---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 08 Juli 2020

Pupil: Pelajar Kesayangan?

Terkadang, atau bahkan seringkali, hidup tidak berjalan linier. Termasuk dalam hal ini kehidupan akademik. Contohnya, ada beberapa pelajar yang menghindar dari interaksi yang rapat dengan pendidiknya, tidak terlalu penurut, kurang tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, agak cuek, tidak sengaja menonjolkan diri di kelas, nilainya bukan angka tertinggi, namun tetap dianggap sebagai pelajar kesayangan para pendidik. 

Pelajar yang tidak pernah mengalami itu mungkin melihat fenomena ini secara negatif dan menggambarkannya sebagai hubungan pengistimewaan antara pengajar dan pelajar yang menghargai dan memuaskan gurunya, baik secara akademik maupun non-akademik. Bisa saja rasa iri melingkupi para pelajar lain yang merasa kurang disayang. Sebagian pelajar kesayangan dijauhi teman-teman sekelasnya, kecuali jika si kesayangan ini mau "berbagi".

 Citra kesayangan sebagai orang paling menguasai materi dari yang lain membuatnya jadi dituntut lebih daripada yang lain juga. Anak kesayangan, dalam pikiran banyak orang harusnya tinggi nilai-nilai akademisnya juga selalu bisa mendapat tempat belajar lanjutan yang bergengsi. Saat lulus, ada ekspektasi mereka bisa lulus ujian masuk jurusan bergengsi di perguruan tinggi favorit. Perguruan tinggi di luar negeri misalnya. Tidak jarang, mereka bisa “terpukul” jika gagal memasuki jurusan di kampus yang diinginkannya, sementara siswa yang dianggap biasa-biasa saja berhasil masuk ke kampus yang lebih "bergengsi" di dalam negeri maupun di luar negeri.

Secara pribadi, saya merasa bahwa saya tidak pernah pelit. "Berbagi ilmu" bukan hal yang terlalu diperlukan untuk irit. Keistimewaan hubungan  baik secara akademik maupun non-akademik juga merupakan hal yang wajar. Wajar karena tidak dibuat-buat. Mendapat nilai tertinggi juga bukan faktor yang paling menentukan untuk disayang lebih daripada yang lain. Faktor yang lebih menentukan menurut saya adalah keunikan. Keunikan dalam kelas misalnya dalam bertanya dan menjawab. Pertanyaan dan jawaban yang hampir mustahil diungkapkan orang lain.

Selain itu, sebelum lulus memang ada ekspektasi yang agak terlalu tinggi. Misalnya ketika mengerjakan tugas, baik itu tugas harian, semester, bahkan tugas akhir. Tugas tersebut tidak terlalu dibaca, atau tidak dibaca sama sekali lantaran dianggap sudah pasti seleranya tinggi. Padahal, sepintar apapun pelajar, tetap masih sangat perlu bimbingan dari pengajarnya.

Dalam hal setelah lulus, kecenderungannya tidaklah tunggal. Setidaknya, ada dua kecenderungan utama. Pertama, pengajar akan menyarankan pelajar kesayangannya untuk tidak melanjutkan di luar lembaganya, tetap di lembaga tersebut karena agar tetap bisa berinteraksi dengan pelajar kesayangannya. Namanya kesayangan, ada orang-orang yang sulit beranjak apabila berjarak jauh.

Kecenderungan kedua adalah pengajar menyarankan pelajar kesayangannya untuk melanjutkan ke lembaga yang "bergengsi" baik di dalam negeri apalagi di luar negeri. Alasannya sama, sama-sama sayang, hanya saja sedikit berbeda yaitu sayang sekali apabila pelajar kesayangannya melanjutkan di lembaga yang kurang "bergengsi".

Intinya, menurut saya menjadi kesayangan tidak perlu dikejar. Pelajar kesayangan itu bonus, bukan sesuatu yang disengaja, tapi lebih kimiawi yang tanpa sengaja. Menuntut ilmu itu tujuannya cari ilmu, bukan cari perhatian. Kalau telanjur jadi kesayangan, artinya berhasil menjadi satu diantara sedikitnya orang terpilih yang berkesan di mata pengajar, makanya pelajar kesayangan itu disebut "PUPIL". Bagi pengajar, punya ekspektasi tinggi terhadap pelajar kesayangannya itu boleh saja, asal tidak perlu terlalu tinggi. Dan lagi, melanjutkan studi di lembaga "bergengsi" itu bukan segalanya. Bukan tempatnya dimana, melainkan orangnya bagaimana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar