Perguruan tinggi adalah tempat penting dalam membentuk generasi muda menjadi anggota masyarakat yang tanggap, kritis, dan aktif. Namun, seringkali dalam upaya ini, sebagian orang terjebak dalam doktrin "trifungsi mahasiswa" yang bagi saya tidak lebih dari sekedar omong kosong.
Saya tidak sejalan dengan aktivitas dan perilaku politik (sebagian) mahasiswa yang berlebihan, yang justru tidak membangkitkan kekuatan penalaran individu. Terlalu sering, aktivitas dan perilaku politik mahasiswa terfokus pada berbicara dan mempropagandakan pandangan tanpa disertai analisis mendalam.
Mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas politik berlebihan mungkin cenderung mengikuti arus dan mendukung gagasan tanpa benar-benar mempertimbangkan implikasi dan dasar dari pandangan tersebut. Terlalu banyak waktu dan energi yang dihabiskan untuk aktivitas politik yang berlebihan dapat mengalihkan perhatian dari urusan lain.
Mahasiswa mungkin menjadi terlalu terlibat dalam politik sehingga mengorbankan waktu yang seharusnya digunakan untuk pembelajaran dan pengembangan diri yang lain. Sebagian, atau mungkin malah banyak, mahasiswa ketika sudah lulus, kompetensi yang berkaitan dengan program studinya sendiri, tanggung. Belum lagi misalnya, mereka tidak atau belum memiliki keterampilan khusus yang sifatnya teknis, seperti mengoperasikan Microsoft Office, Desain Grafis, Editing Video, dan lainnya.
Doktrin "trifungsi mahasiswa," yang menggambarkan mahasiswa sebagai "agent of change," "agent of analysis," dan "agent of social control," sering kali terdengar megah namun seringkali kosong. Penerimaan mahasiswa baru seringkali didoktrin dengan kata-kata ini tanpa menggali maknanya yang sebenarnya. Saya merasa skeptis terhadap aplikasinya yang terlalu berlebihan tanpa bukti konkret.
Salah satu kelemahan utama dari konsep "trifungsi mahasiswa" adalah ketidakjelasan dalam mendefinisikannya secara konkret. Ketika mahasiswa diharapkan menjadi "agent of change," apa yang sebenarnya diharapkan dari mereka? Perubahan seperti apa sebetulnya yang dikehendaki? Siapa saja yang akan terlibat dalam perubahan tersebut? Berapa lama perubahan tersebut akan berlangsung? Seberapa luas cakupannya? Serta masih terdapat pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Istilah "agent of social control" juga dapat menimbulkan pertanyaan tentang pengendalian dan pengawasan oleh mahasiswa. Siapa yang masyarakat yang mau dikontrol? Civitas akademika? Atau masyarakat yang tinggal di sekitar kampus? Intinya, doktrin seperti ini terlalu ambisius. Too good to be true. Beberapa perubahan sosial yang kompleks memerlukan pengetahuan, sumber daya, dan dukungan yang mungkin tidak selalu tersedia kepada mahasiswa.
Saya percaya bahwa fungsi atau peran mahasiswa dalam perguruan tinggi dan masyarakat, berbeda dengan doktrin trifungsi tersebut. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian yang sehat, termasuk etika, empati, dan rasa tanggung jawab sosial. Mereka juga harus berperan dalam berpikir analitis dan sintetis, melampaui retorika politik yang sering mengaburkan pemikiran kritis.
Dalam pandangan saya, mahasiswa adalah pribadi penganalisis (person of analysis) yang mampu mengeksplorasi permasalahan dengan kritis dan rasional. Mereka juga harus menjadi pribadi rapat umum (person of public meeting), aktif dalam forum yang membahas nasib publik. Ini bisa mencakup rapat terbuka untuk publik atau bahkan diskusi akademis yang konstruktif.
Menurut saya, istilah person of analysis lebih tepat daripada agent of analysis. "Person of analysis" lebih menekankan pada peran mahasiswa sebagai individu yang aktif dalam mengembangkan keterampilan berpikir kritis, terlepas dari apakah ia berada di dalam struktur (sosial/organisasi) tertentu atau tidak, sementara "agent of analysis" menyoroti lebih pada entitas eksternal yaitu struktur (sosial/organisasi) tertentu. "Agent" dapat memiliki konotasi relasi dengan eksternal dirinya atau intervensi, seperti bekerja atau melayani entitas tertentu, yang tidak selalu sesuai dengan peran mahasiswa dalam pengembangan pribadi mereka sendiri.
Untuk "person of public meeting", mahasiswa yang menjadi "pribadi rapat umum" diharapkan untuk aktif dalam forum diskusi dan dialog yang terbuka. Ini menciptakan pengertian yang jelas tentang peran mereka dalam berpartisipasi dalam perdebatan dan diskusi yang mempengaruhi masyarakat, baik dalam diskusi akademik, membahas diskursus tertentu, maupun dalam rapat koordinasi. Mahasiswa yang aktif dalam rapat terbuka atau forum diskusi lebih mungkin untuk melihat dampak langsung dari partisipasi mereka dalam pembahasan masalah sosial, politik, atau akademik. Ini memberikan pengalaman praktis dalam berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dan perdebatan.
Fungsi atau peran mahasiswa dalam perguruan tinggi harus dilihat sebagai pengembangan individu yang mampu berpikir analitis, mendorong demokrasi yang sehat, dan melestarikan nilai-nilai budaya. Kita perlu memandang mereka sebagai calon pemimpin masa depan yang tanggap terhadap perubahan dan memiliki keterampilan analisis yang kuat. Itu adalah visi yang lebih kaya dan relevan dalam membentuk masyarakat yang lebih baik.
Tulisan ini adalah refleksi pribadi dan tidak dimaksudkan untuk menggugurkan pandangan lain tentang fungsi atau peran mahasiswa. Namun, kita harus selalu bertanya, apakah doktrin yang memapar dalam pendidikan tinggi benar-benar merupakan gambaran jelas atau sekedar jargon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar