Mengapa Frasa seperti “Percaya Sains” atau “Percaya Ramalan” itu Bermasalah
Pendahuluan: Masalah yang Tampak Sepele tapi Fundamental
Di ruang publik modern—media sosial, diskusi politik, perdebatan agama, bahkan percakapan santai sehari-hari—kita semakin sering menjumpai frasa seperti “percaya sains” dan “percaya ramalan.” Sekilas, kedua frasa ini tampak wajar, bahkan seolah hanya mencerminkan preferensi cara pandang seseorang terhadap dunia. Namun jika dicermati lebih dalam, frasa-frasa tersebut menyimpan problem filosofis, epistemologis, dan linguistik yang tidak kecil.
Masalahnya bukan terletak pada sains atau ramalan itu sendiri, melainkan pada cara bahasa bekerja membingkai pengetahuan. Bahasa bukan sekadar alat netral untuk menyampaikan realitas; ia membentuk realitas itu sendiri. Ketika suatu masyarakat mulai menyamakan cara bicara tentang sains dengan cara bicara tentang iman, atau menyederhanakan sistem simbolik ramalan menjadi klaim faktual yang harus “dipercaya atau ditolak,” maka yang sedang terjadi bukan sekadar kekeliruan istilah, tetapi kekacauan kategori berpikir.
Esai ini berangkat dari satu tesis utama:
frasa “percaya sains” dan “percaya ramalan” sama-sama bermasalah karena menyamakan hal-hal yang secara epistemologis, metodologis, dan fungsional berbeda. Akibatnya, kita kehilangan kejernihan berpikir—baik dalam memahami sains, tradisi simbolik, maupun posisi manusia sebagai subjek pencari makna.
I. Kata “Percaya” dan Beban Epistemologisnya
1. “Percaya” bukan kata netral
Kata percaya dalam hampir semua kebudayaan manusia mengandung makna yang dalam. Ia berhubungan dengan:
iman
keyakinan batin
komitmen eksistensial
penerimaan tanpa verifikasi langsung
Dalam konteks agama, percaya berarti mengikatkan diri pada sesuatu yang melampaui pembuktian empiris. Dalam konteks relasi antarmanusia, percaya berarti menyerahkan diri pada reliabilitas pihak lain meski tanpa jaminan mutlak.
Dengan demikian, percaya selalu mengandung unsur ketidakpastian yang diterima secara sadar.
Masalah muncul ketika kata ini dipindahkan secara sembrono ke ranah yang justru dibangun untuk meminimalkan ketidakpastian, seperti sains.
2. Ketika sains dijadikan objek “iman”
Sains, secara ideal, tidak menuntut kepercayaan personal. Ia menuntut:
pengujian
replikasi
kritik
falsifikasi
Seseorang tidak “percaya” pada hukum gravitasi sebagaimana ia percaya pada Tuhan atau ramalan. Ia mengakui validitas sementara suatu teori karena:
data mendukungnya
eksperimen konsisten
belum ada teori yang lebih baik menggantikannya
Ketika orang berkata “saya percaya sains,” sering kali yang terjadi adalah:
reduksi sains menjadi otoritas, bukan metode
pemindahan sains dari ranah kritis ke ranah dogmatis
Ironisnya, ini justru bertentangan dengan semangat sains itu sendiri.
II. “Percaya Sains” dan Bahaya Saintisme
1. Dari sains ke saintisme
Ada perbedaan besar antara sains dan saintisme.
Sains adalah metode terbuka untuk memahami realitas alam.
Saintisme adalah keyakinan bahwa hanya sains yang sah sebagai sumber kebenaran.
Frasa “percaya sains” sering kali—disadari atau tidak—menjadi pintu masuk saintisme.
Ciri-ciri saintisme antara lain:
menolak pertanyaan filosofis sebagai “tidak ilmiah”
menganggap etika, estetika, dan makna hidup sebagai ilusi
memperlakukan konsensus ilmiah sebagai dogma final
Dalam posisi ini, sains berhenti menjadi alat pembebasan intelektual dan berubah menjadi agama sekuler.
2. Bahasa sebagai alat hegemoni
Dalam wacana publik, “percaya sains” sering digunakan untuk:
membungkam diskusi
mendeligitimasi pertanyaan
memberi cap irasional pada pihak lain
Contohnya:
“Kalau kamu mempertanyakan ini, berarti kamu tidak percaya sains.”
Padahal, mempertanyakan adalah jantung sains itu sendiri.
Di sini, frasa “percaya sains” berfungsi bukan sebagai deskripsi epistemik, melainkan sebagai alat kekuasaan simbolik.
III. “Percaya Ramalan” dan Kesalahpahaman terhadap Tradisi Simbolik
1. Ramalan bukan sains tandingan
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah memperlakukan ramalan seolah-olah ia adalah:
sains primitif
prediksi empiris yang gagal
klaim faktual tentang masa depan
Padahal, dalam banyak tradisi:
ramalan bersifat simbolik, bukan literal
berfungsi sebagai alat refleksi, bukan alat prediksi presisi
beroperasi dalam ranah makna, bukan kausalitas mekanik
Primbon Jawa, astrologi klasik, tafsir mimpi Ibn Sirin, atau orakel Yunani tidak pernah dimaksudkan sebagai “ramalan cuaca versi mistik.”
2. Masalah frasa “percaya ramalan”
Ketika seseorang berkata “saya percaya ramalan,” ia sering dipahami sebagai:
menerima klaim masa depan secara mentah
menanggalkan nalar
menyerahkan diri pada takdir pasif
Namun ini sering merupakan karikatur modern, bukan representasi akurat praktik tradisional.
Masalahnya bukan pada ramalan, melainkan pada cara modern—yang sangat positivistik—memaksa semua sistem pengetahuan tunduk pada standar empiris yang sama.
IV. Kesalahan Kategori: Menyamakan yang Tak Setara
Masalah inti dari kedua frasa ini adalah category mistake.
Mari kita ringkas:
Sains
domain: empiris
fungsi: menjelaskan dan memprediksi fenomena alam
sifat: tentatif, korektif
Ramalan
domain: simbolik dan kultural
fungsi: memberi makna, arah, dan peringatan
sifat: interpretatif
Iman
domain: metafisis dan eksistensial
fungsi: memberi orientasi hidup
sifat: komitmen batin
Menggunakan kata percaya secara seragam pada ketiganya berarti:
mencampuradukkan level realitas
merusak kejernihan epistemologis
melahirkan konflik semu yang tidak perlu
V. Dampak Sosial dan Psikologis
Kesalahan bahasa ini bukan sekadar akademik. Ia berdampak nyata:
Polarisasi diskusi publik
Radikalisasi posisi (pro-sains vs anti-sains)
Penghinaan terhadap kearifan lokal
Dehumanisasi pencari makna non-empiris
Manusia akhirnya dipaksa memilih:
rasional atau bermakna
Padahal manusia membutuhkan keduanya.
VI. Merumuskan Bahasa yang Lebih Jernih
Daripada berkata:
❌ Saya percaya sains
lebih tepat:✅ Saya menerima kesimpulan ilmiah berdasarkan bukti terbaik saat ini
Daripada berkata:
❌ Saya percaya ramalan ini akan terjadi
lebih tepat:✅ Saya memaknai ramalan ini sebagai simbol atau peringatan etis
Bahasa yang jernih melahirkan pikiran yang jernih.
Penutup: Mengembalikan Sains dan Ramalan ke Tempatnya
Masalah besar zaman modern bukan kurangnya pengetahuan, melainkan kekacauan cara memahami pengetahuan. Dengan menyederhanakan sains menjadi objek iman dan merendahkan tradisi simbolik menjadi takhayul, kita kehilangan kedalaman sebagai manusia.
Sains tidak membutuhkan iman.
Ramalan tidak menuntut kepastian.
Manusia membutuhkan keduanya—dengan cara yang tepat.
Frasa “percaya sains” dan “percaya ramalan” bermasalah bukan karena niat di baliknya selalu salah, tetapi karena bahasa yang ceroboh melahirkan pikiran yang ceroboh.
Dan dari pikiran yang ceroboh, lahirlah dunia yang dangkal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar