Untuk bertahan hidup dalam suatu bentuk kehidupan,
tidak cukup oleh sebagian orang, tetapi seluruh orang (Jamaah) dalam perkumpulan
(Jam’iyah).
Dalam masyarakat akademik (Civitas Akademika),
kehidupan secara umum dan persaingan secara khusus bukanlah bersifat fisik,
melainkan bersifat psikologis. Setidaknya, sifat psikologis memiliki dua cabang
yakni moral yang kuat dan kemauan yang tinggi.
Selain itu, ada sifat lain yang melekat di dalamnya:
Politis dan Ekonomis.
Sifat politis terdapat pada kemampuan untuk
mengelola stabilitas internal dan menjaga hubungan eksternal. Sifat ini membuat
seseorang sulit untuk lepas dari keberpihakan tertentu dan klaim netralitas. Kemandirian
justru bukanlah menutup diri, melainkan membuka diri bagi aliansi strategis.
Sifat ekonomis
terdapat pada kebutuhan mendasar, bisa berasal dari sumber tetap maupun sumber
tidak tetap, dengan jalur milik pesaing atau jalur yang sengaja
dibuat/diperoleh. Logistik sangat besar sumbangannya bagi pemertahanan dan
pemrolehan.
Kedua sifat
itu tetaplah didukung kemauan yang tinggi dengan terus berdasar pada moral yang
kuat.
Persaingan
bukanlah sesuatu yang dikehendaki, melainkan sebagai sebuah keniscayaan. Karenanya,
meski tidak bersifat fisik, terkadang di momentum tertentu ada sebagian pihak
atau golongan yang mengerahkan sejumlah orang semacam gerombolan adu otot untuk
membuat kegaduhan, mengancam keamanan fisik maupun sarana.
Jika sebuah perkumpulan diserang oleh pihak lain
yang sengaja membuat ulah, maka perkumpulan itu akan membela diri. Dalam membela
diri sebisa mungkin ancaman ditiadakan.
Pembelaaan diri itu pun juga tidak dilakukan dengan
hasrat, tetapi dilakukan dengan keterpaksaan. Mereka bukanlah yang memulai
lebih dulu. Kaum Agresor yang memulainya.
Persaingan tidak digerakkan oleh alasan yang ilmiah
dalam arti objektif. Ia digerakkan oleh alasan yang ideologis, baik ideologi
pendidikan, geografis, golongan, maupun aliran pemikiran.
Hanya ideologi yang terkuatlah yang akan
mengantarkan kepada kemenangan. Akan tetapi, bukanlah akhir sejarah berupa
ideologi tunggal yang kemudian memunculkan pemenang tunggal pula. Pada akhirnya,
tidak ada yang nomor satu. Satu kelompok yang terlalu mendominasi akan
meunculkan perlawanan dari pihak lain.
Yang bersaing bukan semua orang. Sebagian bersaing,
sebagian lainnya mendukung. Yang mencari makanan sebagian, yang menikmati
makanan semua.
Efektifitas dan efisiensi dalam disiplin, pandangan,
regulasi, pelatihan, perencanaan hingga evauasi.
1. Perkumpulan dipimpin oleh seseorang pemimpin yang
amanah dan bertanggung jawab terhadap tindakan bawahannya.
2. Memiliki struktur yang jelas.
3. Memiliki perlengkapan/inventaris.
4. Melakukan pelaksanaan sesuai dengan hukum tertulis
maupun tidak tertulis.
Yang tidak dapat bertahan sebab kelelahan baik
secara fisik maupun psikologis akan tumbang dengan sendirinya.
Kesatuan koordinasi pimpinan bukan saja pada struktur
antar fungsionaris melainkan juga pada kultur anggota terbawah.
Serangan balik tidak dilaukan secara sporadis,
tetapi sistematis ditutup dengan serangan kejutan dan kritikal saat kondisi
sudah setara dengan pesaing.
Profesional adalah anggota biasa tidak dimasukkan ke
dalam tim inti, tetapi hanya pendukung tim inti. Perlengkapan dan pelatihannya
tidak sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar