---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 26 April 2021

Mitos Soliditas, Logos Likuiditas?

 

Keterasingan dan pencarian jati diri merupakan fenomena yang lumrah dialami oleh manusia, khususnya remaja atau pemuda. Tak jarang, untuk tidak menjadi terasing dan menemukan jati diri, seseorang memilih untuk bergabung dengan perkumpulan. Perkumpulan tersebut bisa bermacam-macam, entah asosiasi, federasi, ikatan, atau bahkan menggunakan istilah komunitas.

Di era dimana identitas bersifat cair, cairnya identitas bisa memunculkan asumsi bahwa situasi terkini telah meruntuhkan “soliditas”. Tidak ada yang lebih kokoh atau tegas. Semuanya bersifat sementara, sementara dan dapat diubah. Dan salah satu serangan terbesarnya adalah fenomena media sosial. Media sosial, salah satu, atau bahkan faktor utama yang mencairkan identitas..

Inisiatif tentang komunitas mampu mengumpulkan banyak orang di satu ruang, di satu wadah, mengobati seseorang dari ketakutan akan kesepian. Baik komunitas itu merujuk ke pertemuan langsung maupun juga melalui media sosial.

Komunitas sosial dapat dianggap sebagai teknologi sosial baru. Bahkan, bisa jadi ia adalah kekuatan yang hampir tak tertahankan. Ia memiliki kekuatan “komunitas” yang mengesankan. Belum pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan Zygmunt Bauman juga bahwa tidak pernah banyak komunikasi dilakukan tanpa dialog atau hasil nyata.

Zygmunt Bauman mengatakan bahwa di Facebook dan sejenisnya, yang dilakukan orang adalah “bergema”. Mereka hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Baginya, media sosial ibarat cermin besar, tempat kita bertemu orang tapi tidak berdialog.

Mitos Soliditas dapat diilustrasikan dengan ungkapan bahwa ada pertukaran pesan, tapi tidak ada dialog. Ada perbedaan pendapat, tetapi tidak ada perdebatan konstruktif yang nyata. Ini menciptakan ilusi berhubungan dengan orang lain ketika kita tidak benar-benar berkomunikasi.

Sekolompok orang membentuk komunitas yang dikelola sesuai keinginan. Kemudian menjadi semacam “diktator kecil” dalam tata kelola internal, dan mereka adalah orang-orang yang memutuskan siapa yang harus berada di sana, dipertahankan, dan siapa yang tidak, dikeluarkan. Itu tidak akan mempengaruhi seseorang jika ia “tidak berteman” dengan siapa pun.

Hal itu memiliki pengaruh yang menentukan pada apa yang Bauman sebut sebagai “cair/liquid”, bukan “padat/solid”. Di dalamnya, terjadi hubungan manusia yang tidak menentu. Hubungan tanpa status dan tanpa komitmen. Gelombang pengalaman dan gagasan ada di sini hari ini dan hilang besok. Ini menghibur orang, menciptakan kenyamanan, memunculkan kenikmatan, tetapi pada saat yang sama semakin mengontrol seseorang. Seseorang tidak menyadari kekuatan politik dan ekonomi yang memikatnya.

Dengan mitos Soliditas itu, maka bisa saja ada gelombang baru yang bersifat alternatif, berupa jaringan. Seperti kata Bauman, lagi-lagi, bahwa perbedaan antara Komunitas dan Jaringan adalah, seseorang bagian dari komunitas, tetapi jaringan adalah milik tiap orang. Seseorang merasa memegang kendali.

Tiap orang mengendalikan orang-orang penting yang berhubungan dengan masing-masing. Sebagian orang tidak diajari untuk berdialog karena sangat mudah untuk menghindari kontroversi. Sebagian lainnya berada di komunitas sosial atau jaringan sosial bukan untuk bersatu, bukan untuk membuka wawasan mereka lebih luas, tetapi sebaliknya, untuk memotong zona nyaman di mana satu-satunya suara yang mereka dengar adalah gema suara mereka sendiri, di mana satu-satunya hal yang mereka lihat adalah pantulan wajah mereka sendiri.

Persoalannya adalah, tetap berada di zona nyaman, atau keluar. Menghindari kontroversi, atau menerimanya sebagai bagian dari dinamika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar