---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 08 Januari 2019

Urusan Pemilihan Rektor IAIN Jember, Tonton saja!



Oleh: M. Q. Aynan

Isu mengenai pemilihan rektor baru IAIN Jember tahun ini sudah saya dengar, meskipun hanya bisikan-bisikan, sejak sekitar setahun yang lalu. Pemilihan rektor baru tentunya merupakan hal yang sensitif, mengingat  jabatan itu adalah jabatan kelas satu. Meski demikian, dalam menyikapi hal tersebut terdapat beragam tanggapan dari mahasiswa IAIN Jember sendiri.

Ada sebagian kecil mahasiswa yang peduli dengan pemilihan rektor karena menyadari besarnya dampak yang akan ditimbulkan. Meski yang nantinya terpilih hanya satu orang, akan tetapi dari satu orang itulah kemudian jajaran para pejabat sampai ke tingkat bawah sangat ditentukan. Selain itu, tiap calon jelas menyimpan wajah-wajah yang tersembunyi.

Di sudut yang lain, ada pula para mahasiswa yang entah itu tidak peduli atau karena tinggal di gua, tidak tahu-menahu mengenai pemilihan rektor baru. Beberapa yang tidak peduli diketahui mempunyai alasan karena belum selesai dengan urusannya sendiri, entah karena terlalu jenuh disebabkan UAS yang terlalu menumpuk akibat akreditasi, atau karena memiliki aktivitas lain selama liburan. Itu masih lebih baik daripada mengantri kue kekuasaan tapi akhirnya telanjur dilahap. Yang lain, tergilas oleh paradoks yang timbul akibat teknologi informasi. Paradoks itu adalah di satu sisi terdapat kemudahan akses informasi, tetapi di saat yang sama karena terlalu melimpah, akhirnya kebingungan untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

Tentu, pemilihan rektor baru adalah hal yang tidak buruk bagi civitas akademika. Kampus jelas diuntungkan sebagai lembaga pendidikan tinggi. Apalagi, kampusnya Islami, berstatus negeri pula. Orang-orang yang berhasrat memimpin dan berkuasa juga memiliki kesempatan untuk mencicipi citarasa rektorat kampus yang konon menjadi pusat kajian dan pengembangan Islam Nusantara. Mereka yang sebelumnya hanya menunggu sambil mengambil ancang-ancang, kini tiba lah tanggal mainnya.

Nah, bagi para mahasiswa yang tidak tahu-menahu serba-serbi pemilihan rektor baru ini, memalingkan wajah adalah gerakan yang jos sekali. Rezim pemilihan jelas punya watak yang oligarkis. Tidak tahu-menahu dalam konteks ini bisa diartikan hilangnya kepercayaan pada produk pemilihan, bahkan pada titik tertentu, pemilihan apapun. Toh, nantinya keputusan tetap berada dalam genggaman Menteri Agama, bukan?

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Kalau melihat "zaman", tak perlu lah jauh-jauh ke urusan pemilihan rektor baru, apalagi kalau sampai mengorganisir massa. Sekarang kan zamannya buat start up, buat acara motivasi, buat seminar anti-pacaran, buat seminar nikah muda, atau apalah. Diskusi ideologi, tak perlu. Toh, ideologi sudah mati. Tak perlu bertanya siapa nanti yang akan jadi rektor baru. Kita tonton saja. Bukan menonton pemilihan rektor, tonton saja anime Jepang atau drama Korea. Ngomong-ngomong, Memories of Alhambra ongoing. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar