Tradisi sebagai Simpul
Disusun oleh Muhammad Qurrotul Aynan
Disusun di Mimbaan, Panji, Situbondo
Pendahuluan: Ketika Hidup Menjadi Privat
Kita hidup di zaman ketika modernisasi dan urbanisasi mengubah wajah masyarakat secara drastis. Kota-kota tumbuh cepat. Mobilitas meningkat. Teknologi mempercepat ritme kehidupan. Media sosial menciptakan ruang baru yang paradoksal: ramai namun sepi.
Semakin modern sebuah masyarakat, semakin privat pula kehidupan warganya.
Rumah-rumah berpagar tinggi.
Tetangga saling tak kenal.
Acara bersama digantikan notifikasi layar.
Agama pun perlahan terdorong ke ruang personal. Ia menjadi urusan hati, bukan lagi urusan kampung. Ia menjadi pilihan individual, bukan lagi identitas kolektif. Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk menengok kembali akar sosial keislaman di Nusantara.
Sebab tradisi tidak pernah lahir secara tiba-tiba.
Ia bukan produk spontan satu generasi.
Ia bukan hasil kesepakatan sesaat.
Tradisi adalah sedimentasi sejarah, yaitu lapisan demi lapisan pengalaman, pergulatan, dan penyesuaian yang mengendap menjadi kebiasaan bermakna.
Demikian pula dengan keislaman masyarakat Jawa dan Nusantara-Indonesia. Mereka tidak serta-merta bangun suatu pagi lalu menjadi mayoritas Muslim. Proses itu panjang, kompleks, dan penuh dinamika. Sejarawan seperti M. C. Ricklefs menunjukkan bahwa islamisasi Jawa berlangsung selama berabad-abad, ditandai oleh masa transisi yang panjang sebelum akhirnya masyarakat mengidentifikasi diri sebagai umat Islam secara kolektif.
Butuh waktu ratusan tahun.
Butuh kesabaran kultural.
Butuh strategi sosial.
Butuh jembatan antara keyakinan dan kebiasaan.
Di situlah tradisi memainkan peran sentral. Ia menjadi simpul yang mengikat ajaran baru dengan kehidupan lama, tanpa memutus kontinuitas sosial.
Tanpa memahami proses panjang ini, kita mudah tergelincir pada dua sikap ekstrem: mengagungkan tradisi tanpa kritik, atau menolaknya tanpa memahami fungsinya. Padahal tradisi adalah hasil dialektika sejarah. Ia lahir dari kebutuhan, bertahan karena relevansi, dan menguat karena makna.
Maka ketika modernisasi membuat hidup semakin privat, ketika agama didorong menjadi sekadar urusan personal, kita perlu bertanya kembali: bagaimana dulu Islam menjadi identitas kolektif? Apa yang membuat desa-desa di Jawa dan Nusantara kukuh sebagai komunitas Muslim?
Jawabannya tidak hanya terletak pada kitab dan fatwa.
Jawabannya juga terletak pada tradisi.
Tradisi adalah simpul.
Simpul yang mengikat iman dengan ruang sosial.
Simpul yang menjaga agama tetap hadir dalam kebersamaan.
Simpul yang menahan identitas agar tidak tercerabut oleh arus zaman.
Dan untuk memahami simpul itu, kita perlu menelusuri kembali jejak sejarahnya.
Butuh waktu panjang untuk mengislamkan bangsa ini.
Proses itu bukan sekadar pergantian keyakinan individual, melainkan pergeseran peradaban. Ia melibatkan bahasa, simbol, kebiasaan, struktur sosial, bahkan rasa malu dan rasa bangga. Sejarawan seperti M. C. Ricklefs pernah menunjukkan bahwa islamisasi Jawa bukanlah peristiwa singkat, melainkan proses panjang—sekitar tiga abad—yang ditandai dengan pembentukan budaya transisi sebelum akhirnya masyarakat mengidentifikasi dirinya sebagai muslim.
Tiga ratus tahun adalah waktu yang cukup untuk melahirkan generasi demi generasi.
Cukup untuk mengubah arah angin sejarah.
Cukup untuk menjahit ulang makna hidup suatu bangsa.
Dalam rentang panjang itulah tradisi bekerja.
Ia tidak bekerja seperti fatwa yang turun seketika.
Ia tidak bekerja seperti ceramah yang menggelegar lalu selesai.
Ia bekerja pelan, repetitif, membumi, diwariskan lewat laku dan kebiasaan.
Tradisi adalah simpul.
Simpul yang mengikat nilai pada keseharian.
Simpul yang menahan agar identitas tidak tercerabut.
Simpul yang menyatukan keyakinan dengan kebudayaan.
Namun tidak semua kebiasaan bisa disebut tradisi. Tidak setiap produk budaya bertahan lintas generasi. Seperti pernah disampaikan oleh Bambang Pranowo, hanya praktik yang memiliki makna mendalam serta relevansi dengan kehidupan umatlah yang mampu bertahan menjadi tradisi. Yang tidak bermakna akan gugur oleh waktu. Yang tidak relevan akan ditinggalkan oleh generasi berikutnya.
Artinya, tradisi bukan sekadar romantisme masa lalu.
Ia lolos seleksi sejarah.
Islam dan Jalan Kultural
Ketika Islam datang ke Nusantara, ia tidak hadir dalam ruang kosong. Ia menjumpai masyarakat dengan kosmologi, simbol, ritus, dan struktur sosial yang telah mengakar. Maka pendekatan kultural menjadi keniscayaan.
Di Jawa, salah satu pintu masuk dakwah yang efektif adalah pemulasaraan jenazah. Kematian adalah momen paling sakral dalam siklus hidup manusia. Ia menghadirkan kesadaran akan keterbatasan. Ia meruntuhkan kesombongan. Ia membuka ruang bagi ajaran tentang akhirat.
Dari sinilah lahir tradisi-tradisi seputar kematian:
- Tahlilan
- Yasinan
- Doa bersama
- Kirim pahala
- Slametan kematian hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan seterusnya
Bagi sebagian orang modern, praktik ini mungkin tampak sederhana. Bahkan mungkin dianggap remeh. Namun pada masa awal islamisasi, ia adalah sekolah akidah yang berjalan tanpa papan tulis.
Di forum-forum itulah masyarakat awam belajar:
- Menghafal Al-Fatihah
- Menghafal Qulhu (Al-Ikhlas)
- Menghafal Al-Falaq
- Menghafal An-Nas
- Mengenal kalimat tahlil
Mereka mungkin belum mengerti ilmu kalam.
Belum mengenal kitab kuning.
Belum memahami fiqh secara sistematis.
Tetapi mereka terikat.
Terikat pada bacaan.
Terikat pada doa.
Terikat pada simbol Islam.
Tradisi menjadi jembatan antara ketidaktahuan dan ortodoksi.
Tahlilan sebagai Identitas Komunal
Dalam masyarakat Jawa dikenal tipologi sosial: abangan, santri, priyayi. Namun ada satu ruang di mana sekat-sekat itu melebur: tradisi komunal keagamaan.
Tahlilan, misalnya, bukan hanya forum doa. Ia adalah penanda identitas desa muslim. Pada masa kolonial, desa yang memiliki tradisi komunal seperti tahlilan menunjukkan kohesi Islam yang kuat.
Islam bukan hanya agama pribadi.
Ia adalah identitas kolektif.
Kesaksian sejarah kolonial menunjukkan hal itu. Dalam korespondensi seorang misionaris Belanda kepada pengurus pusat organisasi zending pada 15 Desember 1884, disebutkan bahwa struktur pemerintahan desa muslim dan tatanan ekonominya menjadi benteng kokoh yang sulit ditembus oleh misi kristenisasi.
Misionaris itu, J. Verhoeven, mengakui bahwa hidup berdampingan dalam satu desa antara muslim dan pengikut Kristus hampir mustahil untuk sementara waktu, karena kultur desa muslim menjadi pertahanan yang kuat.
Pernyataan itu bukan propaganda.
Ia adalah pengakuan dari pihak luar.
Apa yang membuat desa muslim begitu kokoh?
Bukan semata-mata kualitas teologi penduduknya.
Bukan pula karena seluruhnya taat ritual formal.
Melainkan karena Islam menjadi kultur resmi desa.
Orang bisa saja tidak shalat.
Bisa saja lalai puasa.
Tetapi ketika ada yasinan, semua hadir.
Ketika ada tahlilan, semua berkumpul.
Inilah paradoks yang sering disalahpahami.
Sebagian orang sinis berkata, “Apa gunanya ikut yasinan kalau tidak shalat?”
Pertanyaan itu terdengar logis. Tetapi ia lupa satu hal: bagi kaum awam, tradisi adalah simpul yang mengikat mereka dengan Islam.
Tanpa simpul itu, tali bisa terlepas.
Tradisi sebagai Sekolah Kolektif
Tradisi komunal memiliki fungsi yang jauh lebih dalam daripada sekadar ritual rutin. Ia adalah:
- Media internalisasi nilai
- Sarana transmisi hafalan
- Ruang perjumpaan sosial
- Mekanisme kontrol moral
- Identitas kolektif
Di ruang tahlilan, anak-anak melihat orang tuanya membaca doa.
Di ruang mauludan, remaja mendengar kisah Nabi.
Di ruang megengan, masyarakat diingatkan tentang datangnya Ramadan.
Ini bukan hal kecil.
Dalam sosiologi agama, kohesi sosial adalah faktor utama dalam mempertahankan identitas keagamaan. Ketika agama berhenti menjadi peristiwa sosial dan hanya menjadi pilihan individual, ia mudah digeser oleh arus lain: sekularisme, konsumerisme, bahkan nihilisme.
Tradisi menjaga Islam tetap hadir dalam ruang publik desa.
Ia mengumandangkan bahwa:
“Kita ini muslim.”
Bukan dengan spanduk.
Bukan dengan slogan.
Tetapi dengan kebersamaan.
Mauludan, Punggahan, dan Megengan
Selain tahlilan, terdapat banyak tradisi komunal lain yang mengikat masyarakat Jawa dengan Islam:
- Mauludan (peringatan kelahiran Nabi)
- Punggahan atau Ruwahan
- Megengan menjelang Ramadan
- Syawalan
- Sedekah bumi bernuansa Islam
- Selametan dalam berbagai fase kehidupan
Setiap tradisi itu memuat simbol dan pesan.
Mauludan menanamkan cinta Nabi.
Megengan menyiapkan jiwa menyambut puasa.
Ruwahan mengingatkan kematian dan doa untuk leluhur.
Tradisi ini bukan sekadar “acara”.
Ia adalah pedagogi sosial.
Memang, seiring meningkatnya akses ilmu dan pemahaman keagamaan, sebagian orang merasa tradisi-tradisi itu perlu disederhanakan. Penyederhanaan bisa jadi perlu. Setiap zaman memiliki konteks.
Namun perlu ditegaskan:
Penyederhanaan berbeda dengan penghilangan.
Menghilangkan tradisi komunal tanpa menggantinya dengan mekanisme kohesi sosial lain sama saja melepas simpul tanpa mengikat ulang talinya.
Dan tali yang terlepas akan mudah hanyut.
Narasi Bid'ah dan Disrupsi Kohesi
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul narasi yang sangat keras terhadap tradisi. Label “bid'ah” tidak lagi menjadi diskursus ilmiah, tetapi berubah menjadi semacam inquisisi sosial.
Tradisi dicurigai.
Tradisi diserang.
Tradisi dianggap penghalang kemurnian.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa tradisi komunal itulah yang justru menjaga kemurnian identitas Islam di desa-desa.
Ketika tradisi komunal melemah, apa yang terjadi?
Islam perlahan menjadi urusan pribadi.
Masjid kehilangan fungsi sosialnya.
Kegiatan bersama berkurang.
Dan ketika kohesi melemah, arus lain masuk tanpa perlawanan berarti:
- Sekularisasi gaya hidup
- Individualisme ekstrem
- Relativisme nilai
Bahkan upaya konversi halus melalui bantuan sosial dan relasi ekonomi
Tanpa simpul sosial, identitas keagamaan menjadi rapuh.
Saya tidak berbicara tentang mereka yang rutin mengaji dan memiliki fondasi kuat. Jumlah mereka, di banyak wilayah, tetap minoritas.
Yang saya maksud adalah mayoritas awam.
Mereka yang tidak membaca kitab tebal.
Mereka yang tidak mengikuti diskursus teologis.
Bagi mereka, tradisi adalah jangkar.
Jika jangkar itu diangkat, kapal mudah hanyut.
Tradisi dan Ortodoksi
Ada anggapan bahwa tradisi menjauhkan umat dari ortodoksi. Padahal dalam banyak kasus, tradisi justru menjadi pintu menuju ortodoksi.
Seseorang yang awalnya hanya ikut-ikutan tahlilan, lama-kelamaan belajar membaca Al-Qur'an.
Yang awalnya hanya hadir mauludan karena makanan, lama-lama mencintai Nabi.
Yang awalnya datang karena sungkan pada tetangga, akhirnya terbiasa dengan doa.
Tradisi adalah tahap awal.
Ia bukan tujuan akhir.
Ia adalah simpul pertama yang mengikat seseorang pada komunitas iman.
Dan dari simpul itu, jalan menuju pemahaman yang lebih dalam terbuka.
Islam sebagai Kohesi Sosial
Ketika Islam menjadi identitas kolektif desa, ia membentuk:
- Solidaritas sosial
- Kepedulian antarwarga
- Mekanisme gotong royong
- Sistem bantuan kematian dan hajatan
- Struktur kepemimpinan informal berbasis agama
Tradisi komunal memperkuat semua itu.
Tanpa Islam sebagai kohesi sosial, desa berubah menjadi kumpulan individu. Hubungan menjadi transaksional. Nilai digantikan kepentingan.
Islam tidak lagi menjadi “kita”.
Ia menjadi “saya”.
Dan agama yang sepenuhnya terprivatisasi mudah tergeser oleh ideologi lain yang lebih agresif dan sistematis.
Refleksi: Menjaga Simpul
Tradisi memang perlu ditinjau.
Ia tidak kebal kritik.
Ia tidak sakral secara mutlak.
Tetapi sebelum menghapusnya, kita perlu bertanya:
Apa yang akan menggantikan fungsi kohesinya?
Apa yang akan mengikat awam dengan Islam?
Apa yang akan menjaga identitas kolektif desa?
Jika jawabannya belum jelas, maka penghilangan tradisi adalah eksperimen sosial yang berisiko tinggi.
Kita boleh menyederhanakan.
Kita boleh memurnikan niat.
Kita boleh mengurangi beban ekonomi dalam hajatan.
Namun jangan memutus simpul.
Karena simpul itu yang selama berabad-abad menjaga Islam tetap hidup di ruang sosial Nusantara.
Sejarah telah membuktikan: Islam di Jawa bertahan bukan hanya karena argumentasi teologis, tetapi karena ia menjelma menjadi tradisi.
Tradisi adalah simpul antara iman dan budaya.
Simpul antara individu dan komunitas.
Simpul antara masa lalu dan masa depan.
Dan selama simpul itu dijaga dengan hikmah, Islam tidak hanya menjadi keyakinan di kepala, tetapi denyut dalam kehidupan bersama.
Tradisi adalah simpul.
Dan simpul itu, jika dilepas sembarangan, bisa membuat tali sejarah tercerai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar