuk mengubah dan mengganti pilihannya, ketika kehilangan selera.
Lain halnya jika seseorang itu menentukan pilihan berdasarkan personalitas, maka ia memang cenderung lambat menentukan pilihan. Tetapi, ketika sekali menentukan pilihan, maka sulit untuk mengubah dan mengganti pilihan itu. Termasuk dalam konteks ini, memilih keluarga seperti apa dan siapa saja yang menjadi anggota keluarga.
Selanjutnya, pembicaraan soal antara personalitas atau identitas tentang keluarga, menurut saya ada hubungannya dengan keluarga sebagai aset terbesar. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, seseorang terhubung dengan keluarganya, karena personalitas atau identitas.
Namanya keluarga, itu adalah lingkaran yang menyediakan kesempatan untuk berbagi renungan, cerita lucu, kisah dan kabar terbaru. Di sana bersama mereka, seseorang tidak perlu khawatir jika anda sering mengungkapkan ungkapan Verbal dan non-verbal yang mungkin urakan atau menjengkelkan, bahkan hal itu justru dapat membuat anggota keluarga anda merasa terhibur dan ikut bersenda gurau.
Lebih dari itu, bersama mereka di sana, sesama anggota keluarga saling memberikan perhatian, kepedulian, ada rasa kepemilikan dan ikut merasa bertanggungjawab terhadap tujuan dan sasaran yang diperoleh masing-masing anggota keluarga. Dari hal sepele seperti bayar air, bayar listrik, kondisi keuangan, kondisi kesehatan, bahkan obrolan bermakna di meja makan, atau melihat apakah rutinitas belajar dan rutinitas profesi yang dilakukan sudah sesuai dengan yang dia harapkan.
Akhirnya, keluarga, sebagai satuan terkecil sebuah kumpulan manusia, bagian internal dan integral dari diri. Betapapun tampak dapat dipilih apabila dilihat dari permukaan, tetapi di dalam inti, adalah bagian dari personalitas. Berarti, itu adalah sesuatu yang bersifat terberi, suatu anugerah, suatu takdir, yang sudah tertulis jauh dalam suratan. Oleh karena itu, anugerah tersebut adalah aset terbesar, yang tidak ternilai, yang terhubung karena suatu panggilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar