---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 28 Januari 2020

Setelah Pertarungan Besar di Lembah Air Mancur



M. Q. Aynan

Sejak pertarungan besar antar pendekar di Lembah Air Mancur sampai hari ini, telah genap sepuluh tahun berlalu. Dalam satu dekade, diyakini bakal terjadi pertarungan besar yang menimbulkan tewasnya sejumlah pendekar. Adalah perguruan Bukit Legam, dari sejak didirikan hingga hampir terulang peristiwa satu dekade silam terus mengibarkan bendera ‘satu perguruan atau tidak sama sekali’ dan meneriakkan “tidak ada dua perguruan”


Dari mana asalnya ajaran itu? Mengapa di Lembah Air Mancur bisa muncul gerombolan ini? Apa inti ajaran itu? Kemana tujuan akhirnya? Terhadap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini, para pendekar mempunyai pendapat yang berbeda-beda, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencari jawabannya agar kutukan pertarungan besar sepuluh tahun sekali bisa gagal.

Setelah para pendekar berkumpul di gubuk Guru Besar Sareyang, mereka mendapat pencerahan bahwa inti dari gerombolan Bukit Legam adalah "Kawanan Kegelapan", ia terbentuk dari “Kebencian” dan terbuat dari kotoran yang tidak bisa didaur ulang dari ekosistem buatan, ia penuh benci dendam dan ingin memusnahkan golongan perguruan lain. Ia sama sekali tidak akan puas hanya dengan membunuh dengan jurus, senjata, atau racun, karena kematian dari tubuh fisik manusia bukanlah kematian yang sebenarnya dari sebuah kehidupan, raga masih akan bertransformasi; tetapi saat jantung-hati seorang manusia rusak sampai kondisi tidak ada penawarnya, maka nafasnya di tengah penderitaan tanpa batas, akan dihancurkan seluruhnya. Itu barulah hal yang paling menakutkan juga kematian sebenarnya dari sebuah kehidupan.

Sepuluh tahun lalu, setelah pertarungan besar, Guru Besar Sareyang memutuskan untuk mengasingkan diri tanpa memberi tahu kepada murid2nya kemana ia akan pergi. Seakan-akan seluruh pendekar yang masih hidup menganggap bahwa pertarungan besar sudah berakhir, dan ajaran kebencian telah musnah; bahkan pendekar dari gerombolan Bukit Legam menyerahkan diri bagai tak berdaya lagi. Namun situasi yang sebenarnya adalah, ajaran kebencian hanya bersembunyi saja, malah justru semakin menjadi api dalam sekam sebab kekalahan. Sebagian pendekar gerombolan itu secara sadar manganut ajaran kebencian, sebagian lagi dirusak oleh ajaran kebencian namun mereka sendiri tidak menyadari.

Menyebar luas secara terbuka ataupun menyusup secara diam-diam, ajaran kebencian memusnahkan golongan pendekar lain secara total adalah dengan merusak tradisi baik yang dibangun oleh para Guru Besar Pendiri Perguruan. Sejalan dengan perjalanan kehidupan perguruan2, sejalan pula dengan kepedulian yang mendalam terhadap dunia persilatan, Risalah Tujuh Mata Air ini, secara tersirat mengungkap kepada pendekar di dunia persilatan tentang ajaran kebencian dalam merusak tradisi baik dan menghancurkan keragaman demi ambisi mewujudkan akhir sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar