M. Q. Aynan
Saya, sebagai teman, sudah seharusnya mendukung teman yang punya bisnis, paling tidak membuatnya bertahan, atau malah berkembang. Namanya teman, sebagai salah satu pihak terdekat, yang bahkan bisa jadi sudah kenal lama, wajar apabila saling bantu.
Saya punya kegelisahan pribadi terhadap fenomena pertemanan yang disadari atau tidak, secara perlahan justru tidak mendukung terhadap kebertahanan, apalagi perkembangan usaha atau bisnis seseorang. Makin banyak teman justru makin membuat khawatir, bukan malah menjadi peluang untuk mengembangkan bisnis. Saya pikir, itu berasal dari pola pikir yang kurang tepat hingga akhirnya memunculkan sikap yang kurang tepat pula.
Saya secara pribadi berusaha bersikap seperti ini jika ada teman yang punya usaha atau bisnis. Antara lain:
Pertama, Tidak ada yang gratis. Sekecil apapun pelayanan dan barangnya. Misalnya saya sedang buru-buru untuk desain selebaran, sementara saya masih kerepotan. Akhirnya saya minta tolong ke orang lain. Meski menurut orang lain mungkin desainnya "cuma begitu", sederhana sekali, tetap saya pikir harus ada rupiah yang keluar.
Kedua, Harga teman justru lebih mahal. Orang lain mungkin berpikiran bahwa harga teman itu lebih murah. Kalau itu dari sisi penjual atau pemilik jasa mungkin iya. Tapi dari sisi pembeli atau pelanggan, justru harga teman lebih mahal. Pola pikirnya, kalau kepada orang lain saja berani bayar, kepada teman bisa bayar lebih mahal.
Ketiga, Ada ongkos kirim meski dekat. Mengantarkan barang pastinya menghabiskan bahan bakar. Kalaupun dibilang tidak usah, paling tidak tetap membayar ongkos kirim meski cuma seribu rupiah.
Keempat, Tidak berutang. Kalau terpaksa berutang, saya minta teman saya untuk menagihnya. Kalau perlu, jika utangnya lima puluh ribu, saya bayarkan lima puluh satu ribu, sebagai tanda terimakasih, untuk tidak disebut bunga.
Kelima, Membeli untuk memuji. Wajar bila usaha atau bisnis, apalagi yang baru merintis, ada kekurangan. Tapi prinsipnya adalah, kritik secara pribadi, puji di depan umum. Kalau sedang berdua saja dengan si penjual atau pemilik jasa, saya tidak segan untuk berpendapat apa adanya. Tidak ada orang lain lagi. Kalau sedang bersama orang lain, maka saya berupaya untuk memuji, tapi tidak berlebihan.
Keenam, Harga pas. Saya meski bukan kepada teman, apalagi kepada teman, berupaya untuk tidak perlu mencari potongan harga. Saya juga malas kalau masih menawar harga. Lebih suka langsung berapa harga pasnya.
Siapa tahu, sikap saya yang seperti itu bisa berkontribusi kepada teman untuk bertahan hidup, membayar tagihan listrik atau air, terlebih menjaga pertemanan agar awet.
Boleh juga nih
BalasHapus