PENDAHULUAN
Pengantar
Dalam beberapa jam terakhir, ada seorang mahasiswa UIN KHAS yang berdiskusi dengan saya secara jarak jauh. Ia mengungkapkan kegelisahan sosial tentang ketidaksetaraan dan feodalisme yang terjadi di masyarakat. Di akhir, saya sampaikan bahwa saya seperti "seorang pendekar tua" yang sudah lama beristirahat dari "dunia persilatan" kampus. Untuk itu, sebagai salah satu bentuk apresiasi, baik kepadanya maupun kepada orang lain yang mengalami kegelisahan sosial yang tidak jauh berbeda, saya sempatkan untuk "coret-coret", menyusun contoh tulisan analisis Marxis terhadap ketimpangan struktural terkini di Kampus UIN KHAS, berdasarkan penuturannya.
PEMBAHASAN
Kondisi intelektual di kampus UIN KHAS Jember saat ini mencerminkan adanya ketimpangan struktural yang terjadi akibat praktik-praktik subordinasi yang dilakukan oleh pihak kampus dan organisasi mahasiswa. Suara-suara mahasiswa yang tertindas dan dilecehkan tidak diakomodasi dengan baik, karena sistem dan struktur kekuasaan yang ada di kampus memihak pada kepentingan birokrasi. Akibatnya, kampus ini sedang dipenuhi dengan manusia-manusia yang cenderung bersifat hedonistik dan mengabaikan iklim intelektual yang ada.
Dalam perspektif Marxis, kondisi di kampus UIN KHAS Jember ini dapat dianalisis sebagai ketimpangan struktural yang muncul akibat adanya hubungan antara mahasiswa dan institusi kekuasaan yang bersifat paternalistik. Dalam teori Marxis, konsep ketimpangan struktural ini berarti adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang muncul akibat adanya struktur sosial dan politik yang tidak merata dalam masyarakat. Dalam hal ini, ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS Jember muncul akibat adanya hubungan kekuasaan yang tidak merata antara mahasiswa dan birokrasi kampus.
Dalam hubungan ini, birokrasi kampus memiliki kontrol penuh atas kehidupan mahasiswa di kampus, termasuk kebijakan-kebijakan yang mempengaruhi kebebasan berpikir dan bertindak para mahasiswa. Birokrasi kampus yang bersifat paternalistik ini memandang mahasiswa sebagai anak-anak yang perlu diatur dan diawasi secara ketat, sehingga mereka sering kali membatasi kebebasan mahasiswa dalam berorganisasi dan berpendapat. Mahasiswa menjadi hanya fokus pada kegiatan akademik dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan yang bersifat kritis dan politis.
Hal ini berdampak pada hilangnya iklim intelektual di kampus, di mana mahasiswa lebih fokus pada pencapaian nilai akademik daripada pada pengembangan pemikiran kritis dan kreatif. Selain itu, depolitisasi yang dilakukan oleh birokrasi kampus juga membuat mahasiswa kurang peduli pada kondisi sosial dan politik di sekitarnya, sehingga mereka tidak mampu menjadi agen perubahan yang kritis dan berpengaruh di masyarakat.
Dalam perspektif Marxis, kondisi seperti ini dapat diatasi dengan melakukan perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang ada, yang diwujudkan dalam bentuk gerakan sosial dan politik yang kritis dan radikal. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang aktif dan militan dalam memperjuangkan kebebasan berpikir dan bertindak, serta menuntut adanya perubahan struktur kekuasaan yang merata dan adil.
Selain itu, mahasiswa juga perlu memperjuangkan iklim intelektual yang kritis dan kreatif di kampus, di mana mereka dapat mengembangkan pemikiran yang lebih luas dan kritis, serta mampu mengaplikasikan pemikiran tersebut dalam kehidupan sosial dan politik di masyarakat. Dalam hal ini, penting bagi mahasiswa untuk membentuk jaringan intelektual yang kritis dan radikal, yang dapat menjadi basis perlawanan dan perubahan di kampus dan masyarakat secara umum.
Gaya hidup mahasiswa saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor budaya yang ada di sekitarnya. Misalnya, budaya kampus yang ada di lingkungan tempat tinggal mahasiswa, seperti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kampus, atau budaya masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa.
Salah satu contoh faktor budaya yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa adalah teknologi. Mahasiswa saat ini hidup di zaman yang serba teknologi dan informasi, sehingga gaya hidup mereka pun terpengaruh oleh teknologi. Misalnya, mahasiswa dapat menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan teman-temannya, mencari informasi akademik, atau bahkan untuk mempromosikan bisnis atau usaha mereka.
Faktor budaya lain yang mempengaruhi gaya hidup mahasiswa adalah kebiasaan dan perilaku yang dilakukan di lingkungan kampus atau masyarakat setempat. Mahasiswa dapat meniru perilaku yang dianggap populer atau mengikuti tren yang sedang berkembang di lingkungan mereka.
Selain itu, minat dan hobi juga dapat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki minat dalam olahraga, seni, atau kegiatan sosial mungkin memiliki gaya hidup yang berbeda dibandingkan dengan mahasiswa yang lebih menyukai kegiatan yang berhubungan dengan teknologi atau bisnis.
Dengan demikian, faktor budaya memiliki peran yang penting dalam membentuk gaya hidup mahasiswa. Mahasiswa perlu memahami budaya yang ada di sekitar mereka agar dapat mengembangkan gaya hidup yang sehat dan positif, serta dapat berkontribusi dalam masyarakat dengan baik.
PENUTUP
Kesimpulan
Dapat disimpulkan, ketimpangan struktural yang terjadi di kampus UIN KHAS memengaruhi kondisi dan pengalaman mahasiswa secara signifikan. Faktor-faktor seperti ketidakseimbangan dalam sumber daya, pembagian ruang, dan dukungan akademik, dapat menghambat kemampuan mahasiswa dalam mencapai tujuan pendidikan mereka.
Selain itu, faktor-faktor seperti kondisi ekonomi dan budaya juga memengaruhi pengalaman dan keberhasilan mahasiswa di kampus. Mahasiswa yang menghadapi kesulitan ekonomi dapat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, transportasi, dan peralatan belajar. Sedangkan perbedaan budaya dapat memengaruhi persepsi dan tindakan mahasiswa dalam konteks sosial dan akademik.
Rekomendasi
Rekomendasi Marxis untuk mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS antara lain:
1. Melakukan transformasi sistem kelembagaan kampus secara lebih menyeluruh. Transformasi kelembagaan yang hanya mementingkan infrastruktur tanpa memerhatikan kualitas SDM adalah akar dari ketimpangan struktural di kampus. Oleh karena itu, melakukan transformasi sistem kelembagaan menjadi lebih "sosialis" dapat membantu mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS.
2. Membentuk solidaritas di antara mahasiswa. Solidaritas di antara mahasiswa dapat membantu mengatasi ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS. Solidaritas dapat dibentuk melalui pembentukan kelompok atau organisasi mahasiswa yang memiliki tujuan dan aspirasi yang sama.
3. Mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam pengambilan keputusan. Mahasiswa harus diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di kampus UIN KHAS. Ini dapat dilakukan melalui pembentukan forum atau wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka.
4. Mengkaji ulang kurikulum dan sistem pembelajaran: Kurikulum dan sistem pembelajaran di kampus UIN KHAS harus dikaji kembali untuk memastikan bahwa mereka tidak menghasilkan ketimpangan struktural di antara mahasiswa. Mungkin perlu dilakukan perubahan dalam kurikulum dan sistem pembelajaran untuk memastikan bahwa hal tersebut adil dan inklusif.
5. Membangun kesadaran kelas. Perlu untuk mendorong pembentukan kesadaran kelas di antara mahasiswa. Mahasiswa harus menyadari bahwa mereka memiliki kepentingan bersama dan bahwa mereka dapat bekerja bersama untuk mencapai tujuan mereka. Kesadaran kelas juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa ketimpangan struktural di kampus UIN KHAS bukanlah masalah individu, tetapi merupakan masalah struktural yang harus diatasi bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar