---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 19 April 2023

Kangean di Ambang Keruntuhan: Menarik Kritik Sosial ke Perspektif Makro

Saya merasa tergugah untuk menuliskan tanggapan atas kritik sosial dari seorang pemuda, yaitu Wildan Hidayat, dalam sebuah status WhatsApp-nya, yang dengan kritis dan peduli, mengkritik isu-isu sosial yang ada. Kritik sosial yang terdapat dalam status WhatsApp tersebut mengarah pada pentingnya kesadaran akan lingkungan dan perluasan ruang intelektual untuk membahas isu-isu progresif. Hal ini membuka jalan untuk pembaharuan dan perubahan positif di masyarakat. Semoga saja kritik-kritik ini dapat memotivasi dan menggerakkan orang-orang untuk bertindak dan melakukan aksi konkret untuk mengatasi masalah yang ada di sekitar kita.


Berikut teksnya:


Gunungnya dihabisi kandungan karst nya, di sebelahnya dibangun warung makan, dan digunakan buat buka bersama. Nanti kalau ada rob nyalain lautnya. Alamak! kok ya begitu ya


Di Kangean ini terkadang memang cukup menggelikan, para intelektualnya-terlebih santri dan mahasiswa-mahasiswa impoten itu -sibuk bikin acara dansa dansi seperti lomba ini lomba itu, pawai obor dan segala macam laku nonsens lainnya, kalau nggak ya menyulut pertikaian antar dua kubu. Padahal di kanak kirinya, gunung-gunung dihabisi, kalau banjir nyalahkan masyarakat karena sampah (begitulah native imformer itu)hutan-hutan basah dicaplok oleh neo-VOC bernama Perhutani, gak ada yg teriak, yg ada cumak teriak jalan sama kapal. Yaelah! kalau dikritik demikian selalu bilang "apa yang kamu perbuat untuk kangean". Dikira berbuat untuk tanah air itu cumak jadi RT dan buat 200 tong sampah gitu? yaelah


sebagai warga Nahdliyyin saya juga kadang agak geli melihat laju gerak organisasi ini di pulau yang kecil ini, coba seandainya NU jadi jam'iyah yang menghadang perusakan lingkungan di kanan kiri, kita selalu membaca shalawat asyghil tapi melupakan bahwa ada kedzaliman terstruktur dari para pemilik modal, kita selalu mengaku sebagai hamba, sebagai khalifah namun ketika ada perusakan gunung yang dilakukan oleh para pemilik modal jarang yang punya ghirah untuk menyelamatkannya, misal dengan membeli aset itu agar tak dimiliki perorang. Daripada para kadernya sibuk mencalonkan diri jari anggota dewan to. Ayolah oportunisme itu sudah basi!


Para santri yang pulang itu wayah e buatlah ruang kecil, buatlah obrolan yang lebih menarik daripada ngomongin teori-teori nonsens yang itu kadang gak tuntas dan kelihatan megalomaniaknya, yang alim dalam fan ilmu kitab misal, buatlah rumusan permasalah soal tambang dan penguasaan aset umum untuk di bahstul masail kan, misalnya, jangan hanya debat soal hisab dan ru'yatul hilal. Ruang-ruang intelektual itu sudah saatnya punya nilai progressif, daripada ngalor-ngidul daur ulang teori biar dikira keren dan paling berdialektika. Ayolah ayoo! sirkulasi pasar itu makin ganas dan melibas kanda!


Wildan menyoroti kerusakan lingkungan di Kangean, di mana gunung dan hutan dihancurkan untuk dibangun warung makan dan tempat hiburan. Wildan menunjukkan kegelisahan atas penyalahgunaan alam yang dilakukan oleh masyarakat di Kangean. Selain itu, ketika terjadi bencana banjir, laut sering dituduh sebagai penyebabnya, padahal bisa jadi bencana tersebut terjadi karena penimbunan sampah. Wildan mengkritik sikap defensif masyarakat terhadap kritik sosial dan mengajak mereka untuk mengubah sikap dan bertanggung jawab atas lingkungan sekitar mereka.


Kritik sosial tersebut juga mencakup kritik terhadap gerakan organisasi di Kangean, khususnya Nahdliyyin. Wildan merasa bahwa organisasi tersebut terlalu sibuk dengan kepentingan politik dan kegiatan tidak bermakna, sehingga kurang memperhatikan isu-isu penting seperti lingkungan dan kepemilikan aset. Wildan menyerukan agar anggota organisasi memperhatikan isu-isu penting tersebut dan mengambil tindakan yang lebih produktif.


Selain itu, Wildan menekankan pentingnya peran intelektual dalam masyarakat, terutama santri dan mahasiswa. Wildan merasa bahwa intelektual di Kangean terlalu sibuk dengan kegiatan yang tidak bermakna, dan mengabaikan isu-isu penting seperti lingkungan dan kepemilikan aset. Wildan menyerukan agar para intelektual lebih fokus pada isu-isu penting dan membuat ruang diskusi yang lebih produktif dan berdampak positif.


Terakhir, Wildan menunjukkan bahwa "pasar" semakin ganas dan melibas masyarakat. Wildan merasa bahwa masyarakat di Kangean perlu meningkatkan kesadaran mereka tentang kepemilikan aset dan peran mereka dalam menjaga alam sekitar. Wildan juga mengkritik kegiatan intelektual yang terlalu berkutat pada teori-teori dan tidak berdampak nyata. Wildan menyerukan para intelektual untuk fokus pada isu-isu penting dan mengambil tindakan nyata untuk membawa perubahan positif.


Dalam kritik sosial di atas, terdapat banyak kritik terhadap perilaku dan tindakan individu serta kelompok kecil di lingkungan lokal seperti masyarakat Kangean dan organisasi NU di pulau tersebut. Namun, kita juga dapat menarik kritik sosial ini ke perspektif makro yang lebih luas.


Secara makro, kritik sosial tersebut dapat dihubungkan dengan masalah yang lebih besar di Indonesia dan bahkan di dunia, seperti masalah lingkungan dan ekonomi. Kehancuran lingkungan dan perusakan alam seperti penggundulan hutan dan hilangnya kandungan karst yang disebutkan dalam kritik sosial di atas, sebenarnya terjadi di banyak tempat di Indonesia dan di seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada lingkungan, pengambilalihan sumber daya alam oleh korporasi besar, dan konsumsi berlebihan oleh masyarakat.


Selain itu, kritik terhadap organisasi NU juga dapat dihubungkan dengan masalah politik dan ekonomi yang lebih besar di Indonesia. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki pengaruh yang besar di masyarakat dan politik. Namun, seperti yang disebutkan dalam kritik sosial di atas, NU mungkin tidak selalu berfokus pada masalah-masalah yang lebih penting seperti lingkungan dan hak asasi manusia, dan terkadang terlalu banyak terlibat dalam politik.


Dalam perspektif makro, kritik sosial ini menggambarkan bagaimana masalah lokal di Kangean dan organisasi NU dapat dihubungkan dengan masalah yang lebih besar di Indonesia dan dunia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memahami konteks sosial, ekonomi, dan politik yang lebih luas dalam mengkaji dan memahami masalah-masalah sosial, serta mengambil tindakan yang lebih efektif dalam menyelesaikannya.


Kritik sosial di atas sebagai refleksi penting dari ketidakadilan sosial yang terjadi dalam masyarakat kita. Kritik sosial menjadi penting karena dapat memberikan ruang untuk membuka mata dan memahami masalah yang dihadapi oleh kelompok masyarakat tertentu, serta mengidentifikasi akar penyebab dari masalah tersebut. Kritik sosial juga dapat menjadi alat untuk memperjuangkan hak-hak sosial dan keadilan, serta membuka kesadaran dan menginspirasi perubahan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu, penting mendukung dan memperjuangkan kritik sosial yang konstruktif dan berkelanjutan.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar