---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 01 Mei 2026

Nizar Qabbani dan Pablo Neruda adalah termasuk penyair favorit saya, dan mereka adalah diplomat

Nizar Qabbani dan Pablo Neruda adalah termasuk penyair favorit saya, dan mereka adalah diplomat

Ada hal-hal dalam hidup yang kita sukai tanpa pernah benar-benar tahu mengapa. Ia hadir bukan sebagai keputusan rasional, melainkan sebagai semacam pengakuan diam-diam dari dalam diri. Demikian pula dengan kecenderungan saya pada puisi-puisi Nizar Qabbani dan Pablo Neruda. Pada awalnya, ketertarikan itu terasa sederhana: kata-kata mereka indah, emosinya kuat, dan puisinya mudah diingat. Namun semakin direnungkan, semakin terasa bahwa kesukaan ini tidak sesederhana itu. Ada lapisan-lapisan yang bekerja—sebagian tampak, sebagian tersembunyi.

Yang menarik, keduanya bukan hanya penyair. Mereka adalah diplomat. Dan justru di titik inilah, sesuatu yang tampaknya tidak berhubungan—puisi dan diplomasi—bertemu dalam cara yang sangat halus namun menentukan.


Sebagai diplomat, mereka hidup di antara dunia-dunia. Mereka menyaksikan perbedaan budaya, bahasa, dan cara manusia memaknai kehidupan. Mereka tidak hanya melihat cinta sebagai pengalaman personal, tetapi sebagai fenomena yang berubah-ubah tergantung ruang dan waktu. Mungkin di sinilah salah satu akar kekuatan puisi mereka: cinta tidak lagi menjadi sempit, tetapi meluas tanpa kehilangan kedalaman.

Pada Nizar Qabbani, pengalaman itu menjelma menjadi keberanian. Ia menulis cinta dengan bahasa yang terang, langsung, bahkan terkadang seperti menantang. Namun di balik keterusterangan itu, ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah sikap ideologis yang memperjuangkan kebebasan, terutama dalam hal perempuan, tubuh, dan perasaan. Ia tidak sekadar menulis tentang cinta; ia menulis tentang hak untuk mencintai secara bebas. Maka, ketika ia berbicara tentang perempuan, sebenarnya ia sedang menggugat struktur sosial yang membatasi.

Sebaliknya, Pablo Neruda menempuh jalan yang berbeda. Ia tidak menyerang secara langsung, tetapi mengalir. Puisinya seperti lanskap: luas, simbolik, dan penuh gema. Alam menjadi bahasa, malam menjadi ruang kontemplasi, dan cinta menjadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar relasi dua individu. Dalam dirinya, pengalaman sebagai diplomat—yang juga bersentuhan dengan politik dan sejarah—tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperdalam kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari arus yang lebih besar. Maka, cinta dalam puisinya sering terasa seperti bagian dari semesta, bukan hanya pengalaman pribadi.


Di sinilah terlihat bahwa diplomasi tidak sekadar profesi, melainkan latihan kepekaan. Seorang diplomat harus memahami konteks, memilih kata dengan hati-hati, dan menyampaikan maksud tanpa selalu mengatakannya secara langsung. Keterampilan ini, ketika dibawa ke dalam puisi, melahirkan dua gaya yang berbeda namun sama kuatnya.

Qabbani menjadi penyair yang retoris—bahasanya terasa seperti pidato cinta yang menggugah. Ia persuasif, komunikatif, dan dekat dengan pembaca. Sementara Neruda menjadi penyair yang kontemplatif—bahasanya berlapis, simbolik, dan sering kali ambigu. Ia tidak selalu ingin dimengerti secara langsung; ia ingin dirasakan.

Namun, di balik perbedaan itu, ada kesamaan mendasar: keduanya sadar bahwa kata-kata bukan sekadar alat, tetapi kekuatan. Kata-kata bisa membebaskan, bisa menyembuhkan, bisa juga mengguncang.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah perjuangan ideologis mereka terasa dalam puisi?

Jawabannya: ya, tetapi dengan cara yang berbeda.

Pada Qabbani, ideologi sering hadir sebagai kritik sosial yang jelas. Dalam puisi seperti Bread, Hashish and Moon, ia menggambarkan masyarakat yang terjebak dalam ilusi—antara kebutuhan dasar, pelarian semu, dan romantisme kosong. Simbol-simbol yang biasanya indah dibalik menjadi alat kritik. Bulan, yang dalam tradisi sering melambangkan keindahan, justru menjadi simbol eskapisme. Di sini, puisi menjadi semacam gugatan: terhadap stagnasi, terhadap kesadaran yang lumpuh, terhadap ketidakmampuan untuk berubah.

Pada Neruda, ideologi tidak selalu tampak di permukaan, tetapi tetap bekerja. Dalam puisi seperti Tonight I Can Write the Saddest Lines, yang tampak sebagai puisi cinta sederhana, terdapat kesadaran yang lebih luas. Subjek “aku” tidak stabil; ia mencintai, meragukan, dan melepaskan dalam satu tarikan napas. Alam tidak sekadar latar, tetapi turut “berbicara”. Ada kesan bahwa pengalaman pribadi tidak pernah benar-benar terpisah dari arus waktu dan semesta. Ideologi di sini bukan berupa slogan, melainkan cara memandang realitas.


Namun, jika semua itu adalah alasan yang bisa dijelaskan, ada pula alasan yang tidak disadari.

Barangkali saya menyukai mereka karena mereka mengatakan apa yang tidak bisa saya katakan. Ada perasaan-perasaan yang terlalu halus untuk dirumuskan, terlalu jujur untuk diucapkan secara langsung. Ketika membaca mereka, muncul sensasi seolah-olah sesuatu dalam diri saya akhirnya menemukan bahasa.

Barangkali juga karena mereka memberi izin untuk merasa. Dalam kehidupan yang sering menuntut rasionalitas, kekuatan, dan kontrol, puisi mereka membuka ruang lain: ruang di mana kerinduan tidak perlu dijelaskan, di mana luka tidak perlu dibela, di mana cinta tidak perlu disederhanakan.

Atau mungkin karena mereka menghadirkan keseimbangan yang jarang: antara kekuatan dan kelembutan, antara keberanian dan keheningan. Qabbani dengan keberaniannya yang terang, Neruda dengan kedalamannya yang sunyi—keduanya, tanpa disadari, menyentuh dua sisi dalam diri yang sering terpisah.

Ada pula kemungkinan bahwa ritme puisi mereka selaras dengan ritme batin manusia. Pengulangan, jeda, dan aliran emosinya seperti mengikuti detak jantung atau gelombang pikiran. Maka, membaca mereka bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga pengalaman fisik—sesuatu yang dirasakan, bukan sekadar dipahami.

Dan mungkin yang paling dalam: puisi mereka memungkinkan kita memproyeksikan diri. Karena tidak selalu spesifik, tidak terlalu terikat pada detail, kita mengisi sendiri ruang-ruang kosong itu dengan pengalaman pribadi. Akibatnya, puisi mereka terasa sangat personal, seolah-olah ditulis khusus untuk kita.


Pada akhirnya, menyukai Qabbani dan Neruda bukan hanya tentang menyukai dua penyair besar. Ia adalah pertemuan antara teks dan diri, antara kata dan pengalaman, antara yang diucapkan dan yang selama ini terpendam.

Mereka adalah diplomat yang terbiasa berbicara dengan batasan, tetapi dalam puisi, mereka berbicara dengan kebebasan. Mungkin justru karena itulah puisi mereka terasa begitu jujur—karena ia lahir dari seseorang yang tahu bagaimana rasanya tidak bisa sepenuhnya berkata-kata.

Dan mungkin juga, tanpa sepenuhnya saya sadari, saya menyukai mereka bukan hanya karena siapa mereka—tetapi karena melalui mereka, saya menemukan sesuatu tentang diri saya sendiri.

Sesuatu yang selama ini ada, tetapi belum pernah benar-benar diberi nama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar