Medan, peta, dan arah, biasanya berkaitan dengan pengetahuan tentang posisi, jarak, atau lainnya, baik darat, laut, udara. Pengetahuan itu adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah perjalanan, baik pada medan sebenarnya maupun pada peta.
Bergerak atau menggerakkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain baik melalui darat dengan kendaraan beroda, melalui jalur laut dengan pelayaran, maupun melalui udara dengan penerbangan, memerlukan pengetahuan untuk menempatkan haluan atau arah gerak.
Kemampuan membaca dan memahami medan menggunakan peta, menggunakan alat baca untuk menentukan posisi serta menganalisis dan memberikan asumsi awal terhadap medan yang dilalui merupakan salah satu dari keahlian dasar yang perlu dimiliki oleh setiap penggiat alam bebas, entah itu gunung, hutan, atau lainnya.
Kampus sebagai "alam bebas", dimana segala kemungkinan dapat terjadi, tentunya perlu diidentifikasi dan dianalisis medannya menggunakan peta. Berbeda dengan medan dan peta biasanya yang memetakan medan alam, maka memetakan medan kampus berarti memetakan manusia.
Medan, peta, dan arah dalam konteks medan kampus berarti berkaitan dengan pengetahuan tentang posisi, batas, atau lainnya, tentang sumberdaya manusia di kampus. Pengetahuan itu adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah gerakan, baik pada medan fisik yang bersifat konkret maupun pada peta non-fisik yang lebih abstrak.
Hal tersebut merupakan bekal awal dalam merencanakan dan melakukan kegiatan di "alam bebas" kampus maupun dalam usaha perlindungan sumberdaya manusia atau penyelamatan korban yang tersesat. Oleh karena itu, perlu pemahaman dasar yang dapat digunakan untuk mempelajari dan berlatih lebih lanjut mengenai ilmu medan, peta dan arah gerakan di kampus.
Medan, yang akan dibuatkan peta nantinya, paling tidak, pertama adalah waktu dan tempat. Waktu berarti retrospeksi masa lalu, keterangan saat ini, dan proyeksi masa depan. Tempat berarti skala perorangan, kelompok, rumpun prodi, rumpun fakultas, sampai satu kampus.
Selain itu mungkin terdapat informasi tambahan untuk memudahkan penyusunan peta baik dari unsur – unsur yang dibuat maupun bersifat alami. Perlu juga diperhatikan koordinasi tiap unsur atau elemen. Selanjutnya, dapat diidentifikasi apakah medannya "tinggi" atau "rendah" dalam arti tingkat ketercapaiannya, apakah terjal atau landai, mana yang pokok mana yang turunan, mana yang dahulu mana yang belakangan, dan seterusnya.
Peta dapat dimengerti sebagai gambaran unsur – unsur, dalam konteks ini berarti yang sifatnya buatan,yang berada di luar, dapat diamati, atau di dalam, berarti perlu digali, dan digambarkan, seringkali menggunakan bagan atau peta konsep dengan proyeksi tertentu dalam ukuran yang dibuat lebih sederhana yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara konseptual maupun di medan.
Peta kampus bisa bermacam-macam, berdasarkan penggunaan, seperti peta dasar yang berisi informasi dasar sederhana untuk membuat peta turunan, perencanaan maupun pengembangan medan. Selanjutnya adalahpeta tematik yang berisi tema, topik, isu tertentu dan untuk kepentingan tertentu dengan menggunakan peta dasar untuk memetakan turunan tematiknya.
Peta komunikasi, menampilkan informasi jaringan komunikasi interpersonal dan intraorganisasi.Peta geografi, berisi asal daerah dari medan. Peta demografi, berisi struktur dan distribusi tentang usia, jenis kelamin, etnis, serta jumlah penduduk tetap atau berubah. Peta psikografis berisi kepribadian, sifat, sikap, gaya hidup, minat atau ketertarikan, nilai atau kepercayaan, latar belakang pendidikan, dan lainnya. Ada peta tambahan yang bisa dikatakan independen bisa pula dikatakan dipengaruhi oleh peta lain sebagaimana disebutkan yaitu peta genealogis.
Nah, setelah mengidentifikasi dan menganalisis medan, disusun juga peta, maka muncul pertimbangan awal untuk menentukan haluan dan arah gerak. Dapat ditemukan dalam medan dan gambarannya dalam peta apakah objek tersebut satu bingkai, kerangka, posisi, atau tidak. Ketika sudah ketemu, dapat ditentukan kemana arahnya. Kemana akan mengarahkan gerak dalam medan dan peta gerakan.
Dalam keadaan sebenarnya, sering kali strategi atau taktik tertentu tidak selalu dapat dilakukan seperti karena faktor dinamika atau tidak teramatinya tanda pergerakan medanyang dapat dijadikan acuan. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah dengan melakukan analisis ulang dan penyusunan ulang peta untuk kemudian dapat dibandingkan hasilnya dengan medan biasanya.
Oleh karena itu, biasakan, sekali lagi, biasakan dan ulangi terus-menerus untuk mempelajari, mengamati, dan melakukan sebanyak mungkin analisis medan dan memetakan ulang selama proses menemukan haluan serta melakukan pemeriksaan asumsi awal tadi dengan fakta yang didapatkan di lapangan.
Lapangan "alam bebas", namanya juga bebas, apapun bisa terjadi. Oleh karenanya, sifatnya dinamis, penuh dinamika. Semakin banyak dan sering membaca indikasi medan yang dilalui, semakin seseorang memahami pula tentang sifat dan tingkat kesulitan medan tersebut yang akan sangat berguna selama melakukan perjalanan terencana dalam situasi normal maupun manuver spontan dalam situasi darurat.
Intinya, tentang medan, peta, dan arah gerakan adalah ilmu praktis, yang hanya dapat terasah jika dipraktikkan langsung pada lapangan sebenarnya. Pemahaman mengenai teori dan konsep hanyalah membantu, memfasilitasi untuk memahami dasar-dasar gerakan, bukan menjamin kemampuan pemahaman dan keterampilan gerakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar