Saya, selaku penonton Pilpresma, dari rangkaian awal, debat kandidat, hingga penghitungan suara, cukup mengikuti perkembangannya, sedikit. Pilpresma ini, paling tidak, bagi saya, adalah momentum untuk menguji hipotesis dan asumsi yang selama ini mungkin dipercaya oleh sebagian orang, khususnya soal ketokohan dan pengaruh.
Ketokohan bukan hanya soal "figur", melainkan juga "personal branding" para pasangan calon. Begitu juga pengaruh, bukan hanya soal "otoritas/authority", melainkan juga soal "influence". Jadi, hal-hal semacam itu yang menurut saya, antara lain, yang mempengaruhi perilaku pemilih. Sekali lagi, antara lain, beberapa faktor, bukan satu-satunya. Apalagi, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, dan gaya hidup yang serba hybrid dan blended, hipotesis dan asumsi lama sudah tidak sedikit yang tidak relevan.
Pertama adalah bahwa relasi personal itu menentukan. Sangat mempengaruhi proses keputusan pemilihan. Saya yakin bahwa mahasiswa pemilih sebelum memilih pasangan calon, ia terlebih dahulu menjalani proses pengambilan keputusan yang rumit & kompleks. Termasuk mengananalisi konsep, Visi-misi, gagasan yang ditawarkan pasangan calon. Selain itu juga menilai info tentang reputasi & kredibilitas masing-masing pasangan calon.
Relasi personal saya pikir lebih unggul daripada relasi institusional di aspek ini. Di tengah situasi dan kondisi parahnya ketidakpercayaan publik saat ini, yang dianggap sumber info paling terpercaya, adalah lingkaran pertemanan sekitar, meskipun mereka "bukan siapa-siapa" daripada figur yang "punya otoritas" tetapi jauh.
Daripada figur otoritas institusional, sahabat sekitar menurut saya bisa jadi dianggap lebih jujur. Pesan yang disampaikannya lebih otentik. Sahabat sekitar ini lebih dikenal akrab di lingkaran pergaulan masing-masing. Reputasi & nama baiknya dipertaruhkan, sehingga dianggap tidak mungkin bohong, Apalagi sampai mau menjerumuskan teman-temannya sendiri.
Sistem rekomendasi juga lebih bersifat personal, alih-alih institusional. Informasi lebih ditentukan yang sifatnya seperti ini sebab sistem rekomendasi sudah semakin tidak sentralistik, tetapi desentralistik. Penyebaran informasi dan rekomendasi sudah lebih terfragmentasi. Jadi, pemetaan (mapping) dan petanya, sudah bukan lagi bersifat tradisional konvensional.
Maka, relasi personal ketika berkumpul dengan relasi personal lainnya, menjadi "kolektif" bukan "institusional". Promosi dan rekomendasi memang masih dibutuhkan untuk mendongkrak perolehan suara. Akan tetapi, keputusan untuk memilih, tetap dipengaruhi pendapat orang-orang sekitar entah kenalan, teman, atau sahabat.
Kesimpulannya, bahwa sekali lagi, tidak sedikit pemikiran lama yang sudah tidak relevan lagi di dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan gaya hidup yang hybrid lagi blended. Perilaku pemilih berubah, pemetaan dan peta pun bergeser. Institusi memang masih penting. Akan tetapi, relasi personal lebih menentukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar