---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 04 Mei 2026

Sangkan Paraning Dumadi: Arti Makna Kalimat Istirja’ “Innā lillāhi wa innā ilayhi rājiʿūn”

Sangkan Paraning Dumadi: Arti Makna Kalimat Istirja’ “Innā lillāhi wa innā ilayhi rājiʿūn”

Ada sesuatu yang janggal dalam cara kita memaknai sebuah kalimat yang begitu agung, tetapi justru kita sempitkan dalam ruang duka. Setiap kali terdengar kabar kematian, spontan kita mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilayhi rājiʿūn.” Namun anehnya, arah makna kita hampir selalu menunjuk keluar, kepada yang telah pergi transit ke alam barzakh, bukan ke dalam, kepada diri yang masih tinggal di alam dunia. Seolah-olah kalimat itu hanya milik mereka yang wafat, bukan milik kita yang masih hidup.

Padahal, jika kita berhenti sejenak dan benar-benar menyimak kalimat itu, ada getaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar ungkapan belasungkawa. Ia bukan hanya kalimat pengantar perpisahan, tetapi pernyataan paling mendasar tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali.

Kita telah lama terlatih untuk mengasosiasikan istirja’ dengan kesedihan. Dalam praktik sosial, ia menjadi bahasa empati, semacam kode bersama untuk menyatakan simpati. Namun di balik itu, terjadi penyempitan makna yang halus tapi signifikan. Kalimat yang seharusnya membangunkan kesadaran eksistensial justru direduksi menjadi respons emosional.

Mengapa demikian? Karena manusia cenderung lebih nyaman mengarahkan kesadaran ke luar daripada ke dalam. Mengatakan “dia telah kembali kepada Allah” terasa lebih ringan daripada mengakui “aku juga sedang menuju ke sana.” Yang pertama adalah pengamatan, yang kedua adalah konfrontasi.

Di sinilah letak bias fokus itu bekerja. Kita menjadikan kematian orang lain sebagai peristiwa, bukan sebagai cermin. Kita melihatnya sebagai kejadian eksternal, bukan sebagai pengingat internal. Padahal, setiap kematian sejatinya adalah pesan diam yang ditujukan kepada yang hidup.

Kalimat istirja’ hadir justru pada momen ketika manusia paling rentan terguncang: saat kehilangan. Dalam Al-Qur'an, ia muncul sebagai respons orang beriman ketika ditimpa musibah. Tetapi penting untuk disadari, bahwa musibah itu bukan sekadar peristiwa kehilangan, melainkan momentum retaknya ilusi kepemilikan.

Ketika sesuatu yang kita anggap “milik kita” diambil, barulah kita dipaksa menghadapi kenyataan bahwa sebenarnya kita tidak pernah benar-benar memiliki. Di situlah kalimat “Innā lillāh” menemukan maknanya. Bukan sekadar pengakuan verbal, tetapi pembongkaran total atas ego kepemilikan.

Dan ketika dilanjutkan dengan “wa innā ilayhi rājiʿūn”, ia bukan hanya berbicara tentang yang telah pergi, tetapi tentang arah perjalanan kita semua. Ini bukan kalimat retrospektif, melainkan proyeksi eksistensial. Ia menunjuk ke depan, ke sesuatu yang pasti, tak terelakkan.

Jika kita tarik lebih lanjut, kita akan menemukan resonansinya dengan konsep Jawa yang dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Sebuah ungkapan yang sederhana, tetapi memuat kedalaman filosofis yang luar biasa. Ia berbicara tentang asal, proses, dan tujuan.

“Sangkan” adalah asal-usul, “paran” adalah tujuan akhir, dan “dumadi” adalah proses menjadi, kehidupan itu sendiri. Dalam tiga kata ini, terkandung seluruh narasi eksistensi manusia. Dan jika kita cermati, struktur maknanya selaras dengan kalimat istirja’.

“Innā lillāh” adalah sangkan, asal kita dari Allah. “Wa innā ilayhi rājiʿūn” adalah paran, tujuan akhir kita kembali kepada-Nya. Sementara hidup yang kita jalani saat ini adalah dumadi, ruang di mana kesadaran dibentuk, diuji, dan dimatangkan.

Namun dalam praktiknya, manusia sering terjebak dalam “dumadi” tanpa orientasi. Kita hidup, bergerak, berusaha, tetapi sering lupa arah. Kita sibuk mengelola perjalanan, tetapi lupa tujuan.

Di sinilah istirja’ seharusnya berfungsi sebagai kompas. Ia bukan sekadar kalimat penghibur, tetapi penunjuk arah. Ia mengingatkan bahwa semua yang kita alami, seperti kehilangan, keberhasilan, pertemuan, perpisahan, adalah bagian dari perjalanan pulang.

Akan tetapi, karena kita jarang merenungkannya secara mendalam, kalimat ini kehilangan daya transformasinya. Ia menjadi rutinitas lisan tanpa resonansi batin. Kita mengucapkannya, tetapi tidak benar-benar mendengarnya.

Lebih jauh lagi, ada kecenderungan psikologis yang membuat kita mengalihkan makna istirja’ kepada orang lain. Ini adalah bentuk perlindungan diri yang halus. Menghadapi kenyataan bahwa kita akan mati bukanlah hal yang mudah.

Maka pikiran mencari jalan pintas: fokus pada yang wafat, bukan pada kemungkinan kematian diri sendiri. Ini adalah mekanisme pertahanan yang membuat kita tetap “nyaman,” meskipun sebenarnya menjauhkan kita dari kesadaran sejati.

Padahal, jika kita berani jujur, kalimat istirja’ adalah salah satu kalimat paling “tegas” dalam tradisi spiritual. Ia mengatakan dengan lugas bahwa kita tidak memiliki apa-apa, dan bahwa kita tidak akan tinggal lama.

Namun justru dalam “ketegasan” itulah terdapat kelembutan yang sejati. Karena dengan menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa, kita dibebaskan dari beban mempertahankan ilusi. Dan dengan menyadari bahwa kita akan kembali, kita diberi arah.

Kesadaran ini, jika benar-benar dihayati, akan mengubah cara kita menjalani hidup. Kita tidak lagi terlalu melekat pada hal-hal yang fana. Kita tidak lagi hancur berlebihan saat kehilangan. Kita tidak lagi jumawa saat memperoleh.

Semua menjadi lebih proporsional, lebih ringan, lebih selaras. Bukan karena kita menjadi apatis, tetapi karena kita melihat segala sesuatu dalam konteks perjalanan pulang.

Dalam kerangka Sangkan Paraning Dumadi, hidup bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang menjalani. Bukan tentang mengumpulkan, tetapi tentang menyadari. Bukan tentang menetap, tetapi tentang bergerak menuju.

Ketika seseorang meninggal, sebenarnya ia hanya melanjutkan fase perjalanan yang pasti akan kita tempuh juga. Ia bukan “berbeda,” hanya “lebih dulu.” Namun anehnya, kita sering memperlakukannya seolah-olah itu bukan urusan kita.

Kita berkata, “dia sudah kembali,” tetapi lupa bahwa kita juga sedang dalam proses kembali. Kita mengantar, tetapi tidak merasa sedang menyusul. Kita menyaksikan, tetapi tidak merasa sedang berjalan ke arah yang sama.

Di sinilah istirja’ seharusnya menjadi titik balik kesadaran. Bukan sekadar kalimat yang diucapkan di bibir, tetapi gema yang mengguncang batin. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya: ke mana sebenarnya kita sedang berjalan?

Jika pertanyaan itu muncul dengan jujur, maka hidup tidak akan lagi dijalani secara sembarangan. Setiap pilihan akan dipertimbangkan dalam cahaya tujuan akhir. Setiap langkah akan terasa lebih bermakna.

Kesadaran akan “paran” membuat “dumadi” menjadi terarah. Tanpa itu, hidup mudah terombang-ambing oleh keinginan sesaat, tekanan sosial, atau ilusi keberhasilan.

Dan di titik ini, kita mulai memahami bahwa istirja’ bukanlah kalimat untuk orang yang mati, melainkan untuk orang yang hidup. Ia adalah pengingat bahwa waktu kita terbatas, dan arah kita sudah ditentukan.

Maka setiap kali kita mengucapkannya, semestinya ada dua lapisan kesadaran yang hadir. Yang pertama, empati kepada yang tertimpa musibah. Yang kedua, refleksi mendalam tentang posisi diri kita sendiri.

Jika hanya yang pertama yang hadir, maka kita kehilangan setengah dari maknanya. Jika keduanya hadir, maka kalimat itu menjadi hidup, menyentuh, menggugah, dan mengarahkan.

Dalam konteks yang lebih luas, integrasi antara istirja’ dan Sangkan Paraning Dumadi membuka ruang pemahaman yang kaya. Ia menggabungkan ketegasan tauhid dengan kedalaman kontemplasi.

Yang satu memberi kejelasan arah, yang lain memberi kedalaman rasa. Yang satu menyebut nama, yang lain mengajak menyelami makna. Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran yang utuh.

Kesadaran bahwa kita berasal dari Yang Satu, berjalan dalam proses yang penuh makna, dan akan kembali kepada-Nya. Kesadaran ini tidak membuat hidup menjadi suram, justru sebaliknya, ia membuat hidup menjadi jernih.

Karena ketika arah sudah jelas, perjalanan tidak lagi membingungkan. Ketika tujuan sudah pasti, langkah tidak lagi ragu. Dan ketika kita tahu bahwa semua akan kembali, kita tidak lagi terlalu takut kehilangan.

Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita ubah bukanlah kalimatnya, tetapi cara kita mendengarnya. Bukan pada kata-kata yang kita ucapkan, tetapi pada kesadaran yang kita hadirkan saat mengucapkannya.

Karena di balik kalimat sederhana itu, tersimpan peta besar tentang kehidupan. Peta yang menunjukkan dari mana kita datang, di mana kita berada, dan ke mana kita akan kembali.

Dan mungkin, selama ini, kita terlalu sibuk mengantarkan orang lain pulang, hingga lupa bahwa kita sendiri sedang berjalan di jalan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar