---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 17 Februari 2024

"Nelangsa Ning Melarat, Lebur Dening Tirakat"

"Nelangsa Ning Melarat, Lebur Dening Tirakat"


Ada beberapa hal menarik dari debat capres kelima pada Ahad (4/2/2024). Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah ketika salah satu calon presiden, yaitu Anies Baswedan, menutup debat capres pada Pilpres 2024 dengan pepatah Jawa kuno. Hal serupa juga pernah diungkapkan Presiden Joko Widodo sembilan tahun lalu. 


Dalam pidatonya, Anies mengatakan bahwa perlu ada perubahan agar masyarakat keluar dari jerat kemiskinan. Dia kemudian mengutip surah Ali-Imran ayat ke-26, yang isinya menceritakan bahwa Tuhan dapat memberikan dan mencabut sesuatu dari umatnya.


“Sehingga itu kami dalam berjuang mengalami betul dengan cinta kasih, welas kasih, ketulusan menjadi bagian dari perjuangan ini,” kata Anies dalam debat capres kelima di Jakarta Convention Center Jakarta (JCC), Ahad (4/2/2024).


Anies Baswedan pun mengucapkan terima kasih kepada aparatur sipil negara, pihak kepolisian, dan TNI yang telah banyak berjasa. Dia menjanjikan kehidupan lebih baik kepada mereka.


Dia mengakui bahwa banyak cobaan yang dihadapinya untuk melakukan perubahan. Dia berjanji tidak akan melawan hal tersebut dengan kekerasan. Dia pun mengutip ungkapan berbahasa Jawa.


"Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, bahwa segala hal angkara murka akan kalah oleh kebaikan. Merah putih di atas semuanya, penghormataan kepada kebhinekaan akan menghantarkan kita, yang kita ikhtiarkan menjadi Indonesia yang cerdas, sejahtera, dan sehat,” ucapnya.


Pepatah Jawa yang dikutip Anies ini mirip dengan yang disampaikan oleh Jokowi sembilan tahun silam. Kala itu Jokowi menunggah pepatah tersebut pada akun Facebook-nya. 


Dia mengunggah pepatah itu pada 25 Januari 2015. Unggahan tersebut jeda 3 bulan sejak Jokowi dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober 2014. Kala itu tensi politik masih panas. Residu pilpres yang mempertemukan Jokowi-Jusuf Kalla vs Prabowo-Hatta Rajasa. Jokowi memenangkan kontestasi Pilpres periode 2014-2019.


Pengertian secara umum kalimat “Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti adalah semua bentuk angkara murka yang bertahta dalam diri manusia akan sirna dengan sifat lemah lembut, kasih sayang yang didasari dengan manembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.


“Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti” muncul pertama kali (setidaknya dalam literatur-literatur yang masih bisa diakses) dalam Serat Ajipamasa atau Serat Witaradya, karya Ronggowarsito. Serat ini merupakan salah satu serat yang berkaitan dengan pemerintahan. Banyak kalangan pada umumnya berkesimpulan bahwa ungkapan ini lebih berisi pada pengajaran etika moral dan tata susila orang Jawa.


Ungkapan "Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti” terdapat dalam salah satu bait dalam pupuh Kinanthi dari serat Witaradya. Serat tersebut dilantunkan dengan tembang kinanthi dan berbunyi sebagai berikut :


Jagra angkara winangun

Sudira merjayeng westhi

Puwara kasub kawasa

Sastraning jro wedha muni

Suro diro joyoningrat

Lebur dening pangastuti


Artinya :


Orang yang karena keberanian dan kesaktian yang tidak pernah terkalahkan,

akhirnya tidak kuat memegang kekuatan dan kekuasaan,

sehingga tumbuh sifat angkara (kebencian, kemarahan, keras hati),

dan disampaikan dalam kitab,

sifat angkara tersebut (kebencian, kemarahan, keras hati),

dapat dikalahkan dengan kelembutan, kesabaran dan kebijaksanaan.


Bait-bait tersebut cukup merepresentasikan hubungan Ronggowarsito dengan Keraton yang penuh konflik. Sebagai pejabat internal, Ronggowarsito merasa sulit menentang kebijakan Keraton yang kontras. Hal ini disimpulkan karena Keraton terlibat dalam intrik yang rumit dan posisinya yang sulit ditandingi. Tanpa kemampuan untuk menghadapi secara langsung, Ronggowarsito menggunakan sastra sebagai alat perlawanan. Karya-karyanya sering mengandung sindiran dan kritik terhadap Keraton. Dikarenakan dianggap dapat membangkitkan perlawanan massa, Belanda berusaha memprovokasi Keraton untuk memusuhi Ronggowarsito. Perlawanan Ronggowarsito melalui sastra menjadi strategi utamanya dalam melawan pemerintah Keraton.


Ungkapan "Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti" menyiratkan bahwa strategi perlawanan atau perubahan cenderung dilakukan secara bertahap dan tanpa kekerasan. "Suro Diro Joyoningrat" mengacu pada kekuatan, otoritas, atau struktur, yang kuat, sementara "Lebur Dening Pangastuti" menggambarkan perlawanan atau gerakan perubahan, yang lebih halus atau lembut, untuk mengatasi atau merespons kekuasaan tersebut.


Saya merasa terhubung dengan ungkapan tersebut, terutama karena dua alasan yang mencolok bagi saya. Pertama-tama, sebagai seseorang yang tertarik pada filsafat, saya selalu terpikat oleh ungkapan-ungkapan yang memiliki kedalaman filosofis, tanpa memandang bahasa asalnya. Kedua, saya menemukan bahwa situasi yang dihadapi oleh Ronggowarsito memiliki kesamaan dengan situasi yang saya alami, meskipun tentu dengan banyak perbedaan yang mencolok. Saya merasakan adanya ketimpangan yang diakibatkan oleh struktur sosial di sekitar saya, mirip dengan apa yang dirasakan oleh Ronggowarsito. Namun, perbedaannya terletak pada sasaran ungkapan kita: jika ungkapan "Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti" ditujukan kepada mereka yang berada dalam struktur kekuasaan, ungkapan "Nelangsa Ning Melarat, Lebur Dening Tirakat" yang saya ciptakan lebih mengarah kepada mereka yang belum atau tidak terikat dalam struktur tersebut.


Dengan menciptakan ungkapan baru ini, saya berupaya untuk menyoroti pengalaman dan perasaan individu yang mungkin berada di luar struktur kekuasaan tetapi tetap terpengaruh olehnya. Ungkapan tersebut mencerminkan semangat untuk merespons ketidakadilan sosial dengan kesederhanaan dan ketekunan, serta menawarkan pandangan alternatif terhadap kondisi yang sulit. Dengan demikian, saya merasa bahwa ungkapan tersebut merupakan bentuk ekspresi diri yang kuat dan relevan dalam menghadapi realitas sosial yang kompleks dan beragam.


Ungkapan "Nelangsa Ning Melarat, Lebur Dening Tirakat" mengandung arti tentang pentingnya ketekunan lahir-batin dalam menghadapi tantangan hidup. Dalam pandangan ini, kesengsaraan, penderitaan, dan kemiskinan, bukanlah akhir dari segalanya, tetapi merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan hubungan dengan alam semesta.


Kesengsaraan, penderitaan, dan kemiskinan, dapat menjadi pelajaran berharga dalam proses pertumbuhan spiritual seseorang, bagi ia yang mau mengambil pelajaran. Dalam menghadapi tantangan, saya diajarkan untuk tetap teguh dalam prinsip-prinsip keselarasan lahir-batin dan pantang untuk menyerah pada keputusasaan. Melalui usaha keras dan ketekunan secara lahir dan batin, seseorang dapat meleburkan kesengsaraan dan meraih pencapaian lahir dan kedamaian batin.


Menurut saya, "Nelangsa Ning Melarat, Lebur Dening Tirakat" memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan dan kesulitan ekonomi, ungkapan ini mengingatkan kita untuk tetap teguh dalam prinsip-prinsip keselarasan lahir-batin. Dengan keselarasan lahir-batin, kita dapat mengubah kesengsaraan menjadi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi, baik materi maupun spiritual.


Melalui ketekunan dan upaya yang gigih, kita dapat mengubah kesengsaraan menjadi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi, baik dari segi materi maupun spiritual. Dengan demikian, mari kita terus berusaha dengan tekad yang bulat, dan dengan dukungan keselarasan lahir-batin, kita dapat mengatasi setiap rintangan dan meraih kedamaian serta kebahagiaan yang sejati dalam hidup ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar