---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 22 Februari 2020

Beberapa Alam Pikir Penduduk Lembah Air Mancur


M. Q. Aynan

Terdapat beberapa macam alam berpikir yang dianut oleh penduduk Lembah Air Mancur, menjadi tindakan dalam kehidupan persilatan dan hadir dalam teknik masing-masing. Orang-orang biasa, baik yang dilemahkan maupun mereka yang membiarkan dirinya lemah,  yang belum pernah melihat atau menyadari, atau pura-pura tidak melihat keberadaan pendekar pun dalam hidupnya, misalnya, setidaknya pernah mendengar tentang dua golongan besar, yakni golongan hitam dan golongan putih. Disebut golongan, karena keduanya tidaklah bersifat warisan. Bisa saja seorang kakak yang termasuk golongan putih, memiliki adik yang masuk ke dalam golongan hitam. Keduanya memang selalu berhadapan, karena masing-masing saling menganggap musuh satu sama lain, bukan hanya persaingan, tetapi di atas itu, yakni rivalitas. Akan tetapi, bagi yang sudah mengembara lama, mereka akan menemukan bahwa, di permukaan terdapat dua golongan besar tadi ditambah satu yang tidak termasuk ke dalam kedua golongan, yaitu golongan abu-abu. Akan tetapi, lebih dari itu, terdapat lima golongan: golongan putih moderat, golongan putih ekstrem, golongan hitam moderat, golongan hitam ekstrem, golongan abu-abu. 

Secara umum, Golongan Putih menjunjung tinggi nilai-nilai yang dianggap mewakili kebenaran, kejujuran, keadilan bagi seluruh warga Lembah. Sebaliknya, Golongan Hitam memilih nilai yang berbeda. Berbohong, menipu, dan memutarbalikkan fakta menjadi pekerjaan sehari-hari mereka untuk mencapai kemenangan. Bahkan, pemotongan, penjagalan, dan pembunuhan terkadang perlu untuk memuluskan kepentingan. Itu semua dapat dilihat dari doktrin yang ada di kitab pedoman masing-masing, hingga teknik yang digunakan dalam pertarungan. Sementara, golongan abu-abu hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tanpa ada tambahan nilai tertentu.

Secara khusus, golongan putih moderat menggunakan langkah dan teknik yang selalu benar, baik, dan pantas. Mereka tidak pernah melanggar prinsip hukum baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis. Ditambah, mereka adalah orang-orang yang pemaaf. Golongan putih ekstrem menggunakan langkah dan teknik yang selalu mematuhi prinsip hukum, tetapi terkadang mengabaikan rinciannya. Misalnya, salah satu anggota golongannya diserang oleh golongan hitam, maka mereka tidak segan-segan untuk menyerang balik, bahkan lebih parah dari serangan awal. Meski menjunjung tinggi keadilan, namun dalam pelaksanaannya sering menindak sendiri, sebab kurangnya tanggapan dari aparat yang berwenang. Satu nyawa ditukar satu nyawa. Atau, satu nyawa ditukar sepuluh nyawa. Golongan hitam moderat tidak selalu melakukan hal kotor dengan sukarela, terkadang karena takut ancaman dari golongan hitam ekstrem. Mereka terkadang melakukan gencatan serangan dengan golongan putih. Ketika gencatan itu selesai, tetap saja mereka yang melakukan serangan duluan. Golongan hitam ekstrem seakan sudah hampir tidak punya nilai kebaikan. Tiada hari tanpa melakukan serangan, baik mengobarkan kebencian atau serangan fisik. Kawannya sesama golongan hitam pun sering hampir terkena serangan. Mereka selalu memulai serangan duluan, bahkan ketika terjadi gencatan atau perjanjian damai. Golongan abu-abu, tidak peduli dengan semua itu. Ketika terdapat pertarungan, mereka memilih untuk menghindar.

Golongan abu-abu, tidak perlu ditanya lagi, tak pernah membuka penerimaan murid baru. Tanpa itu, akan selalu ada orang-orang yang tidak peduli. Golongan Putih dan Golongan Hitam setiap tahun, bahkan setiap hari, mencari murid-murid baru untuk menambah kekuatan. Secara khusus , golongan putih ekstrem, golongan hitam moderat, golongan hitam ekstrem  merekrut murid sebanyak-banyaknya, bahkan hingga ribuan. Sedangkan, guru-guru golongan putih moderat  hanya menerima sedikit murid, tetapi tidak sampai seratus. Bahkan, beberapa murid, tak sampai sepuluh, dididik dan dilatih secara rahasia. Para guru ini memang menghindar untuk sering bertemu secara langsung, atau memang sudah menulis kitab yang ditulis secara rahasia untuk dibaca secara rahasia pula. 

Golongan putih ekstrem dan golongan hitam moderat merekrut murid baru agar kekuatan fisik mereka bertambah. Jumlah sebanyak-banyaknya, urusan kualitas seni bela diri dan ilmu persilatan, itu nomor berapa. Golongan hitam ekstrem merekrut murid bukan karena jumlahnya, melainkan karena bayarannya. Golongan putih moderat merekrut murid demi kesempurnaan ilmu dan keindahan seni. Karenanya, selain dilatih dengan seni dan ilmu tersebut, murid golongan putih moderat diuji sifat pribadinya, memegang rahasia, dan menambah keterampilan persilatan dengan keterampilan persuratan. Tidak banyak yang bisa mencapai taraf murid paripurna.

Para murid paripurna lebih suka menjauh dari keramaian, tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Mereka peduli dengan nasib orang lain, tetapi lebih perhatian kepada diri sendiri, dan bagi sebagian murid itu semakin tinggi ilmu silat yang mereka miliki, semakin mereka harus mengasingkan diri. Sampai-sampai ada pepatah bahwa kesempurnaan hidup pernah asing dahulu, dan akan kembali asing kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar