---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 19 Juni 2021

"Saya, dulu, dik ...." "Lambe' Le' ...."



"Saya, dulu, dik ...." 

"Lambe' Le' ...."


Pernah mendengar atau mengucap ungkapan itu?

Atau bahkan familiar?


Jika kita di posisi generasi pendahulu, ungkapan seperti itu dapat menimbulkan kenikmatan.

Jika kita di posisi generasi pembaharu, ungkapan seperti itu dapat memunculkan penasaran, atau jika dosisnya terlalu tinggi, bisa menjadi kebosanan.


Penting untuk memperoleh gambaran, ingatan, pengetahuan, tentang generasi pendahulu. Jika diumpamakan naik kendaraan yang sedang melesat, maka masa lalu seumpama kaca spion yang berfungsi untuk melihat keadaan atau lalu lintas yang ada di belakang kendaraan, atau pada saat memundurkan kendaraan, ataupun untuk melihat kebelakang pada saat akan membelok/pindah lajur lalu lintas.


Namanya kaca spion, tidak perlu besar. Memandangnya juga tidak perlu lama. Kaca spion ukurannya kecil dan memandangnya sebentar saja. Memandang ke arah depan lebih penting. 


Tidak berhenti hanya sampai ungkapan di atas saja, perlu dilanjutkan dengan pertanyaan, apa dan bagaimana generasi pendahulu keren dan hebat, dan apa yang membuat sebagiannya turun dalam dinamika?


Bagaimanapun, dinamika adalah tentang gerak yang penuh gairah dan semangat dalam berproses di organisasi. Entah naik atau turun, entah lurus atau belok, entah bergairah atau apatis, entah aktif atau pasif.


Berhenti pada ingatan masa lalu pada akhirnya akan menyisakan nostalgia dan romantika sejarah tanpa mampu membaca situasi dan kondisi hari ini serta membaca peluang dan tantangan masa depan.


Mempelajari masa lalu dan mencukupkannya dengan mengenangnya demi masa lalu itu sendiri tak lebih dari stagnasi. Sebab, jangan sampai kemudian aktivis hanya tinggal aktivitas tanpa aktivisme.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar