"Guru-guru" "kami", "senior-senior" "kami", khususnya di pergerakan, kebanyakan adalah tipikal orang-orang yang tidak mudah mengajari "junior-junior"nya apalagi jika ditodong "adik-adik" untuk minta ajari. Kenalnya belum begitu kenal, enggan bangun komunikasi intensif, tiba-tiba ada ngomong “ajarin dong, kak?!", minta ajari ini-itu.
Saya sebagai seorang yang nututi generasi sebelum generasi se-leting kami dan nututi juga generasi X, Y, Z, sebetulnya mencari jalan tengah untuk menjembatani perbedaan antara generasi sebelum saya dengan generasi setelah saya. Jadi, bukan seperti kakak-kakak yang tidak mau "ditodong", saya mau, asalkan, syaratnya, harus antusias!
Sekali lagi, harus menunjukkan sikap ANTUSIAS. Percuma di lisan bilangnya ingin belajar, ingin diajari, tapi ternyata sikap dan perilaku menunjukkan sebaliknya, menunjukkan sikap kurang antusias. Antusias merupakan salah satu indikator dari sikap rasa ingin tahu.
Rasa ingin tahu merupakan salah satu dimensi dari sikap ilmiah yang terbagi menjadi beberapa indikator, diantaranya yaitu: antusias mencari jawaban/bertanya, perhatian pada obyek yang diamati, antusias pada proyek ilmiah dan menanyakan setiap langkah kegiatan.
Lebih dari itu, sikap antusias dapat ditingkatkan menjadi MENGHARGAI karya orang yang telah mengajari, baik itu mengutip perkataan dan ungkapannya, meniru dan meneladani sikap dan tindakan, mengutip dan membagikan artikel tulisannya entah cetak atau tautan (link). Menghargai di era media sosial bisa berteman atau follow akunnya, mention atau pos ulang (repost).
Jaman makin canggih, sikap antusias dan menghargai tidak harus bertemu secara langsung. Jaman serba gampang, bukan berarti menggampangkan kontribusi. Rasa ingin tahu yang indikatornya adalah sikap antusias merupakan jendela awal untuk melihat pencapaian selanjutnya, menghargai di awal akan berkontribusi pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar