---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 04 Mei 2026

Ia yang Turut Serta Membangun Kesadaran dan Kepedulian

Ia yang Turut Serta Membangun Kesadaran dan Kepedulian


*Tulisan berikut ini adalah bagian dari seri tulisan yang saya minta dari orang lain, tentang ringkasan makna hidup saya.

• Draf awal ditulis oleh Moh Ibnu Abdillah Sutio

• Hasil akhir disunting oleh saya sendiri


Pertemuan itu tidak hanya mempertemukanku dengan dirinya, tetapi dengan begitu banyak sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Dari percakapan-percakapan yang tampak sederhana, aku mulai melihat bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang tunggal dan beku, melainkan arus yang bergerak, saling bersinggungan, saling menguji. Ia membawaku mengenal referensi, cara melihat, dan sikap terhadap suatu hal, bukan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, tetapi sebagai kemungkinan yang harus dipertimbangkan. Dari tukar-menukar sudut pandang itu, perlahan lahir dasar-dasar baru dalam diriku, yang tidak hanya tinggal sebagai pemahaman, tetapi menjelma menjadi cara bersikap ketika aku kembali pada ruang-ruang nyata di sekitarku.


Ia mula-mula hadir dalam hidupku ketika namanya beredar di antara kawan-kawan organisasi, disebut-sebut oleh mereka sebagai orang yang pandai, tajam, dan tidak mudah dilawan di meja diskusi. Aku termasuk yang memilih menjaga jarak, bukan karena tidak ingin mendekat, tetapi karena saat belum benar-benar mengenalnya, aku merasa saat itu belum cukup setara untuk bertemu di suasana perdebatan. Dalam bayanganku waktu itu, berbicara dengannya menuntut bekal: pengetahuan yang luas, bacaan yang banyak, dan kesiapan untuk mempertanggungjawabkan setiap kata. Dan karena aku merasa belum cukup memiliki itu semua waktu itu, aku memilih untuk berjarak terlebih dahulu, seolah-olah jarak adalah cara paling aman untuk menjaga diri dari kemungkinan terlihat tidak tahu.


Ada semacam jarak yang tidak diucapkan. Namun jarak itu, seperti banyak hal lain dalam hidup, tidak bertahan selamanya. Ia mulai runtuh bukan karena aku menjadi lebih berani, tetapi karena keadaan seperti sedang memaksa kami berada dalam ruang yang sama, ruang di mana percakapan tidak lagi bisa dihindari.


Di situlah aku menyadari bahwa apa yang selama ini mereka persepsikan ternyata bukanlah sosoknya, melainkan bayangan tentangnya. Ia tidak datang sebagai hakim yang mengadili orang lain, tetapi sebagai seseorang yang membuka percakapan dengan cara yang tidak biasa: bukan dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan.


Pertanyaan-pertanyaan itu mula-mula terasa ringan, bahkan sepele. Tetapi semakin aku layani, semakin aku merasa sedang ditarik ke dalam sesuatu yang lebih dalam. Ia bukan orang yang memberi kepastian yang menenangkan, melainkan menggugah kegelisahan yang memaksa. “Kenapa kamu berpikir begitu?” atau “Apa dasar yang kamu pakai?” "Bagaimana jika....?" pertanyaan-pertanyaan yang terasa 'menjebak' kesadaranku dan memaksaku berpikir ulang.


Dari situlah, fondasi itu mulai dibangun. Bukan fondasi pengetahuan dalam arti hafalan atau kumpulan teori, melainkan fondasi cara berpikir. Ia mempertemukanku dengan berbagai sudut pandang, membuka jalan pada arus ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak kukenal. Nama-nama seperti Lao Tzu dan Sun Tzu bukan sekadar tokoh dalam buku, tetapi menjadi bagian dari cara baru dalam memahami dunia. 


Ia tidak hanya memperkenalkanku pada kerangka berpikir, tetapi juga pada laku, pada bagaimana pengetahuan seharusnya menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana, aku mulai mengenal kembali wacana lain seperti soal berdzikir, bukan sekadar sebagai rutinitas, tetapi sebagai kesadaran. Ia juga membukakan jalan pada literatur tasawuf, menghadirkanku pada bacaan seperti terjemahan Ihya' Ulumiddin karya Al-Ghazali, serta nama-nama lain dalam dunia tasawuf yang sebelumnya terasa jauh. Setiap referensi yang ia singgung tidak berhenti sebagai informasi, melainkan berkembang menjadi dasar untuk bersikap dalam kehidupan sehari-hari.


Perubahan itu tidak terjadi sekaligus. Ia berjalan perlahan, hampir tidak terasa, seperti air yang mengikis batu tanpa suara. Aku makin terbiasa mempertanyakan sesuatu sebelum menerimanya, mulai melihat bahwa satu fenomena tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu memiliki kemungkinan lain di baliknya. Apa yang orang lain lihat sebagai kebenaran tunggal menjadi ruang yang penuh kemungkinan. Dan di situlah aku mulai belajar mengenali diriku sendiri: apa yang kupikirkan, apa yang kurasakan, dan bagaimana keduanya bisa bertemu dalam tindakan.


Ia tidak pernah secara langsung mengatakan bahwa aku harus berpikir seperti ini atau seperti itu. Tetapi dari setiap percakapan, ada penekanan yang terus berulang, meskipun tidak selalu diucapkan dengan jelas: pentingnya dasar, pentingnya sistematika, pentingnya memahami dari mana sebuah pengetahuan berasal. Ia seolah ingin memastikan bahwa setiap hal yang kupegang bukanlah sesuatu yang rapuh, melainkan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan itu menuntut lebih dari sekadar memahami, itu menuntut kesadaran.


Dalam banyak hal, ia memang lebih banyak 'mengajar' melalui kata-kata. Percakapan kami sering kali panjang, berlapis, dan tidak selalu mudah diikuti. Tetapi di situlah letak kekuatannya. Kata-kata itu tidak sekadar menyampaikan, tetapi membentuk. Ia memilih diksi dengan hati-hati, berusaha menyesuaikan dengan siapa yang diajak bicara meskipun tidak selalu berhasil, sehingga hal yang rumit bisa terasa dekat. 


Penjelasannya tidak datang dalam bentuk rumus yang kaku atau istilah-istilah yang menjauh dari kehidupan. Ia lebih sering memilih jalan yang tampak sederhana: metafora, perumpamaan, hal-hal yang dekat dengan keseharianku sendiri. Dari situ, sesuatu yang semula terasa rumit perlahan membuka diri, seolah-olah tidak lagi asing. Ia tidak menyederhanakan untuk mengurangi makna, tetapi justru untuk menyingkapnya, membawaku melihat bahwa yang sulit sering kali hanya karena kita memandangnya dari jarak yang salah. Dan dalam setiap perumpamaan itu, ada jembatan yang ia bangun diam-diam, menghubungkan apa yang kupahami dengan apa yang sebelumnya tak mampu kujelaskan.


Ada saat-saat aku tidak setuju dengannya. Bahkan tidak jarang aku merasa bahwa cara berpikirnya terlalu absurd, terlalu jauh berbeda untuk kujangkau. Tetapi seiring waktu, aku mulai menyadari bahwa ketidaksetujuan itu bukanlah akhir dari percakapan, melainkan bagian dari proses. Ia tidak memaksaku untuk menerima, tetapi membawaku melihat dari sudut yang belum pernah kupikirkan. Dan di situlah aku belajar bahwa keterbatasan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan sesuatu yang harus disadari.


Logikanya sering kali terasa tajam, bahkan bagi sebagian orang mungkin terlalu tajam. Aku melihat bagaimana kawan-kawan lain merasa tidak nyaman dengan cara berpikirnya, merasa bahwa ada sesuatu yang “aneh” atau “berlebihan”. Tetapi bagiku, justru di situlah daya tariknya. Aku menemukan ketenangan dalam ketajaman itu, karena ia memberi struktur pada hal-hal yang sebelumnya terasa kacau. Ia tidak menghilangkan kompleksitas, tetapi membuatnya bisa dipahami.


Ketika aku berada dalam keadaan emosional, ia tidak pernah mencoba menenangkan dengan cara yang biasa. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, atau bahwa perasaanku salah. Sebaliknya, ia mengajakku berpikir ulang. Ia melemparkan kemungkinan, menempatkanku dalam posisi yang berbeda, memaksaku melihat dari sudut yang lain. Dan perlahan, tanpa kusadari, emosiku tersusun kembali, tidak karena ditekan, tetapi karena dipahami.


Perubahan terbesar yang kurasakan bukanlah pada apa yang kuketahui, tetapi pada bagaimana aku mengetahui. Sudut pandangku bertambah, wawasanku meluas, tetapi yang lebih penting, aku menjadi lebih sadar bahwa setiap pemahaman selalu terbuka untuk diperiksa kembali. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diberikan begitu saja, melainkan harus dibangun. Dan dalam proses itu, ia hadir sebagai salah satu yang paling berpengaruh.


Namun ia bukan hanya seorang yang 'mengajar'. Ada sisi lain yang tidak selalu terlihat, sisi yang justru terasa dalam hal-hal kecil. Kepeduliannya tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas, tetapi sering kali hadir sebelum aku menyadarinya. Aku justru paling merasakan kepeduliannya bukan pada hal-hal besar yang mudah dikenali, melainkan pada hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatianku sendiri. Ia mengingatkanku pada apa yang sebenarnya sudah kutahu sebagai sesuatu yang sebetulnya baik, tetapi kerap kutunda atau kuabaikan: menulis, menjaga konsistensi, dan terutama tanggung jawab kepada orang tua. 


Pengingat itu tidak datang sebagai tekanan, melainkan sebagai dorongan yang tenang namun berulang, seolah ia tahu bahwa perubahan tidak lahir dari sesuatu yang besar sekaligus, tetapi dari kesediaan untuk setia pada hal-hal kecil yang terus dijaga. Dan di situlah aku mulai memahami bahwa kepedulian tidak selalu berarti hadir dalam momen genting, tetapi juga dalam kesetiaan mengingatkan pada hal-hal yang tampak biasa, namun justru menentukan arah hidup seseorang.


Kepedulian itu tidak selalu dipahami oleh orang lain. Bahkan tidak jarang disalahartikan. Tetapi bagiku, justru di situlah letaknya. Ia peduli pada hal-hal yang tidak selalu terlihat, pada detail yang sering terlewat. Ia memperhatikan bagaimana seseorang berargumen, bagaimana seseorang bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya. Dan dari situ, aku belajar bahwa kepedulian tidak selalu harus terlihat besar untuk menjadi berarti.


Ia tidak selalu mengingat hal-hal kecil tentangku. Bahkan sering kali aku yang lebih banyak mengingat. Tetapi itu tidak mengurangi makna dari kehadirannya. Karena yang ia berikan bukanlah perhatian dalam bentuk ingatan, melainkan dalam bentuk kesadaran. Ia tidak menyimpan detail tentangku, tetapi membantuku memahami diriku sendiri.


Cara ia menegur pun tidak pernah terasa sebagai serangan. Ia tidak memaksakan penilaian, tetapi membuka ruang dialog. Ia bertanya, meminta penjelasan, mengajak berpikir. Dan dari situ, teguran itu tidak terasa sebagai sesuatu yang harus ditolak, tetapi sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan.


Tentu saja, ada saat-saat di mana aku merasa ia terlalu jauh. Terlalu logis, terlalu dalam, terlalu berbeda dari apa yang bisa kupahami saat itu. Tetapi aku mulai menyadari bahwa jarak itu bukanlah kesalahan, melainkan perbedaan posisi. Ia berdiri di titik yang belum bisa kucapai, dan itu bukan sesuatu yang harus disesali.


Ada hal-hal tentang dirinya yang sampai sekarang masih sulit kupahami. Cara belajarnya, cara ia memahami sesuatu, bahkan cara ia membangun perasaan terhadap orang lain. Ada sisi yang terasa absurd, yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika yang sama yang ia gunakan dalam diskusi. Dan mungkin justru di situlah letak kemanusiaannya.


Kami pernah berada di sisi yang berseberangan. Dalam urusan politik kampus, kami sempat menjadi rival. Perbedaan sudut pandang membawa kami ke arah yang berbeda. Tetapi anehnya, itu tidak merusak hubungan kami sebagai manusia. Di luar itu, kami tetap bisa berbicara, tetap bisa berbagi. Seolah-olah perbedaan itu hanya bagian dari perjalanan, bukan penentu akhir.


Jika harus merangkum semua itu dalam satu kata, mungkin kata yang paling jujur adalah: peduli. Bukan peduli yang berisik, bukan peduli yang ingin terlihat, tetapi peduli yang bekerja dalam diam. Peduli yang membentuk, bukan sekadar menemani.


Hari ini, jika aku melihat diriku sendiri, ada bagian yang tidak akan ada tanpa kehadirannya. Cara pandangku, cara berpikirku, bahkan cara aku memahami diriku sendiri, semuanya tidak sepenuhnya berasal darinya, tetapi ia adalah salah satu yang membuka jalan itu.


Jika suatu saat kami tidak lagi sering berkomunikasi, aku tahu bahwa yang akan tinggal bukanlah percakapan-percakapan itu sendiri, tetapi cara berpikir yang ia tanamkan. Nilai-nilai yang ia tunjukkan, meskipun tidak selalu diucapkan. Dan itu adalah sesuatu yang tidak mudah hilang. 


Tetapi di antara semua itu, ia adalah salah satu yang pertama memperkenalkanku, di Jember, dalam ruang-ruang percakapan yang sederhana tentang melihat dunia dengan beragam cara pandang. Ia menyingkap celah, memperlihatkan kemungkinan, dan dari situ aku mulai menyusun caraku sendiri dalam memahami sesuatu. Ia adalah guru dalam perjalananku mengenal pengetahuan, tetapi juga teman dalam percakapan sehari-hari. Ia tidak pernah sepenuhnya menjadi salah satu, karena ia selalu berada di antara keduanya. Dan mungkin justru di situlah perannya menjadi berarti.


Dan jika harus menyebut warisan paling sunyi yang ia tinggalkan dalam hidupku, maka itu adalah keberanian. Keberanian untuk melihat kemungkinan, untuk mempertanyakan, untuk membangun integritas, meskipun jalan menuju ke sana tidak selalu mudah.


Jika tulisan ini sampai kepadanya, mungkin yang paling ingin kusampaikan bukanlah semua yang sudah kutulis, tetapi satu hal sederhana: bahwa aku melihat. Melihat hal-hal kecil yang mungkin terlewat oleh banyak orang, detail-detail yang tidak selalu dianggap penting, tetapi justru di situlah makna sering bersembunyi. Aku melihat cara ia berbicara, cara ia bertanya, cara ia menunjukkan alternatif pandangan lain. Dan dari semua itu, yang paling kuingat adalah cara berpikirnya dan nilai-nilai yang ia bagikan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar