---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 07 Februari 2023

LAKON LENGKUNG DADI RATU

 LAKON LENGKUNG DADI RATU


Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan


"Mengapa Lengkung yang awalnya bukan siapa-siapa, "minoritas", tak dianggap, tetapi sulit ditandingi pada akhirnya?"


Itu adalah pertanyaan utama dari rangkaian lakon ini.


Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan sebelumnya. Kini, pertanyaan itu kembali muncul setelah beberapa saat terakhir terjadi gonjang-ganjing yang cukup dahsyat, yang mengguncang, tidak hanya di dunia persilatan, tetapi juga di kalangan pewayangan, bahkan tembus kabarnya sampai kahyangan.


Bahkan tidak hanya ramai di lingkungan manusia, tetapi juga terdengar oleh makhluk lainnya, termasuk yang mendiami Selat Sunda, Selat Bali, dan Samudra Hindia.


Laut, angin, awan, juga.


Gonjang-ganjing termutakhir dikenal sebagai "JANGJING DURI" atau gonjang-ganjing Dua Februari. Alhasil, pasca peristiwa tersebut, Lengkung yang awalnya mulai terlupakan sebelumnya, selanjutnya kembali diingat, terutama tentang sejarah perjuangan Lengkung di masa lalu. 


Mungkin, Lengkung termasuk figur yang sulit lekang oleh gulungan waktu. Dan, apalagi kini, ia tampaknya masih akan menjadi sosok yang sulit ditandingi, pengaruhnya.


Mengapa Lengkung tampak begitu sangat kuat pengaruhnya? Alasan apa yang membuatnya sangat berbeda dari figur lainnya?


Selain karena nama besar atau reputasi para (dewa)guru-(dewa)gurunya ketika Lengkung belajar di Kadewaguruan yang berlokasi di Lereng Gunung Raung, ia memang sendirinya memiliki sepak terjang yang tidak bisa dianggap sebelah mata.


Karakter kepemimpinannya, terutama dalam memimpin dan mengasuh adik-adik seperguruannya, termasuk karakteristik yang cukup revolusioner pada zamannya. Belum pernah ada yang terpikirkan, bahkan mempraktikannya, sehingga sulit sekali untuk ditiru.


Tidak hanya kesadaran tentang kelebihan diri sendiri, ia menyadari kekurangan dan keterbatasannya. Oleh karena itu, untuk menjadi (nyaris) tak terkalahkan, ia sadar bahwa ia tidak bisa sendirian. Perlu dan penting sekali untuk dikelilingi oleh orang-orang yang cendekia dan prasetya.


Justru karena ia sadar bahwa ia memiliki kelemahan-kelemahan dalam banyak hal, orang-orang yang ia minta untuk membantunya, ia posisikan mereka bukan sebagai bawahan, meskipun secara usia dan pengalaman mereka terbilang di bawah Lengkung, melainkan ia berusaha memosisikan mereka sejajar dan setara.


Jika figur lain memandang bahwa konsepsi "prasetya" adalah dari "bawah" ke "atas", maka Lengkung memandang bahwa "prasetya" termasuk dari "atas" ke "bawah". Baginya, "prasetya" bukan soal siapa yang berada di posisi "atas" atau "bawah" dalam sebuah hierarki atau struktur, melainkan "prasetya" adalah tentang siapa yang lebih "cendekia". Jika yang "bawah" lebih "cendekia" daripada yang "atas", maka yang "atas" mesti "prasetya" kepada yang "bawah".


Besar kemungkinan, itu adalah salah satu alasan utama, mengapa Lengkung yang awalnya bukan siapa-siapa, "minoritas", tak dianggap, tetapi sulit ditandingi pada akhirnya. Meski awalnya seperti itu, ditambah Lengkung yang cenderung tak banyak bicara, tak suka berorasi di depan umum, tetapi kemudian ia menjelma menjadi figur yang "Ratu".


Mengapa "Ratu"? Mengapa bukan "Raja"?

Itu karena Lengkung dianggap ikon yang mewakili atau merepresentasikan "Divine Feminine". Lebih dominan aspek Feminine di dalam jiwa Lengkung, meski secara fisik-biologis jenis kelaminnya laki-laki tulen.


Pada jiwa Lengkung, karakter energi yang dominan adalah energi yang luhur, seimbang, memelihara, bijaksana, penuh kasih, berpusat pada kepentingan umum secara luas, berorientasi pada solusi, menyelaraskan dengan bumi dan benda langit, selaras dengan keberadaan semua kehidupan. Bersiap akan kehampaan, kekosongan, yang tak kenal kekhawatiran dan baik hati.


Selain itu juga seperti membangun sesuatu dengan senantiasa mempertimbangkan dampak jangka panjang dan dampak lingkungan, baik lingkungan hidup yang ditinggali manusia, lingkungan tumbuhan dan hewan, maupun makrokosmos secara lebih luas. Mengutamakan kerjasama daripada persaingan, kerukunan daripada perselisihan, menyebarkan kehangatan daripada menebar ketakutan.


Tak ketinggalan, memancarkan getaran rasa untuk mendukung "kemajuan" dan "kesuksesan".


Dengan kesadaran penuh untuk mengasuh, Lengkung mampu membentuk semacam lingkaran atom sampai partikel subatom, yang tersusun atas orang-orang yang "prasetya" dan "cendekia" yang menopang pengaruhnya.


Apa atau siapa yang merancang Lengkung untuk menjadi figur yang sangat berpengaruh?


Banyak alasan atau argumentasi bisa dikemukakan. Yang jelas, banyak pihak yang menghendaki itu terwujud. Tetapi mungkin jika digali lagi, yang lebih mendalam adalah "dukungan semesta" dan/atau "sambutan momentum". Ini juga termasuk yang sulit ditiru, bahkan sulit dipelajari karena sifatnya yang cenderung "terberi".


Alasan atau argumentasi selanjutnya, yang lebih bisa dirasionalisasi adalah, dibandingkan dengan figur lain, ia lebih peka membaca dan mempraktikkan manajemen sumberdaya (khususnya sumber daya manusia) secara strategis, dari rekrutmen dan seleksi hingga menempatkan sumber daya manusia di masing-masing posisi, di berbagai pos dan lini.


Beragam kesaksian dari banyak "orang-orang Lengkung" menyebutkan bahwa Lengkung tidak meninggalkan mereka, sekalipun mereka mengalami kebuntuan. Bahkan, jika secara hitung-hitungan "daya tampung" Lengkung terasa tidak muat, tetap saja Lengkung tidak meninggalkan mereka, tetap memperjuangkan mereka, memilih untuk berjuang bersama. Pengalaman ini yang mereka rasakan sendiri secara langsung, membuat mereka merasa wajib untuk menjaga keamanan dan keselamatan Lengkung, tanpa ia memerintahkan atau meminta mereka.


Alasan atau argumentasi terakhir adalah, lengkung cerdas dan cerdik, tanpa harus licik, dalam memilih guru, dalam berguru. Kalau mau diperhatikan betul-betul, genealogi, atau sanad, daripada Lengkung, adalah rangkaian yang tersambung kepada jaringan para (dewa)guru yang "tak tersentuh". Ajaran-ajaran, petunjuk, dan panduan para (dewa)guru tersebut sifatnya langka dan rahasia.


Dengan "spectrum" dan "branding" para (dewa)guru yang "standing position" dan "positioning"-nya terarah, kemudian itu "menetes" kepada Lengkung. Sehingga apabila potensi strategis itu menjadi aktual dengan konsolidasi yang matang, maka "persaingan menjadi tidak lagi relevan", dan jalan Lengkung untuk menjadi "Ratu" akan semulus karpet merah. Sepertinya, pengaruh Lengkung, masih belum akan pudar, dalam waktu dekat, di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar